Rabu, 07 September 2011

Katai Y, Bintang Sedingin Manusia

Setelah lebih dari satu dekade para astronom memburu obyek dingin tanpa kesuksesan, hasil yang diberikan oleh Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) membuka jendela harapan bagi para astronom untuk menemukan obyek dingin lainnya.

Ilustrasi bintang katai Y. Kredit : NASA/JPL-Caltech

WISE dalam survei langit yang dilakukan berhasil menemukan 6 obyek bintang dingin yang digolongkan dalam katai Y. Yang menarik, ke-6 obyek dingin tersebut suhunya sedingin tubuh manusia. Dengan suhu sedingin itu, teleskop yang bekerja pada cahaya tampak akan sulit melihat obyek seperti it. WISE mampu melihatnya karena WISE memiliki mata inframerah yang mampu untuk mengenali pendaran cahaya lemah setengah lusin katai Y yang jaraknya juga cukup dekat dari Matahari.

Bintang Katai Y
Apa itu bintang katai Y? Ternyata ia adalah anggota paling dingin dalam keluarga katai coklat. Bintang katai coklat sering disebut sebagai bintang yang gagal, karena tidak mampu mengumpulkan cukup massa untuk memicu terjadinya pembakaran di inti dan bersinar laksana Matahari selama milyaran tahun. Karena tidak ada pembakaran di dalam dirinya obyek ini mendingin dan meredup seiring waktu sampai hanya ada secercah cahaya yang di pancarkan dan itupun pada gelombang inframerah.

Atmosfer dari bintang katai coklat juga mirip dengan planet gas raksasa seperti Jupiter, namun lebih mudah dipelajari. Ini disebabkan karena bintang katai coklat biasanya sendiri di angkasa, tidak seperti planet yang keberadaannya terhalau kuatnya cahaya bintang induk yang dikelilinginya.

Sedingin apakah bintang itu ?
Hasil pengamatan WISE mengungkap keberadaan 100 katau coklat baru, dan 6 di antaranya merupakan kelas Y atau katai Y.

Bintang katai Y merupakan bintang paling dingin di dalam keluarga katai coklat dan secara teoritis temperaturnya < 500 K. Ke-6 bintang katai Y yang ditemukan WISE diperkirakan memiliki temperatur sedingin tubuh manusia. dengan suhu terendah berasal dari WISE 1828+2650 yang memiliki temperatur lebih rendah dari temperatur ruangan atau lebih rendah dari 298 K (25°C, 80°F ).

Bintang katai coklat yang ditemukan sebelum penemuan WISE ini memiliki temperatur setara dengan tempeatur oven. Dengan ditemukannya ke-6 katai coklat yang baru tersebut, temperatur terdingin di kelas Y bergeser dari “area dapur” ke area terdingin di dalam rumah dan mereka juga berada tak jauh dari rumah manusia, hanya berjarak antara 9 – 40 tahun cahaya. Dengan jarak 9 tahun cahaya, maka WISE 1541-2250 menjadi sistem bintang terdekat ke-7 dan membuat Ross 154 si bintang katai merah menempati urutan ke-8 pada jarak 9,68 tahun cahaya. Bintang terdekat dari Tata Surya adalah Proxima Centauri dengan jarak sekitar 4 tahun cahaya.

Penemuan bintang katai coklat di dekat Matahari seperti menemukan rumah tersembunyi di lingkungan kita sendiri yang bahkan tidak pernah disadari kehadirannya. Kehadiran WISE memberi harapan baru bagi manusia untuk bisa menemukan tetangga dekat lainnya yang bahkan bisa jadi lebih dekat dari bintang terdekat saat ini.

Sumber : NASA

Senin, 04 Juli 2011

Membedah Supernova Galaksi Whirlpool

Sejak 31 Mei 2011 telah teramati supernova di lengan galaksi Whirlpool atau galaksi M51 dalam katalog Charles Messier. Supernova ini, yang pada awalnya dikodekan sebagai PSN J13303600 + 4706330, kini dinamakan supernova SN 2011dh sesuai dengan tatanama yang berlaku. Dalam konteks galaksi Whirlpool, supernova ini merupakan supernova ketiga dalam tujuh belas tahun terakhir.

Perbandingan citra galaksi Whirlpool sebelum dan sesudah 31 Mei 2011 berdasarkan observasi Bailey. Tanda panah menunjukkan posisi supernova SN 2011dh, yang tidak muncul di citra sebelah kiri. Kredit : Bailey, 2011

Supernova SN 2011dh terletak pada deklinasi +47° 10’ 11” dan ascensio recta 13j 30m 5,1d (J2000,00) atau secara relatif berada pada 2,3’ sebelah timur dan 1,5’ sebelah selatan dari pusat galaksi Whirlpool. Observasi Palomar Transient Factory dan Galaxy Zoo Supernova Project menunjukkan supernova SN 2011dh memiliki magnitud visual +13,5 dan spektrumnya konsisten dengan ciri–ciri supernova tipe II.

