Sabtu, 13 November 2010

Apa itu Planet?

Saat sistem ekstrasolar belum ditemukan, perbedaan antara planet dan bintang dapat didefinisikan dengan jelas. Contohnya antara Jupiter dan bintang terkecil (75 kali massa Jupiter) keduanya dapat langsung dibedakan.

Montase Tata Surya. Kredit : NASA

Tahun 1995, planet pertama di bintang lain ditemukan dan semenjak itu sudah ada 495 planet di bintang lain yang ditemukan dengan massa 0.006 – 21 Massa Jupiter. Awalnya diperkirakan obyek-obyek tersebut merupakan bintang yang kecil sebagai bagian dari sistem bintang ganda, namun karakternya yang berbeda menunjukkan kalau obyek tersebut bukanlah bintang.

Pada tahun 2003, sebuah obyek mirip Pluto ditemukan di Tata Surya sekaligus menjadi pbyek paling jauh di Tata Surya. Sedna, benda yang berada di sabuk kuiper ini kemudia membawa para ahli untuk kembali mempertanyakan definisi planet? dan apakah Pluto itu planet atau bukan. Di tahun 2005, penemuan Eris memicu kembali perdebatan tentang definisi planet di kalangan astronom, sekaligus mengubah sejarah pendefinisian planet di Tata Surya maupun di bintang-bintang lainnya.

Dalam menentukan definisi planet, ada 3 area yang ditinjau yakni : Karakteristik fisik atau ukuran, Orbit, dan asal usul pembentukan.

Planet
Apa itu planet? berdasarkan kamus, planet adalah obyek langit yang bersinar karena memantulkan cahaya dari bintang dan bergerak mengelilingi bintang. Bagi masyarakat awam, planet adalah anggota tata surya yang bergerak mengitari matahari.

Bagi para pengamat langit, planet merupakan obyek langit yang tidak berkelap kelip seperti bintang karena planet tidak dapat menghasilkan cahaya. Namun bagi para peneliti, definisi planet tidak semudah itu. Hasil pengamatan selama bertahun-tahun yang disertai berbagai teori memberikan berbagai definisi tentang planet. Sebagian kutipan definisi planet tersebut sebagai berikut :

Geoffry W Marcy:
Planet adalah obyek yang memiliki massa antara yang dipunyai Pluto dan ambang pembakaran deutrium dan yang terbentuk dalam orbit di sekeliling obyek yang dapat membangkitkan energi melalui reaksi nuklir.

G H A Cole:
planet adalah sebuah benda dingin

Gibor Basri:
planet adalah non fusor yang sferis yang lahir dalam orbit disekeliling suatu fusor.

Alan Stern & Hal Levinson:
planet adalah benda keplanetan yang terikat dalam orbit sekeliling sistem multi bintang dan bintang tunggal.

Mike Brown
planet adalah obyek dalam tata surya yang lebih masif dari total massa obyek lainnya dalam orbit yang berdekatan atau sama.

Planet sendiri berasal dari kata Yunani “wanderer” atau “pengelana” yang merupakan obyek langit dingin, dan tidak menghasilkan energi. Planet hanya dapat memantulkan cahaya bergantung pada besar albedonya. Sebagai benda dingin, planet tidak memiliki sumber energi panas yang signifikan didalamnya dan tidak dipengaruhi oleh temperatur. Bila pada katai coklat dan bintang proses termonuklir menyuplai energi panas internal, pada planet energi panas diperoleh dari luar dirinya misalnya dari bintang induk. Selain itu kondisi interior planet, tidak cukup memadai untuk menyebabkan ionisasi atom-atom pembentuknya.

Problema Ukuran Sebuah Planet
Keberadaan Pluto sebagai planet semakin hari semakin terancam, bahkan seharusnya sejak awal Pluto tidak ditempatkan sebagai planet. Ukuran Pluto yang kecil bahkan kurang dari setengah kali ukuran planet lainnya, dengan orbit yang berbeda dari planet lainnya menyebabkan sebagian astronom menempatkannya sebagai bagian dari Sabuk Kuipert. Sabuk Kuipert diketahui keberadaannya pada tahun 1982 dengan anggota batu-batuan yang beku.

Menurut Michael A’Hearn, astronom dari University of Maryland dan mantan presiden divisi IAU’s Planetary Systems Sciences, “seandainya saja saat Pluto ditemukan (thn 1930), kita telah mengetahui adanya sabuk Kuipert, maka ia akan menjadi obyek raksasa Sabuk Kuipert”.

