Sabtu, 28 Agustus 2010

Dua Planet Baru di Kepler 9

Setelah dunia dibuat tercengang dengan penemuan sistem extrasolar yang memiliki 7 buah planet. Penemuan ini membawa manusia melihat bahwa sistem multi planet di masa depan akan menjadi sesuatu yang umum dan sekaligus membawa manusia pada pemahaman baru akan sistem yang “mirip” Tata Surya dari segi jumlah.

Setelah cerita dari HD 10180 kini, wahana antariksa Kepler membawa kisah baru penemuan 2 buah planet yang melintas di depan wajah bintang yang sama, atau dengan bahasa lain keduanya transit pada bintang yang sama.

Penemuan Kepler 9

Ilustrasi transit Kepler 9b dan 9c. Kredit : NASA/Ames/JPL-Caltech

Tanda-tanda saat kedua exoplanet berbeda itu melintasi bintang tampak dalam data bintang serupa Matahari yang diidentifikasi sebagai Kepler-9. Dan kedua planet yang mengorbit bintang tersebut pun dinamai Kepler 9b dan 9c.

Bagaimana kepler bisa menemukan kedua planet tersebut juga bukan sebuah perjalanan singkat. Pengamatan dilakukan selama 7 bulan pada 156 000 bintang yang merupakan bagian dari pencarian planet berukuran Bumi di luar Tata Surya. Dan akhirnya satu per satu penemuan pun bisa dihasilkan. Kamera Kepler berhasil melihat berkurangnya kecerlangan bintang saat planet melintas di depan wajah bintang. Dari kedipan cahaya sesaat inilah ukuran planet bisa diukur.

Jarak planet dari bintang induk juga bisa dikalkulasi dari pengukuran waktu antara setiap momen planet memasuki bintang dan menyebabkan terjadinya redup sesaat pada cahaya bintang. Perbedaan kecil yang muncul secara teratur dari kejadian ini secara terus menerus memungkinkan para astronom untuk menentukan massa planet dan mendeteksi keberadaan planet lainnya yang tidak melintasi bintang.

Sejak Kepler mulai bekerja sampai dengan hari ke-43 saat data pertama dikumpulkan dari 700 kandidat planet, terdapat 5 kandidat sistem yang memiliki lebih dari 1 planet transit. Hasil identifikasi yang dilakukan tim Kepler menunjukkan target sistem ke-6 yang mengalami multi transit.

Selain kedua planet yang sudah dikonfirmasi, para peneliti Kepler juga mengidentifikasi obyek lain yang tampaknya merupakan planet ke-3 di sistem ini. Tanda keberadaannya memang sangat lemah dalam observasi yang dilakukan pada bintang Kepler-9.

Pengamatan Lanjutan dan Data Yang Dihasilkan
Dari data Kepler, para peneliti kemudian melakukan pengamatan lanjutan di Observatorium W.M. Keck di Hawaii. Setelah data yang didapat cukup, para astronom pun mengkonfirmasi bahwa sistem tersebut merupakan sistem multi planet. Tujuan lainnya pengamatan di Keck juga untuk melakukan pengukuran massa planet.

Hasilnya, diyakini Kepler 9b merupakan planet terbesar dalam sistem Kepler 9 yang memiliki 2 buah planet tersebut. Keduanya juga ditemukan memiliki massa yang hampir sama namun lebih kecil dari Saturnus.

Exoplanet Kepler 9b berada paling dekat dengan bintang induk dan mengorbit sang bintang selama 19 hari sedangkan Kepler 9c justru memiliki periode orbit lebih panjang di kisaran 38 hari. Dari hasil pengamatan beberapa kali transit oleh si planet selama 7 bulan, waktu antara setiap peristiwa masuknya planet melintasi bintang bisa dianalisa.

Hasil penemuan ini juga sekaligus merupakan hasil penerapan transit time variations (variasi waktu transit) yang mengamati perubahan yang terjadi dari interval transit yang satu ke yang lainnya. Sebuah bukti interaksi gravitasi antara 2 planet yang tampak dari sudut pandang Kepler.

Sedangkan untuk planet kandidat planet ke-3, tampaknya ia berupa planet Super Bumi dengan radius 1,5 kali radius Bumi. Ia juga diperkirakan mengorbit bintang selama 1,6 hari. Akan tetapi masih dibutuhkan data pengamatan tambahan untuk menentukan apakah sinyal transit itu merupakan sebuah planet ataukah hanya sekedar fenomena astronomi yang meniru penampakan transit.

Sumber : NASA, CfA

Herschel Mengungkap Bayi Bintang di Bima Sakti ( Dan Bukan Bayi Matahari di Tata Surya)

Beberapa hari terakhir ini, langitselatan mendapat beberapa pertanyaan senada tentang Matahari.

Di antaranya adalah, apakah benar ada bayi Matahari ? benarkah bayi itu akan jadi kembaran Matahari di Tata Surya? benarkah Bumi akan punya dua Matahari? Dan yang terakhir adalah sebuah permintaan yang berbunyi demikian :

Bahas tentang baby star donk, soalnya pada simpang siur. Ada yang mengkaitkan akan adanya matahari ke dua di tata surya kita. (FB -pembaca LS).