Weidong Li dan rekan–rekannya dari University of California Berkeley menunjukkan kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh kemungkinan telah terekam dalam database citra teleskop landas bumi Hubble yang diambil pada bulan April 2005 lewat instrumen Advanced Camera for Survey (ACS). Dengan ketidakpastian posisi 0,09” kandidat bintang leluhur tersebut terletak pada deklinasi +47° 10’ 11,55” ascensiorekta 13j 30m 5,119d (J2000,00). Obyek ini memiliki magnitud visual +21,8. Sehingga wajar jika tidak terlihat dalam citra galaksi Whirlpool yang diambil pada 30 Mei 2011 lewat teleskop reflektor 10 inci dari Universitas Ljubljana (Slovenia) yang memiliki magnitud batas +19,5. Namun Li juga menggarisbawahi bahwa bintang leluhur supernova SN 2011dh bisa juga adalah anggota gugusan bintang padat ataupun bintang lain yang tersembunyi di balik terangnya obyek yang terekam Hubble. Untuk memastikannya maka analisis lebih lanjut terus dilakukan.

Kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh (dalam lingkaran) berdasarkan citra instrumen ACS teleskop landas bumi Hubble pada spektrum visual. Kredit foto : STScI, 2005 dalam Li dkk, 2011

Dengan magnitud visual +13,5 dan jarak galaksi Whirlpool ke Bumi diestimasikan sebesar 31 juta tahun cahaya, maka supernova SN 2011dh memiliki magnitud absolut –16,4. Ini konsisten dengan ciri–ciri supernova, yang bisa memiliki magnitud absolut hingga –18. Dengan demikian supernova SN 2011dh ini melepaskan energi 300 juta kali lipat lebih besar dibanding energi Matahari. Sementara kandidat bintang pendahulunya memiliki magnitud visual +21,8 sehingga mempunyai magnitud absolut –8,1 dan luminositasnya setara dengan 147.000 Matahari. Dengan demikian hingga saat ini terdapat peningkatan kecerlangan atau peningkatan keluaran energi hingga 2.000 kali lipat antara sebelum dan sesudah supernova terjadi.

Spektrum kandidat bintang leluhur yang direkam Hubble konsisten dengan ciri–ciri spektrum bintang superraksasa kuning yang massif. Sehingga dapat diestimasikan kandidat bintang leluhur itu memiliki massa 18–24 massa Matahari. Secara teoritis sebuah bintang raksasa, yang telah mengalami reaksi fusi tingkat lanjut sehingga tidak hanya membakar Hidrogen saja, memang berpotensi menjadi supernova saat kehabisan bahan bakarnya yang diiringi pengerutan dimensi bintang oleh tarikan gravitasinya sendiri. Dengan asumsi suhu permukaannya 5.000–6.000 Kelvin (sesuai ciri–ciri bintang kuning), maka jari–jari kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh setara dengan 360–520 jari–jari Matahari atau setara dengan 1,7–2,4 AU. Bisa kita bayangkan jika Matahari menjadi bintang seperti ini, maka ukurannya akan meluas hingga ke tepi dalam Sabuk Asteroid Utama dan menelan empat planet sekaligus mulai dari Merkurius hingga Mars.

Sangat menarik untuk memprediksikan bagaimana nasib bintang tersebut pasca supernova. Pada dasarnya sebuah bintang mengalami supernova tipe II setelah suhu intinya mencapai 8 milyar Kelvin (untuk bintang bermassa 15 massa Matahari), sehingga foton sinar gamma produk reaksi fusi termonuklir memiliki energi mencukupi untuk memulai reaksi fotodisosiasi sehingga setiap Besi akan terurai menjadi 13 Helium dan neutron. Inti Helium pun akan terdisosiasi kembali menjadi proton dan neutron. Reaksi–reaksi fotodisosiasi merupakan reaksi eksoergik yang membutuhkan energi (panas) dari luar sehingga suhu inti turun drastis dan tekanan radiatifnya pun sangat menurun. Akibatnya pengerutan gravitasi pun terjadilah, yang membuat inti bintang mengerut secara dramatis sekaligus membuat proton dan elektron didalamnya bereaksi membentuk neutron. Sehingga terbentuklah bintang neutron. Namun terbuka pula kemungkinan fotodisosiasi terus berlangsung, sehingga baik proton, elektron maupun neutron bakal terurai menjadi partikel–partikel quark. Sehingga terbentuklah obyek eksotik lainnya: lubang hitam.

Apapun yang terjadi kelak, yang jelas dengan jauhnya jarak supernova SN 2011dh, dinamika yang dialaminya takkan berdampak bagi Bumi. Supernova SN 2011dh terjadi akibat reaksi fusi termonuklir sangat intens pada selang waktu sangat pendek sehingga memproduksi sinar gamma yang luar biasa banyaknya, yang dikenal sebagai gamma–ray bursts (GRB). Interaksi sinar gamma dari supernova dengan atmosfer Bumi mampu mengubah nitrogen menjadi oksida–oksida nitrogen yang berbahaya, sebab dapat melucuti lapisan Ozon. Namun pelucutan lapisan Ozon hingga separonya baru akan terjadi bila supernova tipe II berlangsung pada sebuah bintang yang terletak maksimum 26 tahun cahaya dari Bumi. Sementara SN 2011dh sejuta kali lipat lebih jauh. Dan supernova sebenarnya merupakan peristiwa biasa bagi bintang–bintang di jagat raya. Secara rata–rata antara 2007 hingga 2009 telah terdeteksi 400 supernova, namun angka sebenarnya tentu jauh lebih besar.