Pada awal tahun 1999, terjadi perdebatan di kalangan IAU saat Pluto diberikan dua status sebagai planet dan sebagai obyek trans-neptunian, mengacu pada lokasinya yang jauh. Namun status ini kemudian dibatalkan dan sampai saat ini kita masih mengenal Pluto sebagai salah satu planet dalam tata surya.

Dengan menggunakan perhitungan batas massa dari G.H.A. Cole berdasarkan komposisi pembentukannya, maka Pluto masih dapat dikategorikan sebagai planet. Demikian juga halnya dengan Varuna, Quouar, Ceres dan Sedna. Namun bagi mereka yang menganggap Pluto bukanlah planet, maka Sedna akan tetap dikenal sebagai planetoid.

Sistem Tata Surya berdasarkan klasifikasi baru. Kredit : IAU

Resolusi IAU 2006
Tahun 2005, Mike Brown dan timnya menemukan sebuah obyek yang lebih besar dari Pluto di area Sabuk Kuiper atau juga dikenal sebagai obyek trans-Neptunian. Keberadaan benda kecil yang awalnya dikenal sebagai 2003 UB313 menjadi pemicu perdebatan definisi planet. Pertanyaanya, dengan ukuran lebih besar dari Pluto, akankah 2003 UB313 atau yang sempat dinamai Xena ini akan menjadi planet ke-10?

Jika obyek yang kemudian resmi dinamai Eris ini menjadi planet ke-10, tentu akan ada sederetan benda-benda berukuran serupa di Sabuk Kuiper yang juga harus diperhitungkan sebagai planet. Maka, pada tahun 2006, dalam General Assembly IAU yang ke-26 di Praha, ditetapkanlah resolusi baru mengenai definisi planet :

  1. Memiliki orbit yang mengitari Matahari / bintang
  2. Memiliki massa yang besar agar gravitasinya cukup besar untuk mempertahankan bentuk bola
  3. Mampu membersihkan area sekeliling orbitnya dari benda-benda kecil.

Terkait syarat ke-3, menurut Hal Levison, ada dua cara planet membersihkan populasi benda kecil disekelilingnya :

  1. Planet bisa mengakresi benda-benda kecil tersebut
  2. Planet tersebut secara gravitasional melontarkan benda-benda kecil disekelilingnya keluar dari Tata Surya.

Resolusi IAU tersebut menghasilkan 3 kategori utama dalam Tata Surya :

  1. Planet : 8 obyek dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus
  2. Planet Katai : Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, Eris dan obyek bundar lainnya yang belum menyapu bersih lingkungan disekitar orbitnya, dan bukan merupakan satelit
  3. Benda Kecil di Tata Surya : semua obyek lain yang mengorbit Matahari.

Pada tahun 2008, IAU menetapkan nama Plutoid bagi obyek planet kerdil yang berada di luar orbit Neptunus atau yang juga dikenal sebagai trans Neptunian object. Plutoid merupakan benda langit yang mengorbit Matahari pada jarak lebih besar dari jarak Neptunus. Mereka memiliki massa yang cukup agar gaya gravitasi dapat mempertahankan bentuk bola. Kriteria lainnya adalah area di sekeliling orbit plutoid masih belum bersih dari obyek-obyek lainnya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kamis, 16 September 2010

Pertemuan Terdekat Jupiter Dengan Bumi

Masih ingat kejadian di bulan Agustus lalu kala isu Mars sebesar Bulan merebak? Kala itu masyarakat sempat salah persepsi dengan pasangan Bulan dan Jupiter di langit yang disangka sebagai planet merah Mars.

Planet Jupiter yang dipotret dari Lampung. Foto : Jeff Teng

Jupiter yang kala itu terlihat terang berpasangan dengan Bulan, masih akan tampak cerlang di langit malam di hari-hari ini. Planet raksasa tersebut akan tampak sepanjang malam karena ia terbit kala senja dan baru akan terbenam saat fajar menyingsing. Tapi apa istimewanya kalau si Raja Planet aka planet gas raksasa terbesar di Tata Surya itu tampak terang di langit?

Pada tanggal 21 September 2010, Jupiter akan mengalami oposisi dengan Matahari. Pada malam oposisi, Jupiter akan terbit tepat saat Matahari terbenam dan berada tepat di atas kepala saat tengah malam. Dan sangat mudah kok untuk mengenali Jupiter di langit. Ia akan menjadi obyek paling terang sesudah Bulan yang bisa dinikmati.