Jawaban sederhananya sih Tidak ada bayi Matahari di Tata Surya dan Matahari tidak punya saudara kembar di Tata Surya. Bumi juga tidak akan punya 2 buah Matahari.

Meluruskan Cerita Tentang Bayi Matahari
Yang menarik perhatian dari mana cerita ini muncul? Tampaknya ada kesalahan dalam memahami pemberitaan yang diterbitkan oleh salah satu situs berita di internet. Pada akhirnya berita yang awalnya baik-baik saja tersebar dengan informasi sbb:

Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika diperhatikan dan diteliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besarnya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita.(suaramedia / berita terkini Indonesia)

Berita tentang penemuan bayi matahari ini tidak sepenuhnya salah. Tapi mengandung kesalahan. Yang dimaksut oleh berita sebenernya adalah, bayi bintang yang dilihat Teleskop Ruang Angkasa Herschel sedang lahir di galaksi Bima Sakti. Dan memang merupakan bintang baru yang akan muncul di Bimasakti. Tapi bukan Matahari baru dalam artian Matahari yang menerangi Bumi. Kesalahan lainnya, bayi bintang tersebut tidak berada di Tata Surya.

Tampaknya ada kesalahan dalam memahami perbedaan Tata Surya dan Galaksi Bima Sakti. Tata Surya (Solar System) adalah susunan benda-benda langit yang terdiri dari Matahari dan benda-benda langit lainnya yang terikat gaya gravitasi Matahari. benda-benda langit tersebut adalah planet, komet, asteroid, planet kerdil.

Sedangkan Galaksi adalah sebuah sistem yang terikat gaya gravitasi dan merupakan kumpulan bintang (termasuk di dalamnya bintang netron, lubang hitam, supernova), gas dan debu kosmik, medium antar bintang serta materi gelap.

Dan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) adalah nama salah satu galaksi dimana di dalamnya berdiam juga Matahari sebagai salah satu bintangnya.

Selain itu kelahiran bintang mirip dengan manusia butuh waktu untuk bisa tumbuh. Dan skala waktu pertumbuhan bintang membutuhkan waktu jutaan – milyaran tahun.

Seperti yang sudah dikatakan berita tersebut tidak sepenuhnya salah. Yang terjadi hanyalah ada kesalahan dalam pemahaman. Nah, bagaimana berita yang sesungguhnya?

Bayi Bintang yang dilihat Herschel

Citra region HII RCW 120 yang diambil Herscel. Kredit : ESA, PACS & SPIRE Consortia, A. Zavagno (Laboratoire d'Astrophysique de Marseille)

Bulan Mei yang lalu, observatorium ruang angkasa Herschel milik ESA memotret citra baru yang memperlihatkan proto bintang di sekeliling 2 area terionisasi di galaksi kita yakni Galaksi Bima Sakti. Yang dideteksi Herschel adalah bintang yang sedang berada pada tahap awal evolusinya. Berita ini menjadi perhatian para peneliti karena informasi yang didapat bisa menjadi kunci penting untuk memahami pembentukan bintang masif yang masih misterius sampai saat ini.

Bayi bintang yang dilihat Herschel tersebut memiliki massa lebih dari 8 massa Matahari. Yang menjadikan kedua cikal bakal bintang ini langka adalah bintang seperti ini tidaklah umum dibanding bintang yang massanya lebih kecil. Bintang bermassa besar memiliki kala hidup pendek, karena bahan bakar nuklir yang ada di dalam dirinya akan terkonsumsi atau mengalami pembakaran dengan laju yang sangat cepat sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova.

Kelangkaan ini berarti akan sulit untuk bisa mengamati bintang raksasa langka tersebut, namun karakteristik benda-benda langka ini penting untuk pemahaman kimiawi dan dinamika evolusi galaksi.

Mekanisme Pembentuk Bintang Masif
Apa yang jadi mekanisme pemicu terbentuknya bintang masif memang masih terus diperdebatkan. Dan untuk bisa mendeteksi obyek masif seperti itu di tahap awal evolusinya merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Bagaimana tidak, cikal bakal bintang tersebut masih berada di dalam kepompong debu yang tersembunyi dari pandangan. Debu tersebut menyerap cahaya dan memancarkannya kembali pada panjang gelombang inframerah. Karena itu Herschel bisa melihat proses kelahiran bintang masif tersebut.

Salah satu teori menyebutkan bintang masif terbentuk pada area HII yang merupakan gelembung gas hidrogen panas yang sudah terionisasi oleh pancaran radiasi yang sangat kuat dari bintang masif generasi sebelumnya yang sudah terbentuk. Perbedaan temperatur antara bagian interior (sampai dengan 10 000 K) dan materi di sekitar (lebih dingin dari 100 K) menyebabkan gelembung tersebut mengembang sampai mencapai kecepatan supersonik. Gelembung yang mengembang tersebut menyapu lapisan materi netral disekitarnya yang kemudian terpecah-pecah menjadi benih (cikal bakal) berkerapatan tinggi dari generasi baru bintang bermassa besar.