Sabtu, 14 Mei 2011

Atmosfer Karbon Monoksida di Pluto
Posted by ivie on Apr 21, 2011 in Planet | 5 comments
Bagikan31 0 delete
[Translate]

Dalam pertemuan Royal Astronomical Society (RAS) National Astronomyl Meeting (NAM) 2011 di Cymru, Llandudno, Wales, Dr. Jane Greaves dari University of St. Andrews memaparkan penemuan karbon monoksida di atmosfer Pluto setelah melakukan pencarian dan penelitian selama hampir 2 dekade.

Atmosfer di Pluto

Ilustrasi Pluto dengan atmosfer karbon monoksida. Matahari tampak di bagian atas dalam radiasi UV dan di samping kanan terdapat Charon. Kredit: P.A.S. Cruickshank

Planet kerdil Pluto ditemukan pada tahun 1930 dan pada saat itu diperhitungkan sebagai planet terkecil dan terjauh yang mengitari Matahari. Tahun 2006, dalam General Assembly IAU tahun 2006, para astronom melakukan klasifikasi ulang dalam hal definisi planet dan menetapkan pluto sebagai planet kerdil. Planet kerdil ini juga punya keistimewaan karena di antara planet-planet kerdil lainnya ia adalah satu-satunya yang memiliki atmosfer. Atmosfer di Pluto ditemukan pada tahun 1988 saat ia meredupkan cahaya bintang jauh sebelum Pluto melintas di depannya atau melakukan transit terhadap si bintang jauh tersebut.

Hasil terbaru dari pengamatan Teleskop James Clerk Maxwell 15 meter di Hawaii tampak sinyal gas karbon monoksida yang kuat. Sebelumnya, atmosfer di Pluto diketahui sangat tebal dan diperkirakan ketebalannya mencapai lbih dari 100 km. Data terbaru justru menunjukkan atmosfer di Pluto jauh lebih tebal lagi mencapai lebih dari 3000 km, satu per empat jarak antara Pluto dan satelit terbesarnya Charon. Gas di atmosfer tersebut luar biasa dingin sekitar -220º Celsius dan yang menjadi kejutan bagi para astronom adalah, sinyal yang mereka tangkap kekuatannya lebih dari 2 kali batas atas yag di dapat kelompok peneliti lainnya yang meggunakan Teleskop IRAM 30 meter di Spanyol pada tahun 2000.

Perubahan kecerlangan selama lebih dari satu dekade terakhir mengagetkan para peneliti. Data yang diterima menunjukkan kalau ukuran atmosfer di Pluto bertumbuh atau kelimpahan karbon monoksidanya mengalami peningkatan dengan cepat. Perubahan yang serupa pernah terlihat sebelumnya tapi hanya terjadi pada atmosfer lapisan paling rendah dimana metana juga tampak bervariasi dalam hal ukuran ketebalan. Metana merupakan gas lainnya di Pluto yang sudah diidentifikasikan positif ada.

Karbon Monoksida dan Pluto
Tahun 1989, Pluto berada pada jarak terdekat dengan Matahari. Kejadian yang cukup “langka” aka tidak biasa mengingat Pluto membutuhkan waktu 248 tahun untuk menyelesaikan satu putaran orbitnya. Gas karbon monoksida tersebut diperkirakan merupakan hasil dari pemanasan Matahari terhadap permukaan es yang kemudian menguap selama periode tersebut. Atmosfer yang terbentuk itu pun termasuk yang paling rapuh di Tata Surya, mengingat lapisan paling atasnya menggelembung (bertamabah dalam ukuran) sampai ruang angkasa.

Menuru Dr. Christiane Helling dari University of St Andrews, ketinggian karbon monoksida yang mereka lihat sesuai dengan model angin Matahari menggunduli atmosfer Pluto.

Berbeda dengan gas karbon dioksida, karbon monoksida justru bertindak sebagai pendingin sementara metana justru menyerap cahaya Matahari dan menghasilkan panas. Keseimbangan antara kedua gas merupakan jejak elemen dari atmosfer yang didominasi nitrogen, dan sangat penting dalam menentukan nasib Pluto untuk musim-musim panjang selama beberapa dekade. Atmosfer karbon monoksida yang baru ditemukan menjadi kunci penting untuk memperlambat laju kehilangan atmosfer di Pluto. Tapi, jika efek pendinginan terlalu besar, hasilnya akan terjadi hujan salju nitrogen dan seluruh gas akan membeku dan jatuh ke permukaan.

Menurut Greaves, kondisi atmosfer dingin di Pluto yang mendapatkan pengaruh terbesar dari panas yang dihasilkan Matahari bisa memberi petunjuk penting mengenai bagaimana dasar-dasar fisika bekerja dan menjadi studi kasus untuk memahami atmosfer Bumi.

Sumber : RAS NAM
Tags: atmosfer, karbon dioksida, karbon monoksida, metana, pluto

Sabtu, 16 April 2011

Dari perhitungan astronomi, pada tanggal 19 Maret 2011 Bulan dalam peredarannya mengelilingi Bumi, akan berada pada posisi paling dekat dengan Bumi, disebut sebagai posisi perigee.

Superman atau Supermoon? kredit : Astropro

Tentunya dalam peredaran mengitari Bumi, Bulan akan selalui melalui posisi perigee, tetapi posisi perigee tersebut tidak selalu berada pada angka yang tepat sama, tetapi bervariasi sepanjang waktu.