Bumi dan Jupiter dalam perjalanan mereka mengitari Matahari mengalami pertemuan setiap 13 bulan. Akan tetapi, karea orbit Bumi dan Jupiter tidaklah berbentuk lingkaran sempurna melainkan elips, setiap pertemuan jelas tidak akan memiliki jarak yang sama. Pada tanggal 20 September 2010, Jupiter akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 75 juta km dan baru akan kembali pada jarak sedekat itu di tahun 2022.

Nah, bagi anda yang memiliki teleskop, jangan lewatkan untuk menikmati piringan Jupiter dengan lebih detil. Karena jelas ada banyak fenomena menarik dari planet gas raksasa tersebut untuk dilihat. Yang pasti bisa dinikmati adalah Bintik Merah Raksasa, Sabuk Ekuator Selatan / South Equatorial Belt (SEB) yang beberapa waktu lalu menghilang dan diperkirakan bisa muncul kembali setiap saat.

Astronom amatir juga melaporkan sejumlah bola api yang tampak di atmosfer Jupiter. Keberadaan bola api tersebut merupakan tanda kalau ada banyak asteroid kecil atau pecahan komet yang sedang menghantam planet gas raksasa tersebut dan mereka meledak di awan. Para peneliti yang juga mengamati tabrakan-tabrakan di Jupiter menyatakan kilatan bola api itu masih akan sering terjadi setidaknya beberapa kali dalam sebulan.
Dan yang pasti akan bisa dinikmati oleh para pengamat langit adalah satelit-satelit di Jupiter yang juga ikut dekat dengan Bumi.

Kalau 400 tahun lalu Galileo hanya bisa melihat satelit Galilean (Io, Europa, Callisto dan Ganymede) tak lebih dari cahaya kecil dari kepala peniti, tentu dengan teleskop modern yang digunakan astronom amatir para pengamat langit bisa menikmati tanda berwarna dari piringan satelit-satelit tersebut.

Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan keindahan Jupiter di kala berada dekat dengan Bumi pada tanggal 20 September 2010 dan saat oposisinya tanggal 21 September 2010 dari dekat. Jupiter akan sangat mudah untuk ditemukan, dan meski cahaya lampu kota cukup mengganggu, yakinlah anda masih bisa mengenali si planet raksasa yang terang tersebut.

Clear Sky!.

Jumat, 10 September 2010

Air di Bintang Karbon

Air, komponen satu ini memang penting sebagai penopang kehidupan seperti yang kita kenal di Bumi. Karena itu berbagai penelitian dan pengamatan dilakukan untuk menemukan keberadaan air di alam semesta terutama pada planet yang serupa Bumi yang berada dalam area laik huni.

CW Leonis yang dilihat Teleskop Herschel. Kredit : ESA/PACS/SPIRE/MESS Consortia

Dalam pengamatan yang dilakukannya, Teleskop Herschel milik ESA berhasil mendeteksi keberadaan uap air di sebuah lokasi yang pada awalnya dianggap tidak mungkin ada uap air disana. Uap air tersebut dilihat ESA pada atmosfer bintang karbon raksasa merah.

Bintang Yang Mulai Menua

Dengan mempelajari berbagai fase dalam siklus kehidupan bintang, astronom dapat menyatukan proses yang memegang peranan dalam evolusi bintang serta interaksinya dengan lingkungan sekitar. Dari hasil mempelajari proses tersebut, bintang bermassa rendah yang tadinya biasa saja ( massa <>

Siklus kehidupan bintang bermassa rendah pada umumnya berakhir dengan mengerut dan bukannya sebuah ledakan. Jadi setelah waduk hidrogen dalam inti bintang terkonsumsi, bintang kemudian mulai menggunakan bahan bakar nuklir berikutnya yakni helium untuk diubah menjadi karbon. Setelah helium habis, bintang tidak dapat mencapai temperatur yang sangat tinggi untuk reaksi fusi nuklir elemen yang lebih berat. Bintang kemudian mulai mengembang (dengan pertumbuhan radius bintang sampai beberapa ratus sampai ribuan kali) dan memasuki tahap yang dikenal sebagai raksasa merah.