Model "collect & collapse", skenario pembentukan bintang generasi baru yang dipicu bintang masif generasi sebelumnya. Kredit : Deharveng & Zavagno, LAM, France

Data dari Herschel
Dalam pengamatannya, Herschel menargetkan area HII dalam hal ini RCW 120 dan N49 yang diperkirakan bisa memberikan bukti yang mendukung teori pembentukan bintang masif tadi. Dan herschel memang berhasil melihat dan memotret bintang masif yang masih sangat muda di perbatasan kedua area. Kedua obyek yang baru saja memulai kehidupan tak kurang dari beberapa puluh ribu tahun baru memang belum pernah teramati sebelumnya. Inilah kali pertama bagi para astronom untuk melihat apa yang menjadi pemicu dari terbentuknya bintang masif.

Menurut Annie Zavagno dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille, “Kerapatan materi yang sangat tinggi di sekeliling gelembung dan gerak yang intens karena angin bintanglah yang bertanggung jawab atas proses terbentuknya bintang. Dan yang kemudian memicu munculnya populasi baru bintang yang lebih masif disekelilingnya.”

Data yang dibawa Herschel tak hanya membuat para astronom mengetahui keberadaan bintang muda yang sebelumnya tak terdeksi. Para astronom juga berhasil melakukan karakterisasi dari ciri-ciri fisik bayi bintang tersebut.

Protobintang dengan massa 8 – 10 massa Matahari tersebut memang jauh lebih masif dari Matahari dan dalam penglihatan Herschel, obyek ini dikelilingi oleh selubung besar yang massanya 2000 massa Matahari. Dan ia akan terus bertumbuh menjadi lebih masif sampai menjadi bintang yang seutuhnya. ?

Referensi : ESA

Sistem Extrasolar Planet Terkaya Ditemukan

Era penemuan sistem keplanetan di luar Tata Surya memang sudah dimulai belasan tahun yang lalu atau tepatnya di tahun 1995, saat Michel Mayor dan timnya menemukan planet Pegasi 51 b di bintang Peg 51. Sejak saat itu sudah ditemukan 410 sistem keplanetan dengan 485 planet. Di antaranya terdapat 48 sistem multi planet, atau sistem keplanetan yang memiliki planet lebih dari 1 buah planet.

Dari ke-48 sistem multi planet tersebut, ada 15 sistem yang setidaknya memiliki 3 planet dengan rekor planet terbanyak saat ini dimiliki 55 Cancri dengan 5 planet. Setiap sistem yang ditemukan punya keunikan. Sebut saja Epsilon Eridani yang memiliki 2 buah sabuk asteroid mirip dengan Sabuk Asteroid dan Sabuk Kuiper di Tata Surya. Kini 55 Cancri tidak lagi menjadi pemegang rekor planet terbanyak dalam sistem extrasolar. Mengapa demikian? Simak ceritanya.

Sistem Extrasolar Mirip Tata Surya

Ilustrasi sistem keplanetan HD 10180. Kredit :ESO/L. Calçada

Kali ini Christophe Lovis dan tim menemukan sebuah sistem keplanetan dengan jumlah planet terbanyak di antara sistem extrasolar yang sudah ada.

Penemuan 6 exoplanet disertai bukti keberadaan 1 exoplanet lainnya di dalam sistem membawa sistem extrasolar di bintang HD 10180 menjadi kandidat sistem extrasolar dengan exoplanet terbanyak. Kandidat yang belum dikonfirmasi sebagai planet ini, memiliki massa terendah yang pernah ditemukan dalam dunia exoplanet.

Tak hanya itu, ke-7 planet ini juga membawa manusia pada khazanah baru sebuah sistem yang hampir “serupa” dengan Tata Surya terutama dalam hal jumlah planet yang mengitari bintang induk. Hal menarik lainnya, ditemukan juga bukti kalau jarak planet dari bintangnya mengikuti pola umum yang juga terlihat di Tata Surya.

Apa artinya penemuan ini? Tak lain tak bukan, perjalanan pencarian “dunia lain” memasuki era baru dimana sistem keplanetan yang umum bukan hanya terdiri dari 1 atau 3 planet. Ini merupakan awal era sistem keplanetan yang kompleks dimana pergerakan di dalam sistemnya akan melibatkan interaksi gravitasi yang kompleks di antara planet-planet. Dan keseluruhan informasi inilah yang akan membawa manusia pada pemahaman akan perjalanan evolusi sistem untuk jangka waktu yang panjang. Atau lebih sederhana lagi, manusia bisa mempelajari perjalanan evolusi sebuah sistem keplanetan yang tak jauh berbeda dari Tata Surya.

Pengamatan dengan HARPS

Dengan menggunakan spektograf HARPS yang dipasang pada teleskop 3,6 meter milik ESO di La Silla, Chille, Christophe Lovis dan tim melakukan pengamatan pada bintang HD 10180 yang berada pada jarak 127 tahun cahaya di konstelasi Hydrus selama 6 tahun. HARPS sendiri merupakan instrumentasi pemburu exoplanet kelas wahid yang ada saat ini karena memiliki stabilitas pengukuran dan presisi yang sangat baik.