Pada tanggal tersebut, yang pada saat itu Bulan dalam fase Purnama, dalam perhitungan merupakan jarak yang paling dekat ke Bumi semenjak 18 tahun yang lalu. Lalu? Apa yang akan terjadi? Beredar kabar di dunia maya, bahwa pada saat tersebut, akan terjadi bencana alam yang sangat dahsyat, mulai dari badai besar, gempa Bumi sampai dengan letusan gunung berapi. Sepertinya seram sekali! Tetapi benarkah itu?

Mari kita tinjau satu persatu, pertama, fenomena ‘supermoon’, ini sebetulnya adalah fenomena alam yang biasa terjadi. Pada suatu ketika, dalam peredarannya di langit, Bulan-Bumi-Matahari bisa berada dalam satu garis lurus, biasanya pada saat itu bisa terjadi bulan baru atau bulan purnama. Dan bila pada saat bulan purnama, Bulan berada pada posisi perigee, maka keadaan ini oleh para ahli astrologi (bukan ahli astronomi!) disebut ‘super moon’! Jadi istilah super moon bukanlah istilah astronomi, tetapi istilah astrologi.

Kedua, pada tanggal itu, akan terjadi bencana alam? Tentulah dalam siklus alamiah, Bulan mempengaruhi terjadinya gaya pasang surut laut di Bumi, dan ketika Bulan ‘mendekat’, tentulah pengaruh gravitasi Bulan menjadi lebih besar (demikian yang dikatakan hukum gravitasi Newton). Akan tetapi, apakah bila pengaruh gravitasi Bulan menjadi lebih besar, akan terjadi bencana alam? Mari kita sedikit berhitung dengan matematika. Ambil rata-rata jarak Bumi-Bulan 382900 km, sedangkan pada tanggal 19 Maret 2011, Bumi-Bulan berjarak 356577 km, atau ‘mendekat’ sejarak 26323 km, atau hanya 6,87% lebih dekat dibanding rata-rata.

Posisi Bulan saat berada di perigee atau titik terdekat dengan Bumi. kredit StarryNight Education

Dengan jarak yang sekecil itu (6,87%), akan menyebabkan dampak yang luar biasa? Seperti biasa, efek pasang surut terjadi setiap hari, dan bila resultan vektor gaya gravitasi Bulan & Matahari menjadi lebih besar maka efek pasang surut menjadi lebih besar.

Posisi Bumi-Bulan-Matahari dan kaitannya dengan pasang surut. kredit : Boomeria.org

Tentunya pada saat ketika purnama ditambah perigee, gaya gravitasi menjadi lebih berpengaruh, tetapi, dari studi geofisika yang telah banyak dilakukan, tidak dtemukan adanya dampak yang signifikan pada keseimbangan energi Bumi. Gempa Bumi, letusan vulkanik, ataupun berbagai fenomena di Bumi lebih disebabkan keseimbangan energi di Bumi, seperti pergeseran lempeng Bumi, sedangkan efek pasang surut oleh Bulan, tidaklah cukup kuat menggeser keseimbangan energi tersebut, yang artinya ‘super moon’ tidak akan menyebabkan bencana alam.

Mungkin dibutuhkan seorang Superman yang datang dari planet Kripton untuk menggeser keseimbangan Bumi, karena Superman mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dibanding kekuatan super moon; tetapi kita tahu bahwa superman adalah tokoh rekaan, sebagaimana bencana akibat super moon adalah telaah astrologi. Kalau sudah demikian, pertanyaan berikut, apa yang akan terjadi di tanggal 19 Maret yang akan datang?

Yang pasti Bulan akan tampak lebih ‘besar’ 14% dan 30% lebih cerlang di Banding ‘biasanya’, dan kesempatan yang langka untuk menikmati Bulan, sembari memotretnya, atau sekedar nongkrong-nongkrong sembari minum coklat hangat dan menikmati kudapan di malam hari (bila langit cerah).

Bulan Purnama saat di perigee akan tampak lebih besar 14%. kredit: NASA

Apakah Ada Gunung Api Es di Titan ?

Di antara bulan-bulan di Saturnus, ada sebuah obyek lain yang sering disebut sebagai Bumi purba. Ia adalah Titan, obyek dingin berselimut kabut yang merupakan bulan terbesar di Saturnus. Misi Cassini – Huygens yang dikirim ke planet bercincin tersebut memang bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut misteri dibalik dunia kecil Saturnus.

Adakah Sumber Panas di Titan?

Saturnus dan Titan. kredit : NASA

Hasil penelitian ilmuwan NASA dari hasil yang dibawa Cassini saat terbang lintas di Titan membawa cerita baru yang menarik. Pertanyaan awalnya, apakah bagian permukaan dan perut Titan akhir-akhir ini membara seperti kawah dingin yang menggelegak dengan vulkanik es ataukah satelit yang satu ini mengalami pendinginan ?

Jeff Moore dari Ames Research Center, NASA, Moffett Field, Calif yang melakukan penelitian tersebut menyimpulkan kalau interior Titan memang dingin dan tidak aktif. Akibatnya ia tidak akan mampu untuk membangkitkan aktivitas gunung api es. Artinya dibutuhkan suatu aktivitas vulkanik yang bisa membawa materi dari bagian dalam Titan ke permukaannya.

Pemahaman tingkat aktivitas geologi di Titan ini penting untuk membantu para ahli astrobiologi dalam memahami kemungkinan Titan sebagai bulan yang dapat mendukung keberadaan habitat kehidupan yang unik.