Pada tahap ini, bintang akan mengalami kehilangan massa yang cukup besar dan kemudian melontarkan lapisan terluarnya dan membentuk kerangka sirkumbintang yang terdiri dari debu dan molekul-molekul. Periode ini juga dikenal sebagai fasa Asymptotic Giant Branch, yang mengacu pada lokasi bintang dalam diagram Hertzsprung-Russell. Pada saat bersamaan, sisa reruntuhan bintang yang kaya dengan karbon dan oksigen akan terus berkontraksi dan berevolusi menjadi bintang yang lebih kecil yaitu bintang katai putih yang sangat panas.

Gas yang dilontarkan ke ruang antar bintang oleh angin bintang yang kuat dari bintang AGB ini justru kaya dengan elemen berat khususnya karbon dan oksigen. Kelimpahan kedua unsur ini berbeda dari bintang ke bintang.

CW Leonis
Bintang yang diamati Herschel, CW Leonis merupakan bintang paling terang (dalam cahaya infra merah) dan sekaligus merupakan bintang raksasa merah terdekat. Selain itu bintang ini juga memiliki selubung yang di dominasi oleh karbon. Lingkungan yang kaya karbon seperti ini jelas diharapkan dapat mengontrol sejumlah reaksi kimia organik. Dalam reaksi tersebut, hampir semua oksigen terikat dengan molekul karbon monoksida (CO) dan silikon monoksida (SiO)

Pada tahun 2001, berita mengejutkan datang dari hasil pengamatan CW Leonis yang dilakukan oleh Submillimetre Wave Astronomy Satellite (SWAS). SWAS mengungkap keberadaan uap air (H2O) di selubung bintang.

Air, molekul yang satu ini memang sangat penting dan menjadi elemen utama yang mendukung keberadaan kehidupan di Bumi. Dari sinilah berbagai penelitian dan pengamatan dilakukan untuk bisa mendeteksi keberadaan molekul yang satu ini.

Tanda yang dilihat SWAS pada garis spektrum yang ia ambil menunjukkan keberadaan molekul air dengan temperatur hanya 61 K, dan dengan demikian menempatkan air tersebut berada di bagian luar atau tepatnya di selubung bintang yang dingin.

Penjelasan yang diberikan astronom mengasumsikan kalau air tersebut muncul dari penguapan awan ataupun benda dingin seperti komet atau planet katai yang ada di sekeliling bintang. Akan tetapi dibutuhkan juga mekanisme lainnya yang bisa menjelaskan keberadaan uap air di selubung CW Leonis. Dan pendeteksian yang berasal dari satu garis tidaklah cukup untuk dijadikan bukti keberadaan uap air tersebut.

Pengamatan Herschel
November 2009, setelah teleskop Herschel bertugas dan mengamati CW Leonis dengan menggunakan spektrometer SPIRE dan PACS pada panjang gelombang 55 – 670 mikron. Hasilnya, Herschel melihat tidak hanya 1 melainkan berhasil mengidentifikasi 60 garis keberadaan air yang terkait langsung dengan sejumlah level energetik molekul.

Pendeteksian dari sebagian besar garis yang dipancarkan oleh molekul yang sama jelas memberikan informasi penting. Hal ini disebabkan karena setiap garis terkait dengan energi tertentu, dengan demikian mengarah pada temperatur tertentu. Banyaknya garis yang dilihat justru membantu untuk melacak sumber air tersebut di selubung antar bintang. Garis-garis yang terkait temperatur tinggi akan membawa informasi kalau molekulnya berada semakin dekat dnegan permukaan bintang.

Spektrum dengan presisi yang tinggi didapat dengan menggunakan spektrometer Herschel mengindikasikan temperatur pada 1000 K. Ini jelas menunjukan kalau air tidak hanya berada pada selubung terluar seperti diindikasikan pada data SWAS, namun juga ada pada selubung tengah dan dalam dari CW Leonis. Akibatnya, butuh mekanisme lain untuk menjelaskan bukti pengamatan baru tersebut.

Air Yang Dilihat Herschel
Untuk bisa memproduksi air pada lingkungan kaya karbon, atom oksigen harus dilepas dari molekul dimana ia terikat, dalam hal ini CO dan SiO untuk kemudian bergabung dengan hidrogen. Dalam kasus ini, dibutuhkan radiasi energetik dari foton ultra ungu / ultra violet (UV) untuk memisahkan molekul pembawa oksigen tersebut.