Area langit di sekitar HD 10180. kredit: ESO & Digitized Sky Survey 2. Acknowledgment: Davide De Marti

Setelah melakukan pengamatan, para astronom berhasil mendeteksi gerak maju mundur atau gerak bolak balik atau goyangan yang sangat kecil dari bintang sebagai akibat gaya tarik gravitasi yang kompleks dari 5 atau bahkan lebih banyak lagi planet. Lima sinyal yang paling kuat datang dari planet-planet seukuran Neptunus dengan massa antara 13 – 25 massa Bumi dan mengorbit bintang dengan periode 6 – 600 hari. Dalam sistem HD 10180, planet HD 10180 c,d,e,f,g berada pada jarak 0,06 dan 1,4 kali jarak Bumi – Matahari dari bintang induknya. Sementara planet terluar yakni HD 10180 h yang diperkirakan mirip Saturnus memiliki massa minimum 65 massa Bumi mengorbit dalam 2200 hari (6,02 tahun) pada jarak 3,4 SA.

Selain ke-6 planet yang dilihat, tim ini juga menemukan bukti keberadaan 1 planet lainnya. Planet yang berada paling dekat dengan bintang induk ini mengorbit pada jarak sekitar 3,3 juta km atau 2% jarak Bumi – Matahari (0,2225 SA). Satu tahun di planet ini akan berakhir dalam sekejap yakni 1,18 hari di Bumi atau dalam kisaran 28,32 jam. Obyek ini menyebabkan goyangan yang sangat lemah pada bintang, yakni hanya 3 km/jam, dan sangat sulit untuk diukur. Tapi jika memang obyek ini bisa dikonfirmasi sebagai planet, ia akan menjadi contoh lain bagi keberadaan planet batuan panas, mirip dengan Corot-7b.

Keunikan Sistem Extrasolar HD 10180
Sistem keplanetan yang baru ditemukan disekeliling HD 10180 ini memiliki beberapa keunikan. Yang pertama, ke-5 planetnya yang seukuran Neptunus berada dalam jarak yang sama dengan jarak orbit Mars. Artinya, sistem ini punya populasi yang lebih banyak dari tata Surya di area bagian dalamnya dan sistem HD 10180 memiliki planet yang lebih masif di area tersebut. Planet-planet dalam sistem extrasolar HD 10180 tidak memiliki planet gas raksasa serupa Jupiter, dan kesemua planetnya memiliki orbit yang hampir lingkaran.

Sebelum sistem HD 10180, sistem 55 Cancri diketahui memiliki 5 buah planet dengan 2 planet merupakan planet gas raksasa. Keberadaan HD 10180 yang hanya memiliki planet bermassa rendah memang tampaknya umum terjadi namun sayangnya proses pembentukan masih menjadi misteri.

Dari data yang didapat untuk sistem HD 10180 dan data sistem keplanetan lainnya, para astronom juga menemukan kesamaan dengan hukum Titus-Bode yang ada di Tata Surya. Jarak planet-planet dari bintang induk tampaknya mengikuti pola umum, dan menurut Michel Mayor salah satu anggota tim penemu sistem HD 10180 yang juga penemu exoplanet pertama pada bintang serupa Matahari, “ini akan menjadi tanda dari proses pembentukan sistem keplanetan”.

Hasil penting lainnya, tampaknya ada hubungan antara massa sistem keplanetan dengan massa konten kimiawi bintang induk. Semua sistem keplanetan yang sangat masif ditemukan mengelilingi bintang masif dan kaya elemen berat sementara 4 sistem keplanetan dengan massa yang kecil ditemukan pada bintang bermassa rendah dan miskin elemen berat. Elemen berat disini dimaksutkan untuk elemen selain Hidrogen dan Helium. Kondisi ini justru menjadi peneguhan bagi model teoretik yang ada.

Babak baru penemuan sistem multi planet dengan jumlah planet yang lebih banyak telah dimulai. Dan perjalanan yang telah ditapaki belasan tahun lalu itu masih akan terus berlanjut diisi dengan cerita baru dari berbagai sistem keplanetan yang ada di Bima Sakti dan alam semesta.

Sumber : ESO

Piringan Debu di Sekeliling Bintang Ganda Dekat

Cerita dari ruang angkasa memang tak pernah habis. Kisah demi kisah diungkap untuk menambah khazanah pengetahuan bagi manusia. Kali ini cerita itu datang dari sistem bintang ganda dekat. Sistem ini tampaknya tidak akan pernah bisa menjadi daerah terbaik bagi kehidupan untuk tumbuh. Bagaimana bisa?

Ilustrasi tabrakan planet di sistem bintang ganda dekat. Kredit : NASA

Data yang dihasilkan Teleskop Spitzer milik NASA, menunjukkan sejumlah besar debu di sekeliling 3 pasang sistem bintang ganda dekat. Keberadaan debu tersebut memang mengejutkan namun diperkirakan ia merupakan hasil akhir dari tabrakan benda-benda planetari.

