Jumat, 23 Juli 2010

Gelombang Panas dan Fenomena Dog Days

Liburan hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) tahun 2010 ini disambut dengan fenomena yang menyedihkan di AS khususnya bagian Timur Laut. Temperatur tinggi mencapai batas rekor di beberapa tempat. Masyarakat mengenalnya sebagai gelombang panas (heat wave).

Sirius juga dikenal sebagai “The Dog Star” (Bintang Anjing) karena ia merupakan bintang paling terang di rasi Canis Mayor / Anjing Besar / The Big Dog. Kredit : starrynighteducation

Cuaca ekstrim ini membuat banyak pemerintah kota membuat tempat pendinginan untuk warga kota. Warga kota dapat memanfaatkan fasilitas yang terbuka setiap hari tersebut tanpa dipungut biaya. Hal ini disebabkan karena tidak semua warga memiliki fasilitas pendingin cuaca seperti AC di tempat tinggalnya. Cuaca panas membuat badan terasa tidak nyaman. Para lansia dan anak kecil adalah orang-orang yang paling rentan terhadap efek cuaca panas ini. Banyak dari lansia mengalami gangguan kesehatan yang tidak sedikit berakibat kematian. Setidaknya satu orang korban jiwa dilaporkan meninggal di sebuah apartemen di Philadelphia.

Gelombang panas tidak hanya berakibat buruk terhadap kesehatan, namun juga tenaga listrik. Seperti halnya gelombang panas yang terjadi pada tahun 2003, 45 juta orang AS mengalami pemadaman. Pemadaman ini diakibatkan tidak kuatnya pembangkit tenaga listrik di AS untuk menyuplai penggunaan listrik yang berlebih. pada cuaca yang sangat panas, semua orang akan memasang sistem pendingan seperti kipas angin listrik dan AC secara bersamaan dan terus-menerus.

Gelombang panas diartikan sebagai suatu masa saat temperatur udara maksimum harian selama 5 hari atau lebih berturut-turut melebihi temperatur maksimum rata-rata sebesar 5 derajat Celcius. Di tempat penulis tinggal, temperatur maksimum rata-rata yaitu 85 F (29,4 C). Sedangkan dalam kurun waktu seminggu ini, temperatur maksimum berkisar antara 99 F – 87 F (37.2 C -30.6 C).

Hal yang menarik adalah terjadinya gelombang panas sering bersamaan dengan periode khusus yang biasanya dikenal dengan Dog days. Dog days pada awalnya dikenal sebagai masa saat bintang Sirius terbit sesaat atau bersaman dengan terbitnya matahari. Sirius adalah bintang paling terang di rasi Canis major. Pada saat sekarang, periode waktu Dog Days bergeser, karena adanya pergeseran equinox sepanjang ekliptika. Periode waktu Dog days ini adalah 20 hari sebelum dan sesudah konjungsi Sirius dan Matahari. Kini, Dog days berkisar antara 3 Juli sampai dengan 11 Agustus, bergantung pada posisi lintang suatu tempat. Fenomena Dog days hanya dikenal oleh orang-orang yang tinggal di belahan bumi utara karena pada saat periode tersebut, belahan bumi utara mengalami musim panas.

Matahari dan Sirius terbit hampir bersamaan di awal Juli 2010 di langit utara. Kredit : StarWalk

Matahari dan Sirius terbenam hampir bersamaan di awal Juli 2010 di langit utara. Kredit : StarWalk

Dulu, orang beranggapan bahwa bersamaannya waktu terbit dan terbenamnya matahari dan Sirius mengakibatkan bertambahnya panas yang diterima oleh bumi akibat dari tambahan panas bintang Sirius. Sirius adalah bintang ganda yang terletak sekitar 8,6 tahun cahaya dari bumi. Temperatur Sirius A adalah 9940 K dan Sirius B adalah 25200 K. Meskipun temperaturnya lebih panas dari matahari (5778 K), namun jarak matahari jauh lebih dekat terhadap bumi yaitu sekitar 8 menit cahaya. Jadi dampak konjungsi Sirius dan Matahari tidak mengakibatkan peningkatan temperatur pada masa Dog days. Namun setidaknya istilah Dog days masih sedikit relevan karena pada cuaca yang panas, anjing cenderung untuk bermalas-malasan. Sebagaimana dengan anjuran dari berbagai pihak untuk mengurangi aktifitas berlebih pada saat gelombang panas terjadi.

Gelombang panas ini disebabkan adanya pusat tekanan tinggi di daerah timur laut Amerika. Tekanan tinggi ini terletak di dekat negara bagian North dan South Carolina. Sehingga kawasan timur laut dan pantai timur merasakan dampak meningkatnya temperatur dan kelembaban udara. Fenomena ini jarang terjadi di daerah timur laut AS dan diperkirakan akan menjadi musim panas terburuk dalam sejarah.

Menggali Catatan Sejarah Bima Sakti

Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Universitas Durham mengungkapkan asal muasal bintang purba di alam semesta. Menurut hasil penelitian mereka tersebut, bintang-bintang purba tersebut berasal dari sisa-sisa galaksi kecil yang terkoyak saat terjadi tabrakan galaksi 5 milyar tahun lalu.

Galaksi Yang Terkoyak

Simulasi yang memperlihatkan Galaksi Bima Sakti 5 milyar tahun lalu saat trjadinya tabraka galaksi kecil. Kredit : Andrew Cooper / John Helly / Durham University

Untuk mengetahui kejadian tersebut, para ilmuwan dari Durham’s Institute for Computational Cosmology beserta para kolaborator dari Max Planck Institute for Astrophysics, Jerman, dan Groningen University, Belanda melakukan simulasi besar-besaran yang bertujuan untuk menciptakan kembali awal mula terbentuknya galaksi Bima Sakti.

Simulasi yang dilakukan ini ternyata mengungkap keberadaan bintang-bintang purba ditemukan di puing halo bintang sekeliling Bima Sakti, ternyata telah terkoyak dari galaksi yang lebih kecil akibat gaya gravitasi yang terbentuk saat terjadinya tabrakan galaksi.

Menurut prediksi kosmolog, alam semesta dini terdiri dari galaksi-galaksi kecil yang memiliki masa hidup pendek dan memimpin terjadinya kekerasan. Galaksi-galaksi ini kemudian bertabrakan satu sama lainnya meninggalkan puing-puing yang akhirnya menetap dan tampak seperti galaksi dalam hal ini Bima Sakti.

Hasil penelitian ini juga sekaligus menunjukkan kalau bintang-bintang purba di Bima Sakti sesungguhnya berasal dari galaksi lain dan bukannya bintang-bintang awal yang lahir di Bima Sakti saat ia mulai terbentuk 10 milyar tahun lalu.