Ilustrasi pembentukan air di sekeliling bintang karbon. Kredit : ESA. Adapted from L. Decin et al. (2010)

Struktur selubung antar bintang yang tidak teratur dan cenderung bergumpal-gumpal inilah yang menyebabkan foton UV dari ruang antar bintang dapat masuk cukup dalam melalui selubung. Di dalam selubung foton UV akan memicu terjadinya rangkaian reaksi yang memproduksi air yang tampak tersebut serta beberapa molekul lainnya seperti Amonia (NH3).

Data dari herschel tak pelak menantang pengetahuan yang ada terkait kimiawi bintang yang terjadi di selubung bintang yang sedang menua. Sekaligus membawa para peneliti untuk melihat pentingnya fotokimia yang disebabkan oleh foton UV di lingkungan tersebut. Proses serupa juga bisa menjelaskan kondisi yang berlawanan, dalam hal ini keberadaan molekul kaya karbon di bintang AGB yang selubungnya didominasi oleh oksigen.

CW Leonis memang contoh pertama keberadaan air di bintang karbon. Namun dengan keberadaan Herschel, di masa depan ia akan meneliti bintang karbon lainnya untuk membuktikan mekanisme tersebut pada sampel yang lebih luas lagi.

Sumber : ESA

Sabtu, 28 Agustus 2010

Dua Planet Baru di Kepler 9

Setelah dunia dibuat tercengang dengan penemuan sistem extrasolar yang memiliki 7 buah planet. Penemuan ini membawa manusia melihat bahwa sistem multi planet di masa depan akan menjadi sesuatu yang umum dan sekaligus membawa manusia pada pemahaman baru akan sistem yang “mirip” Tata Surya dari segi jumlah.

Setelah cerita dari HD 10180 kini, wahana antariksa Kepler membawa kisah baru penemuan 2 buah planet yang melintas di depan wajah bintang yang sama, atau dengan bahasa lain keduanya transit pada bintang yang sama.

Penemuan Kepler 9

Ilustrasi transit Kepler 9b dan 9c. Kredit : NASA/Ames/JPL-Caltech

Tanda-tanda saat kedua exoplanet berbeda itu melintasi bintang tampak dalam data bintang serupa Matahari yang diidentifikasi sebagai Kepler-9. Dan kedua planet yang mengorbit bintang tersebut pun dinamai Kepler 9b dan 9c.

Bagaimana kepler bisa menemukan kedua planet tersebut juga bukan sebuah perjalanan singkat. Pengamatan dilakukan selama 7 bulan pada 156 000 bintang yang merupakan bagian dari pencarian planet berukuran Bumi di luar Tata Surya. Dan akhirnya satu per satu penemuan pun bisa dihasilkan. Kamera Kepler berhasil melihat berkurangnya kecerlangan bintang saat planet melintas di depan wajah bintang. Dari kedipan cahaya sesaat inilah ukuran planet bisa diukur.

Jarak planet dari bintang induk juga bisa dikalkulasi dari pengukuran waktu antara setiap momen planet memasuki bintang dan menyebabkan terjadinya redup sesaat pada cahaya bintang. Perbedaan kecil yang muncul secara teratur dari kejadian ini secara terus menerus memungkinkan para astronom untuk menentukan massa planet dan mendeteksi keberadaan planet lainnya yang tidak melintasi bintang.

Sejak Kepler mulai bekerja sampai dengan hari ke-43 saat data pertama dikumpulkan dari 700 kandidat planet, terdapat 5 kandidat sistem yang memiliki lebih dari 1 planet transit. Hasil identifikasi yang dilakukan tim Kepler menunjukkan target sistem ke-6 yang mengalami multi transit.

Selain kedua planet yang sudah dikonfirmasi, para peneliti Kepler juga mengidentifikasi obyek lain yang tampaknya merupakan planet ke-3 di sistem ini. Tanda keberadaannya memang sangat lemah dalam observasi yang dilakukan pada bintang Kepler-9.

Pengamatan Lanjutan dan Data Yang Dihasilkan
Dari data Kepler, para peneliti kemudian melakukan pengamatan lanjutan di Observatorium W.M. Keck di Hawaii. Setelah data yang didapat cukup, para astronom pun mengkonfirmasi bahwa sistem tersebut merupakan sistem multi planet. Tujuan lainnya pengamatan di Keck juga untuk melakukan pengukuran massa planet.