Bintang Ganda Dekat yang diamati
Dalam penelitian ini, pengamatan dilakukan pada RS Canum Venaticorums, atau RS CVns, sistem bintang ganda yang sangat dekat dan hanya terpisah oleh jarak 3,2 juta km. Jarak ini hanya 2% jarak Matahari-Bumi (150 juta km). Jadi bayangkan betada dekatnya kedua bintang tersebut. Pasangan bintang ini juga saling mengelilingi satu sama lainnya dengan hanya satu wajah yang terkunci untuk saling berhadapan satu sama lainnya.

Sistem bintang ganda ini juga memiliki kemiripan dalam hal ukuran dengan Matahari, namun keduanya masih sangat muda hanya sekitar 1 milyar atau beberapa milyar tahun. Mirip dengan usia Matahari saat kehidupan pertama kali berevolusi di Bumi. Yang menarik kedua bintang tersebut berputar jauh lebih cepat dari Matahari dan akibatnya keduanya memiliki medan magnetik yang sangat kuat dan terdapat bintik gelap raksasa. Aktivitas magnetik tersebut mengendalikan angin bintang yang kuat – versi badai dari angin matahari – dan akan memperlambat bintang serta menarik kedua bintang untuk semakin mendekat seiring waktu. Dan inilah saat dimana kekacauan antar planet akan terjadi.

Sistem Keplanetan di Bintang Ganda Dekat RS CVns
Kalau memang kekacauan dalam sistem keplanetan di bintang ganda dekat tersebut akan terjadi. Apakah benar di sana ada planet? Sampai saat ini memang belum ditemukan keberadaan planet di sistem RS CVns, namun secara teori keberadaan planet dalam sistem bintang tersebut memang memungkinkan. Bahkan keberadaan planet di zona laik huni bintang pun bisa terjadi. Dan jika ada kehidupan di planet tersebut, maka yang muncul adalah malapetaka bagi kehidupan itu sendiri.

Dari data yang dihasilkan observatorium inframerah Spitzer, jika ada planet di sistem bintang tersebut, maka pastinya si planet sangat tidak beruntung karena akan terjadi tabrakan secara terus menerus. “Inilah fiksi ilmiah yang muncul dalam kehidupan nyata”, kata Jeremy Drake dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Cambridge, Mass yang memimpin penelitian tersebut.

Saat kedua bintang mendekat, gaya gravitasi dan pengaruhnya pun berubah. Akibatnya, terjadi gangguan terhadap benda-benda planetari yang mengitari kedua bintang. Komet dan planet yang mungkin ada di dalam sistem tersebut akan saling mendorong dan menabrak satu sama lainnya, bahkan kadang dalam sebuah tabrakan yang sangat dasyat.

Hal yang sama juga terjadi pada planet yang secara teoretik bisa ada di zona laik huni bintang ganda, sebuah area yang temperaturnya bisa mempertahankan air dalam bentuk cair ada di planet. Meskipun belum ada planet laik huni yang ditemukan disekeliling bintang selain Matahari, namun sistem bintang ganda dekat sudah diketahui bisa memiliki planet, yakni sistem HW Vir dengan 2 planet gas raksasa.

Tak pelak kondisi di sistem bintang ganda dekat RS CVns bisa memberi gambaran tahap akhir kehidupan sistem keplanetan jika ada planet disana.

Piringan Debu yang dilihat Spitzer

Ilustrasi pasangan bintang ganda dekat yang dikelilingi piringan debu. kredit : NASA

Dari data yang diambil Spitzer, tampaknya si teleskop landas angkasa ini berhasil melihat piringan debu panas yang bersinar dalam inframerah, dengan temperatur lava cair disekitar 3 sistem bintang ganda dekat. Salah satu sistem ganda diketahui memiliki ekses yang mencurigakan pada cahaya inframerah di tahun 1983 oleh Infrared Astronomical System. Sebagai tambahan, peneliti yang menggunakan Spitzer juga menemukan piringan puing-puing di sekitar bintang lainnya yang ternyata juga merupakan sistem bintang ganda dekat.

Debu yang dilihat Spitzer, secara normal seharusnya sudah terhambur dan terhembus keluar dari bintang yang sudah memasuki usia “dewasa”. Karena itu, tentunya ada sesuatu yang lain – dalam hal ini tabrakan planetari yang kemudian membentuk debu baru. Dan karena piringan debu ini ditemukan juga pada 4 sistem bintang ganda tua, para peneliti yakin kalau pengamatan ini tidaklah kebetulan. Ada sebuah kekacauan yang terjadi pada sistem tersebut.

Seandainya saja teori sistem keplanetan pada bintang ganda itu terjadi, dan memang ada planet laik huni yang terbentuk disana, maka ketika para penghuninya menengadah ke langit mereka aka menemukan 2 matahari raksasa, seperti yang ada di planet Tatooine di Star Wars.

Sumber : NASA

Jumat, 20 Agustus 2010

Perlukah Menggantikan GMT dengan Mecca Mean Time?

Peresmian jam raksasa Mekkah pada awal Ramadhan 1431 H, pada 11 Agustus 2010, membangkitkan kembali keinginan sebagian ulama Islam, terutama di negara-negara Arab, untuk menjadikan Mekkah sebagai pusat waktu. Beberapa argumentasi diajukan, antara lain bahwa Mekkah dianggap sebagai Pusat Dunia, setidaknya kalau dilihat dari distribusi sebaran benua.