Tentu akan menarik jika bisa menemukan bukti kuat yang menunjukkan sumber panas di dalam Titan yang dapat menyebabkan terbentuknya gunung api es dan aliran lava. Akan tetapi, bukti yang di dapat sampai saat ini tidaklah meyakinkan. Tak hanya itu, penelitian interior Titan yang dilakukan oleh para ahli geofisika dan gravitasi juga semakin memperkecil kemungkinan keberadaan gunung api di Titan.

Titan memang menunjukkan bukti keberadaan danau metana dan etana cair, lembah yang diukir dengan cairan metana dan etana tersebut serta kawah hasil tabrakan.

Citra Tortola Facula yang diambil Cassini di Titan. kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Arizona

Perdebatan Yang Berlanjut
Data yang dihasilkan Cassini masih menjadi debat terkait bagaimana menginterpretasi data-data tersebut. Sebagian ilmuwan beranggapan bahwa gunung api es di Titan memang ada dan membangun teori kalau energi untuk terjadinya gunung api tersebut berasal dari sumber panas internal yang menyebabkan es mengalami kenaikan dan melepaskan uap metana saat mencapai permukaan Titan.

Dari penelitian Jeff Moore, satu-satunya fitur yang ada di permukaan Titan yang berhasil diidentifikasi terbentuk akibat sesuatu yang berasal dari luar buan interior Titam. Gaya dari luar tersebut meliputi tabrakan obyek lain di permukaan dan membentuk kawah, angin dan hujan yang menghantam permukaan dan pembentukan sungai serta danau. Titan memang tak bisa dipungkiri merupakan dunia yang memukau dan penuh misteri. Keunikannya berasal dari atmosfer dan danau organik yang ada disana. Akan tetapi dalam penelitian kali ini, para peneliti tidak dapat memberi bukti kuat keberadaan gunung api es di Titan.

Gunung Api Es
Pada bulan Desember 2010, sekelompok peneliti Cassini memaparkan data topografi baru di Titan yang dinamakan Sotra Facula. Menurut para peneliti tersebut, Sotra Facula merupakan kasus terbaik untuk menunjukkan kemungkinan keberadaan gunung berapi yang sekali waktu di masa lalu mengalami erupsi dan memuntahkan es di Titan.

Terkait penelitian yang dilakukan Moore, ia tidak secara eksplisit mempertimbangkan keberadaan analisa topografi tersebut karena tampaknya mereka tidak menemukan kalau analisa Sotra Facula cukup meyakinkan. Butuh penelitian dan analisa lebih lanjut mengenai keberadaan Sotra Facula sehingga dapat menjadi bahan acuan dan apakah hal tersebut dapat memberi dampak pada hasil penelitian Moore dan Robert Pappalardo, dari Jet Propulsion Laboratory, NASA, Pasadena, Calif.

Perbandingan citra fitur area Xanadu yang diambil Cassini di Titan (kiri) dan fitur yang diamati Galileo di Callisto. kredit :NASA/JPL-Caltech

Titan memiliki kemiripan dengan Callisto, salah satu satelit Jupiter jika Callisto memiliki cuaca. Setiap fitur yang tampak di Titan dapat dijelaskan sebagai akibat dari angin, hujan dan tabrakan meteorit bukannya dari pemanasan internal. Nah, si callisto di Jupiter pada dasarnya memiliki ukuran yang sama dengan Titan. Ia juga memiliki permukaan yang dipenuhi kawah, dan sebagai akibat kondisi internalnya yang dingin, permikaan Callisto tidak terpengaruh oleh gaya di dalamnya. Menurut Moore dan Pappalardo, Titan bisa jadi memiliki interior yang dingin dan hanya proses eksternal seperti angin, hujan dan tabrakan meteor yang bisa mengubah bentuk permukaan satelit tersebut.

Sekilas Misi Cassini
Cassini merupakan misi bersama NASA, ESA, Italian Space Agency, dan JPL (divisi di Institute of Technology, Pasadena) yang diluncurkan Oktober 1997. Setelah tiba di Saturnus pada tahun 2004, Cassini melaksanakan misi eksplorasi Saturnus dan satelit-satelitnya selama 4 tahun dan berakhir bulan Juni 2008. Misi Cassini kemudian diperpanjang dengan nama Cassini Equinox Mission dan berakhir di bulan September 2010. Perpanjangan misi Cassini kemudian dilanjutkan oleh Cassini Solstice Mission yang akan berakhir di bulan September 2017.

Tujuan perjalanan Cassini adalah untuk melakukan penelitian pada saturnus, cincinnya serta satelit-satelitnya. Salah satunya adalah Titan yang merupakan satelit terbesar di Saturnus dan merupakan satu-satunya satelit dengan atmosfer yang rapat. Atmosfer di Titan sebagian besar diisi oleh nitrogen dan sekitar 2% – 3% metana. Salah satu tujuan perjalanan Cassini adalah untuk mengetahui ada apa dibalik atmosfer Titan. Atmosfer Titan yang tebal menyulitkan camera yang bekerja pada cahaya tampak yang hendak mempelajari pemrukaannya. Dengan instrumen inframerah dan sinyal radar yang dimiliki Cassini, para ilmuwan dapat menembus kabut tebal tersebut dan memperoleh informasi komposisi dan bentuk permukaan satelit penuh misteri itu.

