Sabtu, 16 April 2011

Dari perhitungan astronomi, pada tanggal 19 Maret 2011 Bulan dalam peredarannya mengelilingi Bumi, akan berada pada posisi paling dekat dengan Bumi, disebut sebagai posisi perigee.

Superman atau Supermoon? kredit : Astropro

Tentunya dalam peredaran mengitari Bumi, Bulan akan selalui melalui posisi perigee, tetapi posisi perigee tersebut tidak selalu berada pada angka yang tepat sama, tetapi bervariasi sepanjang waktu.

Pada tanggal tersebut, yang pada saat itu Bulan dalam fase Purnama, dalam perhitungan merupakan jarak yang paling dekat ke Bumi semenjak 18 tahun yang lalu. Lalu? Apa yang akan terjadi? Beredar kabar di dunia maya, bahwa pada saat tersebut, akan terjadi bencana alam yang sangat dahsyat, mulai dari badai besar, gempa Bumi sampai dengan letusan gunung berapi. Sepertinya seram sekali! Tetapi benarkah itu?

Mari kita tinjau satu persatu, pertama, fenomena ‘supermoon’, ini sebetulnya adalah fenomena alam yang biasa terjadi. Pada suatu ketika, dalam peredarannya di langit, Bulan-Bumi-Matahari bisa berada dalam satu garis lurus, biasanya pada saat itu bisa terjadi bulan baru atau bulan purnama. Dan bila pada saat bulan purnama, Bulan berada pada posisi perigee, maka keadaan ini oleh para ahli astrologi (bukan ahli astronomi!) disebut ‘super moon’! Jadi istilah super moon bukanlah istilah astronomi, tetapi istilah astrologi.

Kedua, pada tanggal itu, akan terjadi bencana alam? Tentulah dalam siklus alamiah, Bulan mempengaruhi terjadinya gaya pasang surut laut di Bumi, dan ketika Bulan ‘mendekat’, tentulah pengaruh gravitasi Bulan menjadi lebih besar (demikian yang dikatakan hukum gravitasi Newton). Akan tetapi, apakah bila pengaruh gravitasi Bulan menjadi lebih besar, akan terjadi bencana alam? Mari kita sedikit berhitung dengan matematika. Ambil rata-rata jarak Bumi-Bulan 382900 km, sedangkan pada tanggal 19 Maret 2011, Bumi-Bulan berjarak 356577 km, atau ‘mendekat’ sejarak 26323 km, atau hanya 6,87% lebih dekat dibanding rata-rata.

Posisi Bulan saat berada di perigee atau titik terdekat dengan Bumi. kredit StarryNight Education

Dengan jarak yang sekecil itu (6,87%), akan menyebabkan dampak yang luar biasa? Seperti biasa, efek pasang surut terjadi setiap hari, dan bila resultan vektor gaya gravitasi Bulan & Matahari menjadi lebih besar maka efek pasang surut menjadi lebih besar.

Posisi Bumi-Bulan-Matahari dan kaitannya dengan pasang surut. kredit : Boomeria.org

Tentunya pada saat ketika purnama ditambah perigee, gaya gravitasi menjadi lebih berpengaruh, tetapi, dari studi geofisika yang telah banyak dilakukan, tidak dtemukan adanya dampak yang signifikan pada keseimbangan energi Bumi. Gempa Bumi, letusan vulkanik, ataupun berbagai fenomena di Bumi lebih disebabkan keseimbangan energi di Bumi, seperti pergeseran lempeng Bumi, sedangkan efek pasang surut oleh Bulan, tidaklah cukup kuat menggeser keseimbangan energi tersebut, yang artinya ‘super moon’ tidak akan menyebabkan bencana alam.