Jam Raksasa di Mekkah. sumber : blog reuters.

Sebenarnya proyek tersebut cenderung bersifat ”mercusuar” dengan menjadikannya jam terbesar di dunia dengan beberapa keunggulan lainnya. Tetapi tidak memuat konsep waktu yang berbeda dari yang saat ini diterima secara internasional.

Benar Mekkah sebagai tempat Ka’bah menjadi pusat perhatian Ummat Islam karena menjadi kiblat saat shalat dan menjadi pusat ibadah haji. Tetapi, secara fisik geografis tidak ada keistimewaan yang mendukung untuk menjadikannya sebagai rujukan waktu atau sebagai meridian utama (Prime Meridian). Secara geografis, kalau Mekkah menjadi meridian utama (garis bujur 0), maka garis tanggal internasional pada garis bujur 180 derajat akan memotong Alaska dan terlalu jauh kalau harus dibelokkan ke Selat Bering. Itu berdampak kurang bagus, karena Kanada dan Alaska yang satu wilayah daratan terpaksa harus berbeda hari. Misalnya, di Alaska Senin sedangkan di Kanada masih Ahad. Sehingga untuk mewujudkannya jelas tidak mungkin akan mendapatkan persetujuan internasional. Masalah waktu tidak mungkin diatur secara sepihak, perlu konvensi internasional. Untuk memahaminya, kita harus melihat sejarah konvensi waktu internasional yang merujuk pada waktu rata-rata Greenwich.

Greenwich Mean Time (GMT, Waktu Rata-rata Greenwich) adalah rujukan waktu internasional yang pada mulanya didasarkan pada waktu matahari di Greenwich yang kemudian didasarkan pada jam atom. Sistem waktu yang mapan tersebut mempunyai sejarah panjang yang didukung konvensi internasional dan kajian ilmiah untuk penyempurnaannya. Sampai pertengahan abad 19, masing-masing negara menggunakan sistem jam matahari sendiri dengan menggunakan meridian masing-masing. Meridian adalah garis hubung utara-selatan yang melalui zenit yang dilintasi matahari saat tengah hari. Untuk jaringan transportasi kereta api jarak jauh yang mulai berkembang saat itu, pembuatan sistem waktu baku antarwilayah diperlukan. Tanpa sistem waktu yang baku, jadwal kereta api bisa kacau ketika memasuki wilayah yang menggunakan sistem waktu berbeda. Hal itu terutama dirasakan oleh jaringan kereta api di Kanada dan Amerika Serikat.

Kebutuhan sistem waktu baku tersebut yang mendorong Sir Sandford Fleming, seorang teknisi dan perencana perjalanan kereta api Kanada mengusulkan waktu baku internasional pada akhir 1870-an. Gagasan itu kemudian dimatangkan dalam Konferensi Meridian Internasional di Washington DC pada Oktober 1884 yang dihadiri perwakilan 25 negara (Austria-Hungaria, Brazil, Chile, Kolombia, Costa Rica, Perancis, Jerman, Inggris, Guatemala, Hawii, Italia, Jepang, Liberia, Meksiko, Belanda, Paraguay, Rusia, San Domingo, Spanyol, Swedia, Swiss, Turki, Amerika Serikat, Venezuela, dan Salvador).

Kesepakatan pokok (konvensi) pada konferensi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bersepakat menggunakan meridian dunia yang tunggal untuk menggantikan banyak meridian yang telah ada.
  2. Meridian yang melalui teropong transit di Observatorium Greenwich ditetapkan sebagai meridian nol.
  3. Semua garis bujur dihitung ke Timur dan ke Barat dari meridian tersebut sampai 180 derajat.
  4. Semua negara menerapkan hari universal.
  5. Hari universal adalah hari matahari rata-rata, mulai dari tengah malam di Greenwich dan dihitung 24 jam.
  6. Hari nautika dan astronomi di mana pun mulai dari tengah malam.
  7. Semua kajian teknis untuk mengatur dan menerapkan sistem desimal pembagian waktu dan ruang akan dilakukan.

Butir ke-2 tidak mendapat kesepakatan bulat. San Dominggo menentang. Perancis dan Brazil abstain.

Saat ini sistem waktu telah ditetapkan dengan 24 waktu baku, secara umum setiap perbedaan 15 derajat garis bujur, waktunya berbeda 1 jam. Dalam pelaksanaannya, waktu baku tersebut disesuaikan dengan batas wilayah agar tidak memecah waktu di suatu wilayah. Pada 1928, dalam konferensi astronomi internasional, berdasarkan kajian soal waktu, maka penamaan GMT diubah menjadi Universal Time (UT). Rujukan waktunya tetap jam matahari, sehingga tergantung rotasi bumi yang sebenarnya tidak konstan. Pada 1955 ditemukan jam atom Caesium yang lebih stabil, sehingga selalu ada perbedaan dengan UT, walau dalam skala yang sangat kecil dalam orde milisecond (seperseribu detik). Pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an banyak dilakukan kajian soal waktu yang sinkron antara UT dan jam atom. Saat ini UT bukan lagi murni didasarkan pada jam matahari, tetapi berdasarkan jam atom yang disinkronkan dengan konsep jam matahari. Namanya menjadi UTC (Universal Time, Coordinated), nama kompromi dari usulan dua bahasa: bahasa Inggris “CUT” untuk “coordinated universal time” dan bahasa Perancis “TUC” untuk “temps universel coordonné”.