Arkeologi Galaktik
Penelitian ini tak pelak membuat Andrew Cooper dari Universitas Durham beserta rekan-rekannya menjadi ahli arkeologi galaktik yang mencari situs dimana terdapat bintang purba untuk diteliti sehingga bisa mengungkap sejarah terbentuknya galaksi Bima Sakti. Dan yang pasti untuk mendapatkan situs bintang purba pun tak mudah, karena mereka tersebar di sekeliling galaksi, bukan terkumpul hanya di suatu tempat saja.

Simulasi yang dijalankan menunjukkan betapa berbedanya relik yang ada di Bima Sakti saat ini, seperti halnya bintang-bintang purba yang memiliki kaitan dengan sebuah kejadian di masa lalu. Nah, seperti halnya lapisan batuan purba yang mengungkap sejarah Bumi, halo bintang juga mempertahankan catatan berbagai kejadian dramatik pada satu periode di masa lalu Bima Sakti yang berakhir jauh sebelum Matahari lahir.

Simulasi yang dilakukan ini dimulai sesaat setelah Dentuman Besar, sekitar 13 milyar tahun lalu. Setelah itu digunakan hukum fisika yang berlaku umum untuk mensimulasi evolusi materi gelap dan bintang-bintang. Simulasi ini dilakukan dengan kondisi yang realistik serta mampu memperbesar dan memperlihatkan detil struktur halo bintang, termasuk di dalamnya “aliran” bintang. Aliran bintang disini merupakan bintang yang terlontar atau tertolak dari galaksi-galaksi kecil sebagai akibat gaya gravitasi materi gelap.

Hasil simulasi memperlihatkan, satu bintang dalam seratus bintang di Bima Sakti berasal dari halo bintang, yang lebih besar dari piringan spiral galaksi. Dan bintang-bintang tersebut usianya sudah hampir setua alam semesta.

Tak pelak, simulasi ini bisa dikatakan merupakan cetak biru dari pembentukan galaksi, yang memperlihatkan petunjuk penting dari sejarah kelam dan dramatik yang pernah ada di Bima Sakti.

Sumber : Royal Astronomy Society

Lubang Hitam Yang Bergerak Berlawanan Arah

Alam semesta menyimpan misteri yang sangat besar. Ini tak bisa dipungkiri. Bahkan walaupun hasil pengamatan telah membawa manusia pada pemahaman akan alam semesta, selalu saja ada sesuatu yang membawa manusia untuk melihat setiap kejadian di alam semesta itu unik dan bahkan mengejutkan.

Kali ini cerita itu datang dari lubang hitam. Ia seakan menantang pemahaman manusia dan membawa kita untuk melihat dari cara yang bertentangan dengan pemahaman konvensional. Hasil penelitian terbaru menunjukan kalau lubang hitam supermasif yang berputar berlawanan arah ternyata bisa menghasilkan jet gas yang sangat kuat dan ganas. Hasilnya, implikasi pada perubahan galaksi berdasarkan waktu akan dapat terjadi.

Apa yang terjadi di seluruh galaksi, tak bisa tidak sangat bergantung pada apa yang terjadi di area pusat yang kecil tempat lubang hitam berada.

Pergerakan Lubang Hitam

Lubang hitam supermasif dan jet atau semburan yang muncul. Kredit : NASA

Lubang hitam di alam semesta merupakan distorsi ruang dan waktu yang sangat besar dengan gravitasi yang juga demikian besar sehingga cahaya tak dapat lolos darinya. Selama lebih dari satu dekade, para astronom telah mengetahui bahwa semua galaksi termasuk Bima Sakti dihuni oleh lubang hitam supermasif yang bernilai milyaran massa Matahari. Lubang hitam dikelilingi dan diberi makan oleh piringan gas dan debu yang dikenal sebagai piringan akresi. Dan terdapat aliran jet yang luar biasa kuat muncul dari bawah dan atas piringan seperti laser ada angin yang sangat kuat bertiup dari piringan itu sendiri.

Dalam pergerakannya, lubang hitam bisa bergerak searah dengan gerak piringan (lubang hitam prograde) atau berputar berlawanan arah putaran piringan yang dikenal sebagai lubang hitam retrograde. Selama beberapa dekade, para astronom meyakini semakin cepat putaran lubang hitam maka semakin kuat juga jet yang dihasilkannya. Namun ternyata ada masalah lain yakni model paradigma putaran. Dalam penelitian pada lubang hitam, ditemukan juga lubang hitam prograde yang tidak memiliki semburan aka jet tersebut.

David Garofalo dari NASA Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, Calif dalam penelitian yang ia lakukan selama ini telah mencoba mengajukan model lain dari lubang hitam, yakni lubang hitam retrograde. Dalam penelitiannya si lubang hitam retrograde memiliki jet yang sangat kuat sedangkan lubang hitam prograde hanya memiliki jet yang lemah atau tak ada sama sekali.

Bukti Pengamatan

Teori yang diajukan Gorofalo hanya akan jadi teori jika tidak ada pengamatan yang menghubungkan keduanya. Untuk menghubungkan keduanya, pengamatan galaksi dilakukan pada jarak yag berbeda-beda dari Bumi. Pencarian dilakukan pada galaksi “radio yang keras” dan memiliki jet maupun galaksi “radio tenang” yang memiliki jet lemah atau tidak sama sekali. Istilah radio ini muncul karena jet yang muncul pada umumnya menembakan berkas cahaya dalam bentuk gelombang radio.

Hasilnya menunjukkan galaksi radio-keras yang berada lebih jauh ditenagai oleh lubang hitam retrograde sementara obyek radio-tenang yang relatif dekat justru berasal dari lubang hitam prograde. Menurut tim ini, lubang hitam supermasif berevolusi seiring waktu dari gerak retrograde ke gerak prograde. Dengan model yang baru ini, paradoks dari paradigma putaran yang ada bisa diselesaikan. Bahkan menurut David Meier dari JPL, “semua jadi sesuai dengan porsinya masing-masing”.

Lubang Hitam Retrograde
Lantas mengapa lubang hitam dengan putaran yang berlawanan arah memiliki jet yag lebih kuat?

Hal ini tampaknya disebabkan oleh ruang yang lebih besar yang ada antara lubang hitam dan tepi bagian dalam piringan yang sedang mengorbit. Celah yang ada memberi ruang yang lebih besar untuk membentuk medan magnetik yang merupakan bahan bakar dari jet. Ide ini dikenal sebagai konjektur Reynold.

Bayangkan saat kamu mendekati kipas angin lebih dekat. pada saat itu kam bergerak dengan arah rotasi yang sama dengan si kipas angin, tentunya semua akan jadi lebih mudah. Demikian juga dengan lubang hitam. Materi yang mengorbit lubang hitam dalam piringan akan bergerak mendekat ke benda yang bergerak pada arah yang sama dibanding jika obyek lainnya itu bergerak berlawanan arah.