Mungkin dibutuhkan seorang Superman yang datang dari planet Kripton untuk menggeser keseimbangan Bumi, karena Superman mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dibanding kekuatan super moon; tetapi kita tahu bahwa superman adalah tokoh rekaan, sebagaimana bencana akibat super moon adalah telaah astrologi. Kalau sudah demikian, pertanyaan berikut, apa yang akan terjadi di tanggal 19 Maret yang akan datang?

Yang pasti Bulan akan tampak lebih ‘besar’ 14% dan 30% lebih cerlang di Banding ‘biasanya’, dan kesempatan yang langka untuk menikmati Bulan, sembari memotretnya, atau sekedar nongkrong-nongkrong sembari minum coklat hangat dan menikmati kudapan di malam hari (bila langit cerah).

Bulan Purnama saat di perigee akan tampak lebih besar 14%. kredit: NASA

Apakah Ada Gunung Api Es di Titan ?

Di antara bulan-bulan di Saturnus, ada sebuah obyek lain yang sering disebut sebagai Bumi purba. Ia adalah Titan, obyek dingin berselimut kabut yang merupakan bulan terbesar di Saturnus. Misi Cassini – Huygens yang dikirim ke planet bercincin tersebut memang bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut misteri dibalik dunia kecil Saturnus.

Adakah Sumber Panas di Titan?

Saturnus dan Titan. kredit : NASA

Hasil penelitian ilmuwan NASA dari hasil yang dibawa Cassini saat terbang lintas di Titan membawa cerita baru yang menarik. Pertanyaan awalnya, apakah bagian permukaan dan perut Titan akhir-akhir ini membara seperti kawah dingin yang menggelegak dengan vulkanik es ataukah satelit yang satu ini mengalami pendinginan ?

Jeff Moore dari Ames Research Center, NASA, Moffett Field, Calif yang melakukan penelitian tersebut menyimpulkan kalau interior Titan memang dingin dan tidak aktif. Akibatnya ia tidak akan mampu untuk membangkitkan aktivitas gunung api es. Artinya dibutuhkan suatu aktivitas vulkanik yang bisa membawa materi dari bagian dalam Titan ke permukaannya.

Pemahaman tingkat aktivitas geologi di Titan ini penting untuk membantu para ahli astrobiologi dalam memahami kemungkinan Titan sebagai bulan yang dapat mendukung keberadaan habitat kehidupan yang unik.

Tentu akan menarik jika bisa menemukan bukti kuat yang menunjukkan sumber panas di dalam Titan yang dapat menyebabkan terbentuknya gunung api es dan aliran lava. Akan tetapi, bukti yang di dapat sampai saat ini tidaklah meyakinkan. Tak hanya itu, penelitian interior Titan yang dilakukan oleh para ahli geofisika dan gravitasi juga semakin memperkecil kemungkinan keberadaan gunung api di Titan.

Titan memang menunjukkan bukti keberadaan danau metana dan etana cair, lembah yang diukir dengan cairan metana dan etana tersebut serta kawah hasil tabrakan.

Citra Tortola Facula yang diambil Cassini di Titan. kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Arizona

Perdebatan Yang Berlanjut
Data yang dihasilkan Cassini masih menjadi debat terkait bagaimana menginterpretasi data-data tersebut. Sebagian ilmuwan beranggapan bahwa gunung api es di Titan memang ada dan membangun teori kalau energi untuk terjadinya gunung api tersebut berasal dari sumber panas internal yang menyebabkan es mengalami kenaikan dan melepaskan uap metana saat mencapai permukaan Titan.

Dari penelitian Jeff Moore, satu-satunya fitur yang ada di permukaan Titan yang berhasil diidentifikasi terbentuk akibat sesuatu yang berasal dari luar buan interior Titam. Gaya dari luar tersebut meliputi tabrakan obyek lain di permukaan dan membentuk kawah, angin dan hujan yang menghantam permukaan dan pembentukan sungai serta danau. Titan memang tak bisa dipungkiri merupakan dunia yang memukau dan penuh misteri. Keunikannya berasal dari atmosfer dan danau organik yang ada disana. Akan tetapi dalam penelitian kali ini, para peneliti tidak dapat memberi bukti kuat keberadaan gunung api es di Titan.