Hasilnya, diyakini Kepler 9b merupakan planet terbesar dalam sistem Kepler 9 yang memiliki 2 buah planet tersebut. Keduanya juga ditemukan memiliki massa yang hampir sama namun lebih kecil dari Saturnus.

Exoplanet Kepler 9b berada paling dekat dengan bintang induk dan mengorbit sang bintang selama 19 hari sedangkan Kepler 9c justru memiliki periode orbit lebih panjang di kisaran 38 hari. Dari hasil pengamatan beberapa kali transit oleh si planet selama 7 bulan, waktu antara setiap peristiwa masuknya planet melintasi bintang bisa dianalisa.

Hasil penemuan ini juga sekaligus merupakan hasil penerapan transit time variations (variasi waktu transit) yang mengamati perubahan yang terjadi dari interval transit yang satu ke yang lainnya. Sebuah bukti interaksi gravitasi antara 2 planet yang tampak dari sudut pandang Kepler.

Sedangkan untuk planet kandidat planet ke-3, tampaknya ia berupa planet Super Bumi dengan radius 1,5 kali radius Bumi. Ia juga diperkirakan mengorbit bintang selama 1,6 hari. Akan tetapi masih dibutuhkan data pengamatan tambahan untuk menentukan apakah sinyal transit itu merupakan sebuah planet ataukah hanya sekedar fenomena astronomi yang meniru penampakan transit.

Sumber : NASA, CfA

Herschel Mengungkap Bayi Bintang di Bima Sakti ( Dan Bukan Bayi Matahari di Tata Surya)

Beberapa hari terakhir ini, langitselatan mendapat beberapa pertanyaan senada tentang Matahari.

Di antaranya adalah, apakah benar ada bayi Matahari ? benarkah bayi itu akan jadi kembaran Matahari di Tata Surya? benarkah Bumi akan punya dua Matahari? Dan yang terakhir adalah sebuah permintaan yang berbunyi demikian :

Bahas tentang baby star donk, soalnya pada simpang siur. Ada yang mengkaitkan akan adanya matahari ke dua di tata surya kita. (FB -pembaca LS).

Jawaban sederhananya sih Tidak ada bayi Matahari di Tata Surya dan Matahari tidak punya saudara kembar di Tata Surya. Bumi juga tidak akan punya 2 buah Matahari.

Meluruskan Cerita Tentang Bayi Matahari
Yang menarik perhatian dari mana cerita ini muncul? Tampaknya ada kesalahan dalam memahami pemberitaan yang diterbitkan oleh salah satu situs berita di internet. Pada akhirnya berita yang awalnya baik-baik saja tersebar dengan informasi sbb:

Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika diperhatikan dan diteliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besarnya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita.(suaramedia / berita terkini Indonesia)

Berita tentang penemuan bayi matahari ini tidak sepenuhnya salah. Tapi mengandung kesalahan. Yang dimaksut oleh berita sebenernya adalah, bayi bintang yang dilihat Teleskop Ruang Angkasa Herschel sedang lahir di galaksi Bima Sakti. Dan memang merupakan bintang baru yang akan muncul di Bimasakti. Tapi bukan Matahari baru dalam artian Matahari yang menerangi Bumi. Kesalahan lainnya, bayi bintang tersebut tidak berada di Tata Surya.

Tampaknya ada kesalahan dalam memahami perbedaan Tata Surya dan Galaksi Bima Sakti. Tata Surya (Solar System) adalah susunan benda-benda langit yang terdiri dari Matahari dan benda-benda langit lainnya yang terikat gaya gravitasi Matahari. benda-benda langit tersebut adalah planet, komet, asteroid, planet kerdil.

Sedangkan Galaksi adalah sebuah sistem yang terikat gaya gravitasi dan merupakan kumpulan bintang (termasuk di dalamnya bintang netron, lubang hitam, supernova), gas dan debu kosmik, medium antar bintang serta materi gelap.

Dan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) adalah nama salah satu galaksi dimana di dalamnya berdiam juga Matahari sebagai salah satu bintangnya.

Selain itu kelahiran bintang mirip dengan manusia butuh waktu untuk bisa tumbuh. Dan skala waktu pertumbuhan bintang membutuhkan waktu jutaan – milyaran tahun.

Seperti yang sudah dikatakan berita tersebut tidak sepenuhnya salah. Yang terjadi hanyalah ada kesalahan dalam pemahaman. Nah, bagaimana berita yang sesungguhnya?