Dari sejarah panjang GMT tersebut, kita bisa faham bahwa konvensi waktu baku internasional didasarkan pada kebutuhan untuk mensinkronkan jadwal aktivitas manusia yang bersifat lintas negara. Apalagi saat ini, jadwal penerbangan memerlukan pengaturan waktu yang sangat akurat. Sistem waktu GMT atau UTC yang sudah mapan saat ini tidak mungkin lagi diubah, misalnya dengan MMT (Mecca Mean Time). Tidak ada alasan fisis – teknis yang mendasarinya, selain ghirah (semangat) keagamaan. Juga tidak ada alasan yang mendukung penyatuan waktu ibadah ummat Islam, karena pada dasarnya waktu ibadah bersifat lokal dan sudah tercukupi dengan menggunakan sistem waktu internasional yang telah ada.

Selasa, 10 Agustus 2010

Apa itu Tsunami Matahari?

Beberapa hari yang lalu, ramai diberitakan di media mengenai adanya fenomena ‘tsunami Matahari’. Menghebohkan? Bagi masyarakat awam, tentunya cukup menyentak perhatian, terlebih lagi, dikarenakan trauma akan bencana alam, kata ‘tsunami’ tentu membuat kebanyakan kita menjadi khawatir.

Tetapi, seringkali penggunaan istilah yang berbeda pada khazanah yang berbeda bisa menyebabkan kesalahpahaman. Sudahlah menjadi kelumrahan alam, bahwa Matahari selalu menghasilkan fenomena yang sangat-sangat dahsyat, dengan lepasan energi yang sangat luar biasa, dalam istilah yang sudah sering didengar seperti: ledakan Matahari (solar flare), atau pelontaran massa korona (CME/Coronal Mass Ejection), adalah kata kunci yang dengan mudah kita temukan di internet. Tetapi, ‘tsunami Matahari’?

Kembali pada fenomena yang dahsyat di Matahari, fenomena ‘spektakular’ ini teramati semenjak pengamatan SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) mulai dilakukan di pertengahan tahun 90an, ketika terjadi pelontaran massa (CME), disertai adanya gelombang bergelora bagaikan tsunami. Tetapi apakah itu benar terjadi ‘tsunami’ di Matahari?

Tetapi, sebagaimana ilmu pengetahuan yang harus selalu mencari kepastian jawab, dibutuhkan pengamatan lebih baik, sampai dengan ketika pengamatan yang dilakukan oleh STEREO (Solar Terrestrial Relations Observatory), di tahun 2009 berhasil menunjukkan bahwa, menunjukkan bahwa benarlah itu terjadi ‘tsunami’ di Matahari.

Wahana STEREO adalah wahana kembar yang mengamati Matahari dari dua sisi berbeda, mendahului dan mengikuti Matahari, berbeda dengan SOHO yang berada di antara Bumi-Matahari (Gambar 1). Dengan demikian, maka pengamatan STEREO dapat menunjukkan bagaimana bila terjadi pelontaran massa di Matahari, dapat dikaji fisisnya dengan lebih baik.

Posisi si kembar STEREO, dibanding SOHO dapat menentukan keberadaan tsunami Matahari. Kredit : STEREO

Dengan melihat fenomena dari dua sisi, dapat diperlihatkan, ketika adanya gelombang yang muncul, ketika prominensa Matahari berosilasi akibat terkena hantaman gelombang, dan pada saat itu, kita dapat melihat bahwa ‘tsunami’ sedang terjadi dengan sangat kuat. DIkatakan sangat kuat, karena gelombang raksasa tersebut tersusun dari plasma panas dan bermedan magnet.

Kedua wahana tersebut terpisah sebesar 90 derajat pada saat fenomena tersebut terjadi. Gambar hijau diperoleh dari kamera SECCHI EUVI (Extreme Ultraviolet Imager), yang merekam atom besi yang terionisasi sebelas kali, dan berada pada panjang gelombang 195 ?, dengan temperatur mencapai 1,5 juta Kelvin. Sementar yang berwarna hijau adalah perekaman mempergunakan kamera SECCHI COR1, yang merekam cahaya permukaan Matahari yang terhamburkan oleh elektron bebas yang sangat-sangat terionisasi di wilayah korona Matahari.

Tsunami Matahari tidak memberikan dampak yang mengancam pada Bumi, tetapi dapat menjadi diagnosa pada kondisi pada Matahari. Selain itu, fenomena yang perlu diwaspadai adalah fenomena seperti ledakan (flare) dan CME, karena dengan mengetahui adanya tsunami, dapat memberi informasi pada ‘Cuaca Antariksa’. Dampak cuaca antariksa ini lebih dirasakan pada teknologi modern, seperti teknologi satelit, komunikasi dan navigasi. Di Indonesia, sudah ada lembaga yang menangani cuaca antariksa, yaitu LAPAN, sehingga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena itu semua adalah fenomena alam, disamping, ada fenomena-fenomena indah yang berkait dengan cuaca antariksa itu, seperti aurora (bagi mereka yang tinggal di lintang tinggi tentunya).