Evolusi Galaksi
Jet atau semburan tiba-tiba dan angin peran penting dalam membentuk nasib galaksi di alam semesta. Beberapa penelitian menunjukkan jet bisa memperlambat bahkan mencegah pembentukan bintang bukan hanya dalam galaksi tempat terjadinya jet tapi juga pada galaksi lain di dekatnya.

Jet yang muncul mengangkut sejumlah besar energi ke piggiran galaksi, menggantikan sejumlah besar volume gas antar galaktik dan bertindak sebagai agen umpan balik antara pusat galaksi dan lingkungan dalam skala besar.

Untuk bisa memahami asal mula semua ini akan menjadi kepentingan dan ketertarikan yang amat tinggi dalam astrofisika modern di masa depan.

Sumber : NASA JPL

Mengungkap Kelahiran Bintang Muda Masif

Gabungan beberapa teleskop milik ESO belum lama ini berhasil mengambil citra pertama dari piringan debu yang ada di sekeliling bayi bintang masif. Citra ini sekaligus menjadi bukti bahwa bintang masif terbentuk dengan cara yang sama seperti bintang lainnya yang lebih kecil.

Bintang Muda Yang Akan Menetas

Ilustrasi piringan debu yang ada di sekeliling bintang muda masif. Kredit : ESO/L. Calçada/M. Kornmesser

Pengamatan yang dilakukan kali ini berhasil memperlihatkan piringan disekeliling embrio muda bintang masif yang sudah terbentuk. Bisa dikatakan ini adalah bayi bintang yang baru akan menetas. Dimanakah si bayi ini berada?

Para astronom melakukan pengamatan pada obyek yang dikenal sebagai IRAS 13481-6124 yang massanya sekitar 20 kali massa Matahari dan memiliki radius 5 kali lebih besar dari Matahari. Bintang muda yang sekaligus jadi bintang pusat ini masih tampak dikelilingi kepompong pra-kelahirannya dan berada di rasi Centaurus pada jarak 10000 tahun cahaya.

Dalam pengamatan yang sudah pernah dilakukan dengan Teleskop Spitzer maupun teleskop submilimeter APEX 12 meter, para astronom berhasil menemukan keberadaan jet atau letupan dasyat yang terjadi tiba-tiba dan sangat cepat.

Jet seperti ini termasuk umum teramati di sekitar bintang muda bermassa rendah dan sekaligus mengindikasikan keberadaan piringan di sekitar bintang.

Piringan Bintang Itu Ada
Piringan yang berada di sekeliling bintang sesungguhnya mengandung bahan-bahan penting bagi proses pembentukan bintang bermassa rendah seperti halnya Matahari. Akan tetapi, masih belum dapat diketahui apakah piringan seperti ini juga ada pada saat pembentukan bintang yang lebih masif dari 10 massa Matahari. Pada bintang yang lebih masif, cahaya yang kuat terpancar bisa mencegah terjadinya keruntuhan massa ke bintang. Sebagai contoh, diyakini bahwa bintang bermassa besar terbentuk dari gabungan bintang-bintang yang lebih kecil.

Nah, untuk mencari tahu sekaligus untuk memahami keadaan piringan tersebut, para astronom menggunakan Very Large Telescope Interferometer (VLTI) milik ESO untuk melakukan penelitian. Astronom menggabungkan cahaya yang didapat dari 3 Auxiliary Telescopes VLTI 1,8 meter yang dilengkapi instrumen AMBER ( Astronomical Multi-BEam combineR) untuk mendapatkan hasil dengan detil yang sama dengan teleskop cermin diameter 85 meter. Resolusi yang dihasilkan dari instrumen ini adalah 2,4 juta detik busur.

Dengan kemampuan yang unik dan bisa dikatakan luar biasa, plus dilengkapi pengamatan yang dilakukan dengan teleskop 3,58 meter milik ESO di La Silla, para astronom akhirnya berhasil mendeteksi keberadaan piringan di sekitar IRAS 13481-6124.

Menarik? Langka? Tentu saja, karena ini merupakan pertama kalinya para astronom bisa mengambil citra area bagian dalam piringan di sekeliling bintang muda masif. Yang lebih menarik lagi, keberadaan piringan di sekeliling IRAS 13481-6124 juga menjadi bukti bahwa pembentukan bintang itu berlaku sama untuk semua bintang, tanpa memperhitungkan massanya.

Sistem Tua…
Ada hal menarik lainnya. Sistem bintang ini juga diperkirakan sudah tua sekitar 60 000 tahun dan bintang yang ada di pusatnya sudah mencapai massa akhir. Hal ini disebabkan oleh cahaya bintang yang intens – 30000 kali lebih cerlang dari Matahari. Dengan dmeikian diperkirakan piringan yang ada di sekitar bintang itu akan mulai menguap.

Piringan yang menyala ini akan memanjang sampai sekitar 130 kali jarak Bumi-Matahari atau 130 SA, dan akan memiliki massa yang hampir sama dengan bintang pusatnya yakni 20 kali massa Matahari. Selain itu, bagian dalam piringan akan tampak tidak memiliki debu.

Pengamatan lebih lanjut akan dilakukan dengan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) yang sedang dibangun di Chille. Pengamatan dengan ALMA akan meberikan informasi yang lebih banyak lagi mengenai bagian dalam piringan dan memberi pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana bayi bintang masif jadi sedemikian berat.

Sumber : ESO

Bahwa Alam Semesta Sudah Tua

Banyak cara yang berbeda satu sama lain digunakan untuk menjelaskan berapa umur semesta, dan walaupun berbagai metodologi itu dilakukan secara terpisah, tetapi memberikan gambaran yang berkesesuaian satu sama lain untuk menjelaskan umur semesta ini secara obyektif. Demikian dibawah ini akan diperkenalkan beberapa jalinan metode tersebut.

Model alam semesta setelah ledakan besar. Kredit : NASA/WMAP Science Team

Umur Alam Semesta Yang Mengembang

Jarak galaksi dapat ditentukan dari ukuran yang tampak atau kecerlangannya. Galaksi yang tampak lebih kecil dan lebih redup dari galaksi lain yang serupa, berarti berjarak lebih jauh. Jarak juga bisa ditentukan menggunakan penanda jarak yang lain, seperti beberapa jenis bintang. Selain jarak, laju galaksi bergerak bisa dtentukan dengan pengetahuan spektrum-nya. (Spektrum cahaya dari galaksi adalah apabila kita memecah cahaya menjadi komponen warna-nya seperti pelangi). Dengan pengetahuan spektrum cahaya bisa memberikan identitas obyek apa yang diamati, maupun bagaimana obyek diamati bergerak, karena setiap spektrum obyek yang berbeda memberikan pola yang unik.