Pesawat ruang angkasa Cassini masih akan terus mengorbit Saturnus dan melakukan terbang lintas di Titan untuk mengeksplorasi lebih jauh misteri yang ada di baliknya.

Sumber : JPL NASA

Sabtu, 05 Maret 2011

Benarkah Ada Planet Raksasa Yang Bersembunyi di Awan Oort ?


Ada planet baru di Tata Surya dan ia berada jauh di bagian terluar Tata Surya di awan Oort. Itulah berita yang dicetuskan oleh duo ilmuwan yang berkecimpung dalam dunia keplanetan dari University of Lousiana-Lafayette.

Kandidat Planet ke-9?

Dewi Tyche.

Adalah John Matese dan Daniel Whitmire yang dalam penelitiannya melihat ada gangguan pada orbit komet-komet di awan Oort. Nah, dari apa yang mereka lihat inilah, disimpulkan bahwa ada sebuah obyek besar yang berupa sebuah planet di awan Oort yang gravitasinya mengganggu orbit komet yang berasal dari awan Oort. Analisa ini sudah dikemukakan sejak tahun 1999.

Analisa ini muncul setelah mereka melihat komet yang berasal dari awan Oort memiliki orbit yang janggal dan tidak sesuai dengan teori bagaimana seharusnya komet bergerak. Pada awalnya mereka mengemukakan ide bahwa gangguan itu disebabkan oleh bintang katai coklat atau katai merah redup yang merupakan bintang pasangan Matahari yang disebut Nemesis. Ide tentang Nemesis ini sendiri sudah dibantah secara luas.

Di tahun 2011, John dan Daniel kembali mengemukakan analisa mereka dengan sebuah analisa baru kalau si obyek besar di awan Oort itu adalah sebuah kandidat planet yang 4 kali lebih besar dari planet Jupiter dan berada 15000 kali jarak Bumi-Matahari dan 375 kali lebih jauh dari Pluto. Idenya, planet raksasa inilah yang menjadi jawaban mengapa komet periode panjang tampak mengelompok pada pita yang yang cenderung ellips dan bukannya datang dari arah yang acak. Tapi jaraknya yang sangat jauh itulah yang menyebabkan planet yang dinamakan Tyche ini belum terlihat.

Menurut Matese, “Apa yang baru adalah, polanya yang tetap sama dan ada kemungkinan bahwa ini suatu kebetulan statistik, namun kemungkinan itu semakin berkurang dengan adanya data yang dikumpulkan dalam 10 tahun terakhir.”

Menurut John Matese dan Daniel Whitmire, si planet Tyche tersebut sudah bisa dibuktikan keberadaannya, karena teleskop landas angkasa WISE milik NASA diperkirakan sudah melihatnya dan sudah siap untuk dianalisa. Dikatakan juga data pertama dari planet tersebut akan dirilis bulan April, dan setelah si kandidat planet Tyche bisa diketahui lokasinya maka semua teleskop akan mengarah kesana.

Di sisi lain, spektrum yang dilihat Matese juga masih tidak dapat dipastikan dan diperkirakan memiliki banyak sinyal yang serupa dengan yang diharapkan sebagai obyek yang mereka duga. Jadi untuk mengetahui kepastiannya, dibutuhkan waktu dan bisa jadi membutuhkan waktu selama 2 tahun sebelum sinyal dari Tyche – jika memang ada – bisa diketahui keberadaannya.

Nama Tyche sendiri merupakan nama dewi Yunani, Tyche yang bertanggungjawab atas nasib sebuah kota. Tyche dalam mitologi Yunani merupakan saudari Nemesis, yang selama ini dikaitkan sebagai bintang pasangan fiktif Matahari dan digadang-gadang akan muncul dan menyebabkan kiamat di tahun 2012.

Pertanyannya, benarkah ada penemuan kandidat planet baru oleh WISE saat ini?

Benarkah ada planet yang bersembunyi?
Setelah berita tersebut beredar selama beberapa hari, teleskop WISE pun secara resmi memberikan pernyataannya.

Dalam pernyataannya, WISE menyebutkan, “Ada banyak desas desus di berita tentang WISE menemukan planet baru. Tidak benar. Sepasang ilmuwan mempublikasikan makalah mereka dan menyatakan jika ada planet besar di area luar Tata Surya, maka WISE pasti sudah melihatnya. Ini benar. Tapi dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menganalisa dan menentukan jika WISE memang mendeteksi obyek tersebut atau tidak”

Berbagai tanggapan pun muncul dari para ilmuwan yang berkiprah dalam bidang keplanetan. Dan tidak semua orang cukup optmis dan yakin dengan dugaan keberadaan planet raksasa lebih besar dari Jupiter di awan oort tersebut.

Area Tata Surya. kredit : NASA

Matthew Holman, ilmuwan keplanetan dari Harvard Smithsonian Institute of Astrophysics mengatakan, “berdasar pada paper lama yang telah saya lihat, pada komet periode panjang yang datang dari langit, dan menemukan penanda adanya gangguan besar pada awan Oort, saya tidak terpengaruh oleh bukti tersebut”

Hal Levison, salah seorang pakar dalam sistem keplanetan dari Southwest Reasearch Institute di Boulder, Colo, yang juga menulis paper mengenai awan Oort di Majalah Science menyokong pendapat tersebut.