Sabtu, 07 Agustus 2010

Hujan Meteor Perseid di Awal Agustus


Jika di akhir bulan Juli lalu, kita ditemani oleh puncak hujan meteor Delta Aquarid, maka di awal Agustus, para pengamat langit akan kembali diajak untuk menikmati hujan meteor Perseid.

Hujan meteor yang dimulai semenjak tanggal 23 Juli sampai dengan 22 Agustus ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 12 – 13 Agustus. Untuk pengamat di Indonesia, puncak hujan meteor Perseid akan terjadi pada kisaran jam 01.00 wib – 14.00 wib pada tanggal 13 Agustus.

Yang menarik lagi, kondisi langit juga sangat mendukung karena di kala Perseid terbit, Bulan yang sedang berada pada fasa Bulan Baru jelas sudah terbenam. Dengan demikian yang dibutuhkan hanyalah kesabaran menunggu lewatnya meteor dan lokasi yang cukup gelap.

Hujan Meteor Perseid yang muncul dari arah rasi Perseus di jam 3 dini hari pada tanggal 13 Agustus 2010. kredit : StarWalk

Nah untuk mengamati hujan meteor ini, arahkan pandangan ke Timur Laut dan temukan rasi Perseus yang baru terbit pada pukul 00.30 dini hari. Mulailah mengamat pada pukul 02.00 wib ketika rasi Perseus sudah mulai menanjak dari horison. Hujan meteor Perseid akan tampak muncul dari konstelasi Perseus.

Hujan meteor Perseid memang memberi kejutan selama 2 dekade terakhir bagi para pengamat langit. Bagaimana tidak, ia pernah mempertontonkan 400 lebih meteor per jam saat Bumi melintasi area dengan aliran debu yang padat. Dan di tahun ini, simulasi yang dilakukan Mikhail Maslov and Jeremie Vaubaillon menunjukan kalau aktivitas Perseid masih tidak terpengaruh oleh gangguan dari Saturnus.

Tahun ini, hujan meteor yang akan dilihat memang tidak akan sebanyak tahun 2009 namun setidaknya masih bisa menikmati sekitar 110-120 meteor per jam karena Bumi akan melewati area debu komet yang sangat padat.

Hujan meteor Perseid. kredit : StarWalk

Asal Usul
Hujan meteor Perseid pertama kali dilihat oleh bangsa China kuno di kisaran tahun 36 AD. Catatan yang ada menunjukkan para pengamat tersebut melihat lebih dari 100 meteor berseliweran di pagi hari. Sejumlah penampakan meteor ini juga tercatat pernah dilihat di China, Jepang, Korea di sepanjang abad ke-8 – abad ke-11. Sayangnya di antara abad ke -12 dan 19, hujan meteor ini hanya terlihat sporadik.

Di bulan Agustus, Perseid bukanlah satu-satunya hujan meteor yang terlihat. Masih ada Delta Aquarid Selatan dan Delta Aquarid Utara, Iota Aquarid Utara dan Selatan. Alpha Capricorn, Kappa Cygnid dan beberapa hujan meteor minor lainnya. Namun Hujan meteor Perseid punya tempat yang spesial utamanya bagi masyarakat di belahan utara. Karena ternyata ada kisah mengerikan tentang hujan meteor Perseid ini.

Kadang disebut sebagai “air mata St. Lawrence”, hujan meteor tahunan ini seringkali terjadi bersamaan dengan perayaan kematian orang kudus tersebut yakni setiap tanggal 10 Agustus di Italia. Dan masih menurut kepercayaan tersebut, hujan meteor ini adalah air mata dari martir yang mati demi keyakinannya.

Di tahun 1835, Adolphe Quételet, melaporkan secara resmi kehadiran hujan meteor Perseid di setiap bulan Agustus yang tampak muncul dari Rasi Perseus. Dan pengamat pertama yang melakukan perhitungan meteor Perseid yang terlihat setiap jam adalah E. Heis (Münster). ia menemukan kalau hujan meteor ini terlihat 160 meteor per jam di tahun 1839.

Hujan Meteor Perseid berasal dari sisa debu ekor komet Swift-Tuttle yang pernah melintasi Bumi dan diamati astronom Lewis Swift dan Horace Tuttle dari Amerika pada tahun 1862. Komet ini kembali teramati pada tahun 1992 dan memiliki periode 130 tahun. Ia akan kembali ke Bumi pada tahun 2126. Saat melintas, debu ekor komet yang berupa batuan mengalami tarikan oleh gravitasi Bumi dan masuk dalam lapisan atmosfer Bumi serta terbakar di sana. Kita yang mengamati dari Bumi akan melihatnya sebagai lintasan cahaya yang sangat cepat di malam hari.

Selamat berburu meteor Perseid! Clear Sky!.