Christian Doppler di tahun 1842 menunjukkan bahwa ketika sumber cahaya bergerak, gerakan tersebut menyebabkan mengubah gelombang, mengubah warna yang dilihat pada spektrum. Efek ini dikenal sebagai efek Doppler. Pengetahuan tentang efek Doppler ini memberitahu kita apakah suatu sumber cahaya mendekati atau menjauhi kita. Dari sini kita bisa mengetahui bagaimana benda-benda langit bergerak terhadap kita sebagai pengamat di Bumi, dan berapa cepat pergerakannya.

Di tahun 1920-an, Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi – galaksi bergerak terhadap kita dengan pola tertentu. Semakin jauh galaksi dari kita, semakin cepat pergerakannya. Pola ini yang dikenal sebagai “alam semesta mengembang”, karena pola perilaku ini terlihat pada semua arah di langit. Jadi bisa saja dianggap bahwa semua galaksi bergerak menjauhi galaksi Bima Sakti, tetapi tidak bisa dikatakan begitu saja bahwa Bima Sakti sebagai pusat semesta, karena pola yang sama bisa saja teramati oleh pengamat yang berada di galaksi yang lain. Jadi tidak serta merta disimpulkan dari pekerjaan Hubble bahwa kita berada pada pusat semesta atau kita berada pada posisi yang istimewa dalam semesta.

Kembali pada pengukuran pergeseran cahaya yang teramati, ahli astronomi mencoba mengukur berapa lama pengembangan telah terjadi. Jika diasumsikan bahwa semua galaksi berangkat dari titik awal yang sama, maka bisa dideduksi, berapa jauh yang telah ditempuh suatu galaksi dan berapa kecepatan tempuhnya, kemudian membagi jarak terhadap laju. Dengan menambahkan faktor – faktor fisis yang realistis seperti adanya pengaruh gravitasi, atau adanya inflasi alam semesta, umur semesta diperoleh antara 12 sampai 14 milyar tahun.

Umur Bintang Paling Tua
Bagaimana bintang bisa menyala? Bagaimana menentukan umurnya? Berapa lama bintang dapat menyala? Bintang (termasuk Matahari) dapat bersinar karena adanya proses termonuklir di dalamnya, yang berfungsi sebagai generator pembangkit energi, akibat perubahan hidrogen menjadi helium; akibat panas dan tekanan yang sangat intens dalam inti bintang, inti hidrogen ber-fusi menjadi inti helium dan energi yang terpancarkan. Proses fisis ini bisa digunakan untuk mengukur umur bintang.

Fisika nuklir bisa menjelaskan berapa banyak energi yang dihasilkan dari fusi setiap atom hidrogen. Diketahui berapa banyak hidrogen panas dalam inti bintang, dan berapa cepat bintang menggunakan energinya untuk bersinar. Dengan demikian bisa dihitung berapa lama bintang bersinar sebelum kehabisan seluruh bahan bakarnya. Jika bintang telah kehabisan hidrogen di intinya, bintang berubah menjadi ‘raksasa merah’. Ketika kita menemukan adanya bintang raksasa tersebut, bisa ditentukan massa awalnya, tenaga awalnya, dan kala hidupnya dapat ditentukan. Demikian setelah diukur berbagai bintang yang telah tua tersebut, diperoleh dari metode ini umur semesta berkisar antara 10 – 15 milyar tahun.

Umur Cahaya Dari Galaksi Terjauh
Sebagaimana yang telah diungkap tentang jarak dalam ‘tahun cahaya’, pengamatan memberikan informasi tentang galaksi yang sangat jauh, sehingga yang cahaya dikirimkan oleh galaksi tersebut butuh milyaran tahun untuk mencapai pengamat. Dari hal tersebut, sepertinya kita sedang menggunakan mesin waktu, ketika kita mengamati langit, kita mengamati peristiwa yang telah terjadi di waktu yang telah berlalu. Pengamatan dari Hubble Space Telescope memberikan jarak terjauh galaksi yang teramati mencapai 10 milyar tahun cahaya, dengan demikian paling tidak semesta kita ini telah berumur 10 milyar tahun.

Umur Komposisi Kimia
Setelah ledakan besar awal (big bang), semesta tersusun dari elemen – elemen paling sederhana, yaitu hidrogen dan helium. Galaksi yang sangat-sangat jauh merupakan bukti bahwa hal ini memang demikian adanya, karena memiliki komposisi hidrogen dan helium yang jauh lebih besar. Komposisi kimia yang lebih kompleks dari hidrogen dan helium terbentuk kemudian akibat reaksi nuklir dalam inti bintang, atau ketika bintang yang sangat masif berakhir nasibnya dalam ledakan besar (supernova). Di dalam supernova yang teramati, terdapat elemen kimia yang terbentuk setelah 10-20 milyar tahun.

Paling tidak ada empat metode yang saling independen dipergunakan untuk menentukan umur alam semesta, kendati tidak tepat sama, tetapi paling tidak menunjukkan adanya kesesuaian, umur semesta sudah lebih dari 10 milyar tahun. Dan semua astronom sependapat dan berkeyakinan, bahwa semesta, semua galaksi, bintang-bintang benar-benar sudah tua dan telah tercipta di suatu masa yang sangat lampau.

Planck Menyingkap Alam Semesta


Bagaimana alam semesta memulai hidupnya setelah dentuman besar? Mungkin itu pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak. Berbagai teori memang sudah dikemukakan namun apa yang sesungguhnya terjadi dan apa bukti observasinya, inilah yang terus dicari.

Era CMB membawa manusia untuk melihat ke masa lalu dan mendapatkan gambaran akan evolusi alam semesta. Nah, kali ini berita dari misi Planck milik ESA memberikan kabar gembira lainnya. Planck dalam misinya melakukan pencitraan seluruh langit. Hasilnya, bukan sekedar memberi pandangan baru tentang pembentukan bintang dan galaksi namun sekaligus memberikan informasi bagaimana alam semesta memulai kehidupannya setelah Dentuman Besar.

Juga bukan sebuah jawaban karena apa yang didapat justru merupakan pintu yang dibukakan bagi para ilmuwan untuk melongok ke dalam dan mulai menemukan apa yang dicari. Pintu yang akan membawa para ilmuwan pada pemahaman baru bagaimana alam semesta jadi seperti saat ini dan cara kerjanya. Inilah saatnya para ilmuwan memulai masa panen.