Bayi Bintang yang dilihat Herschel

Citra region HII RCW 120 yang diambil Herscel. Kredit : ESA, PACS & SPIRE Consortia, A. Zavagno (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille)

Bulan Mei yang lalu, observatorium ruang angkasa Herschel milik ESA memotret citra baru yang memperlihatkan proto bintang di sekeliling 2 area terionisasi di galaksi kita yakni Galaksi Bima Sakti. Yang dideteksi Herschel adalah bintang yang sedang berada pada tahap awal evolusinya. Berita ini menjadi perhatian para peneliti karena informasi yang didapat bisa menjadi kunci penting untuk memahami pembentukan bintang masif yang masih misterius sampai saat ini.

Bayi bintang yang dilihat Herschel tersebut memiliki massa lebih dari 8 massa Matahari. Yang menjadikan kedua cikal bakal bintang ini langka adalah bintang seperti ini tidaklah umum dibanding bintang yang massanya lebih kecil. Bintang bermassa besar memiliki kala hidup pendek, karena bahan bakar nuklir yang ada di dalam dirinya akan terkonsumsi atau mengalami pembakaran dengan laju yang sangat cepat sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova.

Kelangkaan ini berarti akan sulit untuk bisa mengamati bintang raksasa langka tersebut, namun karakteristik benda-benda langka ini penting untuk pemahaman kimiawi dan dinamika evolusi galaksi.

Mekanisme Pembentuk Bintang Masif
Apa yang jadi mekanisme pemicu terbentuknya bintang masif memang masih terus diperdebatkan. Dan untuk bisa mendeteksi obyek masif seperti itu di tahap awal evolusinya merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Bagaimana tidak, cikal bakal bintang tersebut masih berada di dalam kepompong debu yang tersembunyi dari pandangan. Debu tersebut menyerap cahaya dan memancarkannya kembali pada panjang gelombang inframerah. Karena itu Herschel bisa melihat proses kelahiran bintang masif tersebut.

Salah satu teori menyebutkan bintang masif terbentuk pada area HII yang merupakan gelembung gas hidrogen panas yang sudah terionisasi oleh pancaran radiasi yang sangat kuat dari bintang masif generasi sebelumnya yang sudah terbentuk. Perbedaan temperatur antara bagian interior (sampai dengan 10 000 K) dan materi di sekitar (lebih dingin dari 100 K) menyebabkan gelembung tersebut mengembang sampai mencapai kecepatan supersonik. Gelembung yang mengembang tersebut menyapu lapisan materi netral disekitarnya yang kemudian terpecah-pecah menjadi benih (cikal bakal) berkerapatan tinggi dari generasi baru bintang bermassa besar.

Model "collect & collapse", skenario pembentukan bintang generasi baru yang dipicu bintang masif generasi sebelumnya. Kredit : Deharveng & Zavagno, LAM, France

Data dari Herschel
Dalam pengamatannya, Herschel menargetkan area HII dalam hal ini RCW 120 dan N49 yang diperkirakan bisa memberikan bukti yang mendukung teori pembentukan bintang masif tadi. Dan herschel memang berhasil melihat dan memotret bintang masif yang masih sangat muda di perbatasan kedua area. Kedua obyek yang baru saja memulai kehidupan tak kurang dari beberapa puluh ribu tahun baru memang belum pernah teramati sebelumnya. Inilah kali pertama bagi para astronom untuk melihat apa yang menjadi pemicu dari terbentuknya bintang masif.

Menurut Annie Zavagno dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille, “Kerapatan materi yang sangat tinggi di sekeliling gelembung dan gerak yang intens karena angin bintanglah yang bertanggung jawab atas proses terbentuknya bintang. Dan yang kemudian memicu munculnya populasi baru bintang yang lebih masif disekelilingnya.”

Data yang dibawa Herschel tak hanya membuat para astronom mengetahui keberadaan bintang muda yang sebelumnya tak terdeksi. Para astronom juga berhasil melakukan karakterisasi dari ciri-ciri fisik bayi bintang tersebut.

Protobintang dengan massa 8 – 10 massa Matahari tersebut memang jauh lebih masif dari Matahari dan dalam penglihatan Herschel, obyek ini dikelilingi oleh selubung besar yang massanya 2000 massa Matahari. Dan ia akan terus bertumbuh menjadi lebih masif sampai menjadi bintang yang seutuhnya. ?

Referensi : ESA