Gunung Api Es
Pada bulan Desember 2010, sekelompok peneliti Cassini memaparkan data topografi baru di Titan yang dinamakan Sotra Facula. Menurut para peneliti tersebut, Sotra Facula merupakan kasus terbaik untuk menunjukkan kemungkinan keberadaan gunung berapi yang sekali waktu di masa lalu mengalami erupsi dan memuntahkan es di Titan.

Terkait penelitian yang dilakukan Moore, ia tidak secara eksplisit mempertimbangkan keberadaan analisa topografi tersebut karena tampaknya mereka tidak menemukan kalau analisa Sotra Facula cukup meyakinkan. Butuh penelitian dan analisa lebih lanjut mengenai keberadaan Sotra Facula sehingga dapat menjadi bahan acuan dan apakah hal tersebut dapat memberi dampak pada hasil penelitian Moore dan Robert Pappalardo, dari Jet Propulsion Laboratory, NASA, Pasadena, Calif.

Perbandingan citra fitur area Xanadu yang diambil Cassini di Titan (kiri) dan fitur yang diamati Galileo di Callisto. kredit :NASA/JPL-Caltech

Titan memiliki kemiripan dengan Callisto, salah satu satelit Jupiter jika Callisto memiliki cuaca. Setiap fitur yang tampak di Titan dapat dijelaskan sebagai akibat dari angin, hujan dan tabrakan meteorit bukannya dari pemanasan internal. Nah, si callisto di Jupiter pada dasarnya memiliki ukuran yang sama dengan Titan. Ia juga memiliki permukaan yang dipenuhi kawah, dan sebagai akibat kondisi internalnya yang dingin, permikaan Callisto tidak terpengaruh oleh gaya di dalamnya. Menurut Moore dan Pappalardo, Titan bisa jadi memiliki interior yang dingin dan hanya proses eksternal seperti angin, hujan dan tabrakan meteor yang bisa mengubah bentuk permukaan satelit tersebut.

Sekilas Misi Cassini
Cassini merupakan misi bersama NASA, ESA, Italian Space Agency, dan JPL (divisi di Institute of Technology, Pasadena) yang diluncurkan Oktober 1997. Setelah tiba di Saturnus pada tahun 2004, Cassini melaksanakan misi eksplorasi Saturnus dan satelit-satelitnya selama 4 tahun dan berakhir bulan Juni 2008. Misi Cassini kemudian diperpanjang dengan nama Cassini Equinox Mission dan berakhir di bulan September 2010. Perpanjangan misi Cassini kemudian dilanjutkan oleh Cassini Solstice Mission yang akan berakhir di bulan September 2017.

Tujuan perjalanan Cassini adalah untuk melakukan penelitian pada saturnus, cincinnya serta satelit-satelitnya. Salah satunya adalah Titan yang merupakan satelit terbesar di Saturnus dan merupakan satu-satunya satelit dengan atmosfer yang rapat. Atmosfer di Titan sebagian besar diisi oleh nitrogen dan sekitar 2% – 3% metana. Salah satu tujuan perjalanan Cassini adalah untuk mengetahui ada apa dibalik atmosfer Titan. Atmosfer Titan yang tebal menyulitkan camera yang bekerja pada cahaya tampak yang hendak mempelajari pemrukaannya. Dengan instrumen inframerah dan sinyal radar yang dimiliki Cassini, para ilmuwan dapat menembus kabut tebal tersebut dan memperoleh informasi komposisi dan bentuk permukaan satelit penuh misteri itu.

Pesawat ruang angkasa Cassini masih akan terus mengorbit Saturnus dan melakukan terbang lintas di Titan untuk mengeksplorasi lebih jauh misteri yang ada di baliknya.

Sumber : JPL NASA