Alam semesta dalam gelombang mikro yangd ilihat Planck. kredit : Planck/ESA


Citra Yang Dihasilkan Planck

Citra yang diambil Planck jelas memiliki kualitas tinggi namun bukan itu saja yang jadi poin penting. Citra yang diambil berhasil memperlihatkan daerah terdekat Bima Sakti sampai ke area terjauh ruang waktu. Yang pasti citra baru ini merupakan harta tak ternilai dari data baru para astronom.

Piringan utama Bima Sakti membentang di tengah citra yang diambil. Yang mencolok dari citra ini adalah keberadaan pita debu dingin yang membentang ke atas dan bawah Bima Sakti. Jaringan galaksi dimana bintang baru dilahirkan dan Planck berhasil menemukan beberapa lokasi tempat bintang individu sedang berada di batas kelahirannya atau sedang mengawali siklus perkembangannya.

Yang tidak kalah spektakuler namun bisa jadi lebih menarik adalah latar belang-belang di bagian atas dan bawah. Area ini merupakan ‘cosmic microwave background radiation’ (CMBR), cahaya tertua di alam semesta, sisa-sisa bola api asal muasal munculnya alam semesta 13,7 milyar tahun lalu.

Dalam citra yang diambil tersebut, Bima Sakti menunjukkan pada kita gambaran alam semesta lokal, sementara gelombang mikro justru menunjukkan gambaran alam semesta pada masa ia terbentuk sebelum bintang dan galaksi itu ada.

Melacak Masa Lalu Alam Semesta

Citra ini bisa dikatakan sebagai misi utama Planck yakni untuk memecahkan apa yang terjadi pada alam semesta mula-mula dari citra coreng-coreng yang ada di latar belakang.

Pola gelombang mikro ini merupakan cetak biru kosmik dari pembentukan gugus dan galaksi gugus super. Warna yang berbeda merupakan perbedaan dalam hitungan menit untuk temperatur dan kerapatan materi di langit. Entah bagaimana penyimpangan kecil ini justru berkembang enjadi daerah yang lebih rapat yang kemudian menjadi galaksi di masa kini.

Sebenarnya CMBR menutupi seluruh bidang langit, namun sayangnya pada citra ini ia tersembunyi dibalik emisi Bima Sakti. Untuk telaah lanjut, emisi Bima Sakti ini harus terlebih dahulu “dihapus” secara dijital sehingga gelombang mikro latar belakang (CMBR) bisa dilihat secara keseluruhan.

Pada saat pekerjaan ini selesai, Planck akan menunjukkan citra yang lebih presisi dari gelombang mikro latar belakang yang ia dapatkan. Nah pertanyaan terbesar yang muncul, akankah data yang diperoleh mengungkap tanda kosmik dari periode mula-mula yang dikenal sebagai inflasi. Zaman inflasi ini terjadi sesaat setelah terjadinya Dentuma Besar dan mengakibatkan terjadinya pengembangan alam semesta ke dalam ukuran yang besar dalam waktu yang sangat singkat, bahkan lebih singkat dari 1 kedipan mata. Planck akan terus melakukan survei dan pemetaan alam semesta sampai akhir masa tugasnya di 2012.

Sumber : Langit selatan

Teramatinya Hilal Termuda Hilal Sya’ban 1431H


Pada Tanggal 12 Juli yang baru lalu, atau pada penanggalan Islam, sebagai awal Sya’ban 1431 H, sebuah tim pengamat Hilal dari University Malaya, berhasil melakukan perekaman hilal termuda dalam kategori perekaman Hilal Digital.

Disebut sebagai hilal termuda, karena pada saat itu, Bulan baru berusia 16 jam, dengan sudut elongasi (sudut yang memisahkan Bulan – Matahari), sebesar 8.5 derajat. Pengamatan dilakukan di lokasi Teluk Kemang, Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia, dan merupakan pemecahan rekor pada kateogori perekaman hilal dengan metode pencitraan mempergunakan kamera.

Citra Hilal terekam hasil pengamatan Tim pengamat Hilal University Malay. Kredit: University Malaya: Joko Satria & William Chin

Menurut Islamic Crescents’ Observation Project, rekor yang terjadi sebelumnya adalah umur Bulan 18 jam 3 menit, dengan sudut elongasi sebesar 9,04 derajat. Yang artinya, perekaman yang telah dilakukan oleh tim dari Malaysia telah memecahkan rekor perekaman Hilal termuda dalam kategori pencitraan kamera.

Tim pengamat Hilal University Malaya adalah grup akademisi yang berkecimpung dalam riset astronomi, sehingga, tidak hanya dilakukan pengamatan hilal, tetapi juga dilakukan riset astronomi, berupa pengukuran kecerlangan langit latar belakang yang memungkinkan untuk mendapatkan perekaman hilal.

ustrasi tiga planet super-Bumi yang mengelilingi bintang HD 40307

Panen planet superBumi sedang terjadi. Tak percaya? Hari ini, dalam konferensi internasional Extra-solar Super-Earth, tim dari Eropa melaporkan penemuan planet super Bumi yang baru. Tidak tanggung-tanggung, mereka menemukan 3 buah planet super Bumi tengah mengelilingi bintang HD 40307. Sistem tiga planet tersebut ditemukan menggunakan instrumen HARPS milik ESO La SIlla Observatory. HARPS sendiri terhitung telah menemukan 45 kandidat planet dengan massa dibawah 30 massa Bumi dengan periode orbit kurang dari 50 hari. Dengan demikian, bisa dikatakan satu bintang serupa Matahari setidaknya memiliki 3 planet kecil tersebut.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah setiap bintang tunggal memiliki planet? Jika betul, berapa banyak? Menurut Michel Mayor dari Observatorium Geneva, “Kita tidak mengetahui jawabannya, namun kita sedang membuat sebuah kemajuan besar menuju ke sana.”

Michel Mayor dalam dunia extrasolar planet merupakan orang pertama yang menemukan keberadaan planet di luar Tata Surya pada bintang serupa Matahari, yakni pada bintang 51 Pegasi. Semenjak penemuan di tahun 1995 tersebut, sampai saat ini sudah lebih dari 270 exoplanet yang ditemukan, sebagian besar mengelilingi bintang serupa Matahari. Sebagian besar planet yang telah ditemukan merupakan planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus dengan statistik 1 dari 14 bintang akan memliki planet gas raksasa.

Menurut Stéphane Udry yang juga kolega dari Michel Mayor, dengan kebangkitan instrumen yang semakin presisi seperti spektograf HARPS pada teleskop 3,6 meter milik ESO di La Silla, planet-planet kecil dengan massa di antara 2 dan 10 massa Bumi dapat ditemukan. Planet jenis ini dikenal dengan nama planet SuperBumi, karena mereka lebih masif dari Bumi namun tidak semasif Uranus dan Neptunus (sekitar 15 massa Bumi).