Levison yang melakukan riset mengenai dinamika obyek astronomi dengan fokus pada perilaku jangka panjang dari obyek-obyek di Tata Surya mengatakan, “Saya belum membaca versi terbaru dari paper tersebut yang disebut memiliki statistik lebih baik dari yang sebelumnya, dimana mereka juga menyatakan sudah melihat bukti keberadaan obyek tersebut. Tapi dari paper sebelumnya, saya pikir mereka melakukan perhitungan statistik yang salah. Klaim yang luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa dan saya meyakini dia tidak memahami bagaimana melakukan perhitungan statistik dengan benar.”

Matese mengklaim kalau ia melihat ekses kedatangan komet dari lokasi tertentu, yang ia katakan sebagai efek gravitasi planet besar di awan Oort. Ide ini tidak sepenuhnya salah namun menurut Levison, sinyal yang diklaim Matese sebagai planet itu hampir tidak kentara atau sinyalnya sangat lemah, dan secara statistik tidaklah signifikan.

Pendapat yang serupa juga datang dari Mike Brown, ahli keplanetan yang menemukan Eris, Haumea, Sedna dan Makemake. Kepada Universe Today, Mike mengemukakan kemungkinan keberadaan sebuah planet yang berada pada jarak 500 kali lebih jauh dari Neptunus itu memungkinkan dan merupakan ide yang membangkitkan keingintahuan yang bahkan sudah dispekulasikan selama bertahun-tahun.

Tapi benarkah ada bukti keberadaannya?

Menurut Mike, data yang dimiliki Matese dan Whitmere tidak cukup kuat dan itu bukan kesalahan mereka karena data tersebut hanya berupa rekam jejak asal kedatangan komet. Tidak setiap orang mampu memahami seluk beluk set data dengan sangat baik untuk bisa mengambil kesimpulan yang kuat. Tapi lagi menurut Mike, Matese dan Whitmere sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa lakukan untuk melihat bahwa data tersebut menunjuk pada sesuatu yang ada di luar sana.

Akan tetapi data yang ada tidak cukup untuk bisa meyakinkan Mike Brown untuk meyakini bahwa memang ada planet sebesar itu di awan Oort. Selain itu tidak ada bukti pendukung lain yang bisa menyatakan bahwa si planet itu memang ada.

Tapi para ilmuwan ini meyakini WISE memiliki kesemptan yang bagus untuk bisa mendeteksi obyek seperti itu di area terluar Tata Surya – jika ada. Dan tentunya ini akan menjadi data yang ditunggu jika memang kandidat planet seperti itu ada. WISE akan melihatnya bukan karena ada prediksi tentang planet ini melainkan karena memang area tersebut merupakan area tidak dikenal di Tata Surya yang harus dilihat.

Jadi tidak ada planet ke-9 atau planet baru bernama Tyche, karena kandidatnya pun belum diketahui keberadaannya. Yang ada hanya sebuah prediksi dengan data yang analisanya juga masih diragukan oleh para ilmuwan lainnya.

Berita penemuan planet ke-9 bernama Tyche dan berita IAU akan mengumumkan statusnya adalah HOAX.

Referensi : Universe Today, Space

Pembentukan Planet Baru di T Chamaeleon?

Dengan menggunakan Very Large Telescope milik ESO, tim peneliti internasional dari Max Planck Institute for Astronomy, Heidelberg, Germany berhasil mempelajari piringan materi yang memiliki waktu hidup pendek di sekitar bintang muda yang sedang berada pada tahap awal pembentukan sistem keplanetan.

Pasangan di Bintang T Chamaeleon

Ilustrasi piringan di sekitar bintang muda T Cha. kredit : ESO/L. Calçada

Apa yang menarik dari penemuan ini? Setelah bertahun-tahun, kini para peneliti exoplanet bisa mendeteksi obyek kecil yang menyebabkan terjadinya gap besar yang ditemukan dalam piringan. Apakah si obyek ini planet atau bintang katai coklat, para peneliti masih harus mempelajarinya lebih lanjut.

Planet terbentuk dari piringan material yang ada di sekitar bintang muda, tapi transisi dari piringan debu menjadi sistem keplanetan biasanya terjadi sangat cepat dan biasanya pada fase ini ada beberapa obyek yang tertangkap. Nah salah satu obyek tersebut adalah T Chamaeleontis (T Cha), sebuah bintang redup yang berada di konstelasi Chamaeleon. Bintang ini mirip Matahari tapi sedang berada pada tahap awal evolusinya aka masih sangat muda atau baru memulai kehidupannya.

T Cha berada pada jarak 350 tahun cahaya dari Bumi dan baru berusia 7 juta tahun. Yang membuatnya jadi unik adalah karena sampai saat ini belum ada pembentukan planet yang berhasil dideteksi dalam piringan transisi meskipun planet yang berada pada piringan debu yang lebih tua sudah pernah terlihat sebelumnya di Beta Pictoris.

Pengamatan T Cha
Studi awal yang dilakukan pada T Cha menunjukkan bahwa ia merupakan target yang tepat untuk mempelajari pembentukan sistem keplanetan. Yang menjadi masalah, bintang ini berada cukup jauh dan dibutuhkan kemampuan yang sangat tinggi dari Very Large Telescope Interferometer (VLTI) untuk bisa memperlihatkan dan memisahkan setiap detil dengan sangat baik untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi dalam piringan debu tersebut.