Trio superBumi yang baru ditemukan tersebut mengelilingi bintang yang hanya sedikit kurang masif dari Matahari dan berada pada jarak 42 tahun cahaya ke arah selatan Doradus dan konstelasi Pictor. Menurut Mayor, mereka telah melakukan pengukuran yang sangat presisi terhadap kecepatan bintang HD 40307 selama 5 tahun terakhir. Hasilnya tampak jelas keberadaan 3 planet tersebut. Trio planet yang mengelilingi HD 40307 tersebut memiliki massa masing-masing 44,2, 6,7 dan 9,4 massa Bumi, dan mengitari bintang tersebut dengan periode orbit 4,3, 9,6 dan 20,4 hari.

Gangguan yang diakibatkan oleh planet pada bintang sangatlah kecil. Sangat berbeda dengan gangguan yang diakibatkan oleh planet gas raksasa pada bintang. Pada sistem tiga planet ini, massa planet terkecilnya lebih kecil 100.000 kali dari massa bintang. Dengan demikian, hanya instrumen yang memiliki sensitivitas tinggi yang dapat mendeteksi gangguan yang terjadi. Dan dalam kasus trio planet superBumi ini, HARPS berhasil mendeteksi gangguan setiap planet yang ditimbulkan pada bintang, begitu yang dikatakan François Bouchy, dari Institut d’Astrophysique de Paris, Prancis. Bahkan sebenarnya, setiap planet itu hanya memengaruhi gerak si bintang dalam kecepatan beberapa meter per detik.

Pada konferensi yang sama, tim astronom juga mengumumkan penemuan 2 sistem keplanetan yang lain, yang juga ditemukan dengan menggunakan spektograf HARPS. Sistem keplanetan yang pertama merupakan sistem dengan 1 planet super Bumi (7,5 massa Bumi) yang mengorbit bintang HD 181433 dalam 9,5 hari. Bintang HD 181433 juga memiliki sebuah planet sekelas Jupiter dengan periode hampir 3 tahun. Sistem kedua merupakan sistem yang terdiri dari planet dengan massa 22 massa Bumi dengan periode orbit 4 hari dan sebuah planet mirip Saturnus dengan periode orbit 3 tahun juga.

“Jelas ini hanyalah puncak gunung es”, kata Mayor. Analisis yang dilakukan pada semua bintang yang dipelajari oleh HARPS menunjukkan, sepertiga dari seluruh bintang bertipe Matahari memiliki planet superBumi atau planet sekelas Neptunus dengan periode orbit kurang dari 50 hari. Planet dengan periode orbit pendek lebih mudah ditemukan dibanding planet yang memiliki periode orbit panjang.

Sangat memungkinkan, di luar sana ada lebih banyak planet yang tengah menanti untuk ditemukan. Bukan saja planet super Bumi dan planet tipe Neptunus dengan periode orbit yang panjang, namun juga planet tipe Bumi yang belum bisa dideteksi saat ini. Tambahkan juga dalam deretan planet-planet itu, planet tipe Jupiter yang sudah ditemukan. Dan dari penemuan yang ada bisa disimpulkan kalau planet tipe Jupiter ini ada dimana-mana.

Sumber : LABEB on admin

Kamis, 22 Juli 2010

Mengurai Misteri dan Potensi Planet Super Bumi

Ditulis oleh ivie


Era tahun 1995 menjadi tonggak dimulainya pencarian planet baru di luar Tata Surya saat sebuah planet ditemukan di bintang 51 Pegasi, bintang yang mirip Matahari. Jauh sebelum itu memang telah ditemukan planet yang mengelilingi Pulsar, namun keberadaan planet lain di sekitar bintang serupa Matahari menjadi awal perburuan planet-planet di luar Tata Surya. Sejak saat itu, sudah 342 planet yang ditemukan.
Ilustrasi exoplanet kebumian. Kredit : NASA

Ilustrasi exoplanet kebumian. Kredit : NASA

Saat perburuan dimulai, planet-planet yang ditemukan hanyalah planet gas masif yang mirip Jupiter. Namun, perkembangan teknik pengamatan masa kini telah membawa manusia pada perburuan planet serupa Bumi yang lebih kecil. Planet batuan serupa Bumi di luar Tata Surya bukan lagi sebuah mimpi yang menanti untuk disingkap, karena saat ini satu per satu planet seperti itu berhasil ditemukan dan dikenal dengan nama Super Bumi.

Planet Super Bumi merupakan planet yang massanya sekitar 10 kali massa Bumi, karena jika lebih, si planet akan cenderung menjadi planet gas seperti Uranus dan Neptunus. Tak seperti planet gas raksasa, ukuran Super Bumi cukup kecil untuk memiliki permukaan tanah maupun lautan yang memungkinkan untuk mendukung kehidupan. Sampai saat ini, planet Super Bumi yang ditemukan masih belum bisa menjadi tempat liburan alias belum bisa mendukung kehidupan untuk ada di dalamnya. Pencarian masih terus dilakukan, dan tak bisa dipungkiri, suatu saat nanti mungkin saja kita akan menemukan sebuah planet yang memiliki komposisi kimia yang tepat dan jarak yang pas dari bintang induk untuk dapat mendukung berlangsungnya kehidupan di dalam planet tersebut.

Bagaimanakah kehidupan di planet Super Bumi?

Yang pertama, massa planet Super Bumi memang 10 kali massa Bumi. Namun, tak berarti ia akan memiliki diameter 10 kali lebih besar dari Bumi. Hubungan tak linier antara massa dan ukuran planet membuat planet Super Bumi akan memiliki ukuran lebih kecil. Dan jika kita bisa mengunjungi planet Super Bumi, maka kita akan merasa lebih berat. Kok bisa? Ternyata, ini dipengaruhi gravitasi planet Super Bumi yang lebih besar. Selain itu, planet Super Bumi juga memiliki atmosfer yang lebih tebal dan rapat.

Dengan mengesampingkan berbagai perbedaan, pada kondisi yang tepat Planet Super Bumi akan dapat melabuhkan kehidupan di dalamnya. Yang pasti bukan kehidupan seperti misalnya permainya pohon kelapa di pantai atau mungkin kehidupan seperti manusia. Namun, resep yang pas tersebut akan memberi kesempatan pada kehidupan untuk tumbuh dan berkembang, apa pun bentuknya.

Dan, ketika planet Super Bumi semakin banyak ditemukan, kesempatan untuk menemukan planet serupa Bumi hanya tinggal menunggu hitungan waktu.

Planet Kebumian atau Bukan ?
Ilustrasi exoplanet kebumian saat melintasi bintang induk disertai kurva cahayanya. Kredit : NASA

Ilustrasi exoplanet kebumian saat melintasi bintang induk disertai kurva cahayanya. Kredit : NASA

Bagaimanakah para peneliti bisa mengetahui sebuah planet memiliki permukaan batuan seperti Bumi dan Mars? Bagaimana mereka membedakannya dari planet gas raksasa seperti Saturnus dan Neptunus?

Jawabannya, ketika sebuah planet melintas atau transit di depan bintang induknya, ia akan menghalangi sejumlah cahaya dari bintang. Pada saat itu, bintang akan sedikit meredup.

Ketika sebuah planet gas raksasa melintas, cahaya bintang induk akan berangsur-angsur meredup. Peredupan cahaya bintang terjadi saat cahaya bintang harus melewati lapisan gas tebal di atmosfer sampai seluruh planet berada di depan si bintang. Namun, untuk planet kebumian, atmosfernya lebih tipis sehingga proses meredupnya cahaya bintang terjadi lebih cepat saat planet bergerak melintasi bintang induk.

Pada saat planet melintasi bintang, cahaya bintang yang melewati atmosfer si planet akan dapat ditelaah oleh para peneliti untuk mengetahui keberadaan komponen kimia yang bisa menjadi petunjuk kehidupan di planet tersebut.

Sumber : Planet Quest NASA
Planet Super Bumi Kedua Terkecil Ditemukan

Ditulis oleh ivie


Para pemburu planet untuk mencari planet-planet seukuran Bumi tak pernah pupus. Satu per satu rahasia obyek yang mengitari Bintang mulai terkuak. Kali ini, para pemburu planet berhasil mendeteksi planet extrasolar yang massanya hanya 4 kali massa Bumi.
Ilustrasi planet super Bumi. Kredit : L. Calcada

Ilustrasi planet super bumi. kredit : L. Calcada

Kecil bukan? Planet tersebut merupakan planet terkecil kedua yang berhasil ditemukan setelah penemuan COROT 7b. Penemuan planet baru ini tak hanya menambah panjang daftar planet super Bumi namun ia juga menjadi kandidat lain yang memberi bukti bahwa era penemuan planet kecil sudah bukan lagi hal asing. Selain itu juga dapat memberi pandangan bahwa keberadaan planet-planet seukuran Bumi di sekeliling bintang adalah hal yang umum di dalam sebuah sistem keplanetan.

Exoplanet dengan nama HD 156668b hanya membutuhkan waktu 4 hari untuk mengorbit bintang induknya yang berada 80 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di arah rasi Hercules. Para penemu planet ini, Andrew Howard dari University of California at Berkeley (UCB) dan tim California Planet Search (CPS) yang terdiri dari Geoff Marcy (UCB), Debra Fischer (Yale University), John Johnson (California of Institute of Technology) dan Jason Wright (Penn State University), berhasil melakukan pengamatan planet mungil ini dengan menggunakan teleskop Keck I 10meter di Mauna Kea, Hawai’i.

Metode Kecepatan Radial
Planet HD 156668b ditemukan dengan menggunakan metode kecepatan radial atau metode wobble yang diamati dan ditangkap oleh instrumen HIRES yang dipasang di teleskop Keck.

Teknik kecepatan radial merupakan metode paling produktif dalam menemukan exoplanet. Setidaknya sudah hampir 400 exoplanet ditemukan dengan metode ini, walau sebagian besar merupakan planet seukuran Jupiter.

Dengan teknik kecepatan radial, kita bisa menentukan perubahan kecepatan radial bintang dan planet yang bergerak mengitari pusat massanya. Gaya gravitasi planet akan mengganggu gerak bintang, sehingga bintang tampak seperti bergoyang. Saat keduanya bergerak terhadap pusat massanya, kecepatan bintang akan sedikit berubah, dan tampak bergerak medekati dan menjauhi pengamat. Semakin besar planet dan semakin dekat si planet ke bintang induknya, maka makin cepat pula gerakan si bintang dan semakin besar pergeseran pada spektrumnya.

Pergeseran warna spektrum ini jugalah yang memberi informasi massa dan karakteristik planet pada para astronom.

Potongan Informasi dan Petunjuk
Tak bisa dipungkiri, penemuan planet bermassa rendah merupakan salah satu tujuan penting dalam pencarian planet extrasolar. Tak hanya untuk memenuhi impian manusia untuk menemukan planet serupa dan seukuran Bumi di luar Tata Surya, namun juga untuk melengkapi potongan informasi yang sudah ditemukan.

Penemuan planet extrasolar semenjak tahun 1995 memberi warna baru sekaligus mengumpulkn potongan-potongan informasi dari setiap planet yang ditemukan dan dari sistemnya. Dari kesemuanya itu, informasi yang paling banyak ditemukan berasal dari planet-planet bermassa besar yang masuk kategori planet gas raksasa.

Dari informasi yang ada, para astronom sudah memiliki petunjuk akan pembentukan dan evolusi dari planet bermassa tinggi. Namun untuk memahami keseluruhan sistem, dibutuhkan potongan informasi dari planet-planet bermassa rendah seperti planet super Bumi. Informasi ini akan memberikan petunjuk bagaimana planet super Bumi terbentuk dan bermigrasi. Ini jugalah yang menjadi tujuan besar dari program Eta-Earth Survey for Low Mass Planets yang dipimpin Geoff Marcy.

Sampai saat ini, program tersebut sudah menemukan dua buah planet yang memiliki massa hampir sama dengan massa Bumi. Di masa depan akan semakin banyak petunjuk yang bisa dikumpulkan, karena era penemuan plaet super Bumi telah dimulai.

Sumber : W.M. Keck Observatory
Planet X Bukan Planet Nibiru

Ditulis oleh ivie


Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)
Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA
Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA

Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA
Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA

Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.

“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

Sumber : LABEB on admin

Exoplanet Termuda di Bintang Muda

Ditulis oleh ivie


Mengikuti perjalanan penemuan extrasolar planet memang sangat menarik. Penemuan yang terjadi sejak tahun 1995 menunjukkan betapa banyaknya planet di luar Tata Surya ini yang tengah mengitari bintang mereka masing-masing. Dan setiap penemuan tentunya memberi kejutan dan keunikan tersendiri.

Dunia pernah dikejutkan dengan penemuan planet Gliese 581 c yang jadi planet super bumi pertama yang ditemukan sekaligus yang pertama kali diperkirakan memiliki zona laik huni seperti halnya Bumi. Semenjak itu, ditemukan juga planet-planet lainnya yang diperkirakan memiliki potensial untuk terjadinya kehidupan.