T Cha pertama kali diamati dengan menggunakan instrumen AMBER dan VLT Interferometer (VLTI). Dalam penglihatan instrumen tersebut, sebagian piringan materi membentuk cicin debu tipis yang hanya berjarak 20 juta km dari bintang.

Di luar piringan bagian dalam, ditemukan area tanpa debu dengan bagian terluar dari piringan merentang sampai 1,1 milyar km dari bintang.

Menurut Nuria Huélamo (Centro de Astrobiología, ESAC, Spanyol), peneliti lainnya dalam studi T Chamaeleon, gap yang ada dalam piingan debu di sekitar T Cha seperti senjata berasap yang memunculkan pertanyaan mungkinkah para peneliti ini sedang menjadi saksi dari pasangan yang membentuk gap di dalam piringan protoplanet?

Untuk bisa menemukan pasangan yang redup dan berada demikian dekat dengan bintang terang jelas memberikan tantangan tersendiri. Tim peneliti ini menggunakan instrumen NACO pada VLT untuk bisa mencapai tujuan mereka.

Hasil analisa menunjukkan kalau tim peneliti tersebut menemukan tanda keberdaan sebuah obyek di dalam gap piringan debu pada jarak 1 milyar km dari bintang atai sedikit lebih jauh dari jarak Matahari-Jupiter di Tata Surya dan si obyek ini berada dekat dengan tepi terluar gap.

Penemuan ini menandai pertama kalinya dideteksi sebuah obyek yang lebih kecil dari bintang dalam gap piringan debu pembentukan planet di sekeliling bintang muda. Bukti yang ada menunjukkan, obyek pasangan tersebut bukanlah bintang normal tapi bisa jadi ia merupakan bintang katai coklat yang dikelilingi debu ataukah yang lebih menarik lagi, sebuah planet yang baru terbentuk.

Dibutuhkan observasi lanjutan di masa depan untuk mengetahui apakah obyek yang baru ditemukan itu sekaligus untuk memahami apakah yang menjadi bahan bajar bagi bagian dalam piringan debu tersebut.

Sumber:ESO

Berpacu Dengan Waktu Mengkonfirmasi Asteroid

Teleskop Pan-STARRS PS1 di Haleakala, Maui berhasil menemukan 19 asteroid dekat Bumi pada malam tanggal 29 Januari. Istimewanya, inilah asteroid terbanyak yang ditemukan oleh 1 teleskop dalam 1 malam.
Tapi apa pentingnya mengkatalogkan asteroid tersebut?

Penemuan Asteroid

asteroid dekat Bumi.

Asteroid merupakan benda berukuran lebih kecil tapi lebih besar dari meteorit yang berada di area dalam Tata Surya. Astroid juga dikenal sebagai planet yang gagal terbentuk. Di Tata Surya, asteroid menempati area yang disebut Sabuk Utama asteroid di antara Mars dan Jupiter, namun ada juga asteroid yang berkeliaran di antara Mars dan Bumi. Dan asteroid yang ada dekat Bumi inilah yang memiliki potensi berpapasan sangat dekat dengan Bumi atau malah bisa menabrak Bumi.

Katalog asteroid dekat Bumi menjadi penting bagi para ilmuwan karena dari data yang ada mereka bisa menyusun skenario kemungkinan masa depan kehidupan di Bumi jika salah satu batuan ini menabrak Bumi. Dan juga bisa memberi informasi kapan si batuan ini berpapasan dengan Bumi.

Teleskop Pan-STARRS PS1 milik University of Hawaii di Haleakala. kredit: Rob Ratkowski

Dalam satu malam pengamatan tersebut, Larry Denneau di University of Hawaii di Manoa menerima 30 kandidat asteroid dekat Bumi untuk diproses.

Asteroid bisa ditemukan karena mereka tampak bergerak terhadap bintang-bintang latar belakang. Untuk mengkonfirmasi bahwa memang yang ditemukan itu asteroid, para ilmuwan harus melakukan pengamatan berulang-ulang dalam waktu 12 – 72 jam untuk menentukan orbitnya. Kalau tidak maka mereka akan segera menghilang.

Setelah ditemukan, Denneau mengirimkan data penemuannya ke Minor Planet Center di Cambridge, Mass, agar astronom lainnya dapat melakukan pengamatan ulang obyek-obyek yang mereka lihat tersebut.

Biasanya, ada beberapa observatorium yang akan membantu mengkonfirmasi penemuan tersebut. Namun sayangnya, badai salju yang terjadi membuat observatorium tersebut tutup dan para peneliti ini harus berpacu untuk mengkonfirmasi sebagian penemuannya.

Richard Wainscoat dari Institute for Astronomy, David Tholen dan mahasiswa pasca sarjana Marco Micheli menghabiskan 3 malam untuk mencari asteroid-asteroid tersebut menggunakan teleskop di Mauna Kea Observatories, Hawaii. Pada hari minggu malam, mereka berhasil mengkonfirmasi 2 asteroid dekat Bumi sebelum turun salju di Mauna Kea. Dan di hari senin, mereka berhasil menemukan 9 asteroid sebelum kabut menghalangi pengamatan.

Di hari selasa malam, mereka mencari 4 asteroid lagi namun hanya menemukan satu. Dan setelah selasa, asteroid lainnya tidak dapat dikonfirmasi karena mereka sudah bergerak terlalu jauh untuk bisa ditemukan.

Sumber : Institute for Astronomy University of Hawaii