Penemuan Exoplanet Termuda

Ilustrasi Exoplanet BD+20 1790b yang berusia 35 juta tahun. Kredit : M. Hernan - Obispo

Kali ini, para peneliti dari University of Hertfordshire, Dr Maria Cruz Gلlvez-Ortiz dan Dr John Barne berhasil menemukan exoplanet termuda yang mengitari bintang serupa Matahari, yakni exoplanet BD+20 1790b. Planet yang satu ini masih terhitung planet raksasa dengan massa 6 kali massa Jupiter dan baru berusia 35 juta tahun. Ini benar-benar menarik, karena ia baru saja melewati masa awal pembentukan planet dan tentu masih “segar” untuk memberikan informasi pembentukannya.

BD+20 1790b mengorbit sebuah bintang muda yang aktif pada jarak yang lebih dekat dari jarak Merkurius ke Matahari. Dalam pencarian planet, bintang-bintang muda biasanya tidak disertakan karena pada umumnya mereka memiliki medan magnet yang kuat yang memicu terjadinya aktivitas bintang seperti, flare dan bintik. Nah, biasanya aktivitas seperti ini tampak menipu pengamat sehingga flare ataupun bintik justru dianggap pasangan yang tengah mengorbit si bintang. Akibatnya sulit untuk bisa menguraikan mana yang merupakan sinyal dari si planet dan mana yang merupakan aktivitas bintang.

Pendeteksian exoplanet BD+20 1790b menurut Dr. Maria Cruz Gلlvez-Ortiz dilakukan dengan menari perubahan yang sangat kecil pada kecepatan bintang induk yang disebabkan oleh gangguan gravitasi si planet saat ia mengorbit. Teknik ini memang umum digunakan dalam pencarian exoplanet dan dikenal sebagai teknik Doppler. Yang menyulitkan adalah gangguan itu demikian kecil dan harus bisa dibedakan dari aktivitas bintang yang terjadi disana. Namun dengan data yang cukup, akhirnya si exoplanet ini pun bisa terungkap keberadaannya.

Evolusi Exoplanet
Usia exoplanet BD+20 1790b yang masih snagat muda tentunya memberi harapan pada para astronom untuk mengungkap asal usul pembentukan planet dan evolusi awal pembentukan planet. Apalagi sampai saat ini, pengetahuan akan evolusi awal planet masih minim dan penuh misteri. Sebagian besar planet yang selama ini ditemukan dan dicari rata-rata mengitari bintang tua dan umur mereka pun sudah melampaui milyaran tahun.

Sebelum exoplanet BD+20 1790b, sudah juga ditemukan exoplanet dengan usia 100 juta tahun. Penemuan BD+20 1790b yang baru berusia 35 juta tahun ini justru hanya sepertiga lebih muda dari exoplanet sebelumnya. Penemuan exoplanet BD+20 1790b yang menggunakan berbagai teleskop di Observatorio de Calar Alto (Almerيa, Spain) dan Observatorio del Roque de los Muchachos (La Palma, Spain) selama 5 tahun terakhir akan menjadi sumber informasi sekaligus bahan uji coba berbagai skenario pembentukan planet yang ada saat ini.

Tak hanya itu, keberadaan exoplanet BD+20 1790b juga merupakan obyek yang dapat digunakan untuk menyelidiki tahap awal evolusi planet.

Exoplanet Termuda di Bintang Muda

Ditulis oleh ivie

Mengikuti perjalanan penemuan extrasolar planet memang sangat menarik. Penemuan yang terjadi sejak tahun 1995 menunjukkan betapa banyaknya planet di luar Tata Surya ini yang tengah mengitari bintang mereka masing-masing. Dan setiap penemuan tentunya memberi kejutan dan keunikan tersendiri.

Dunia pernah dikejutkan dengan penemuan planet Gliese 581 c yang jadi planet super bumi pertama yang ditemukan sekaligus yang pertama kali diperkirakan memiliki zona laik huni seperti halnya Bumi. Semenjak itu, ditemukan juga planet-planet lainnya yang diperkirakan memiliki potensial untuk terjadinya kehidupan.

Penemuan Exoplanet Termuda

Ilustrasi Exoplanet BD+20 1790b yang berusia 35 juta tahun. Kredit : M. Hernan - Obispo

Kali ini, para peneliti dari University of Hertfordshire, Dr Maria Cruz Gلlvez-Ortiz dan Dr John Barne berhasil menemukan exoplanet termuda yang mengitari bintang serupa Matahari, yakni exoplanet BD+20 1790b. Planet yang satu ini masih terhitung planet raksasa dengan massa 6 kali massa Jupiter dan baru berusia 35 juta tahun. Ini benar-benar menarik, karena ia baru saja melewati masa awal pembentukan planet dan tentu masih “segar” untuk memberikan informasi pembentukannya.

BD+20 1790b mengorbit sebuah bintang muda yang aktif pada jarak yang lebih dekat dari jarak Merkurius ke Matahari. Dalam pencarian planet, bintang-bintang muda biasanya tidak disertakan karena pada umumnya mereka memiliki medan magnet yang kuat yang memicu terjadinya aktivitas bintang seperti, flare dan bintik. Nah, biasanya aktivitas seperti ini tampak menipu pengamat sehingga flare ataupun bintik justru dianggap pasangan yang tengah mengorbit si bintang. Akibatnya sulit untuk bisa menguraikan mana yang merupakan sinyal dari si planet dan mana yang merupakan aktivitas bintang.

Pendeteksian exoplanet BD+20 1790b menurut Dr. Maria Cruz Gلlvez-Ortiz dilakukan dengan menari perubahan yang sangat kecil pada kecepatan bintang induk yang disebabkan oleh gangguan gravitasi si planet saat ia mengorbit. Teknik ini memang umum digunakan dalam pencarian exoplanet dan dikenal sebagai teknik Doppler. Yang menyulitkan adalah gangguan itu demikian kecil dan harus bisa dibedakan dari aktivitas bintang yang terjadi disana. Namun dengan data yang cukup, akhirnya si exoplanet ini pun bisa terungkap keberadaannya.

Evolusi Exoplanet
Usia exoplanet BD+20 1790b yang masih snagat muda tentunya memberi harapan pada para astronom untuk mengungkap asal usul pembentukan planet dan evolusi awal pembentukan planet. Apalagi sampai saat ini, pengetahuan akan evolusi awal planet masih minim dan penuh misteri. Sebagian besar planet yang selama ini ditemukan dan dicari rata-rata mengitari bintang tua dan umur mereka pun sudah melampaui milyaran tahun.

Sebelum exoplanet BD+20 1790b, sudah juga ditemukan exoplanet dengan usia 100 juta tahun. Penemuan BD+20 1790b yang baru berusia 35 juta tahun ini justru hanya sepertiga lebih muda dari exoplanet sebelumnya. Penemuan exoplanet BD+20 1790b yang menggunakan berbagai teleskop di Observatorio de Calar Alto (Almerيa, Spain) dan Observatorio del Roque de los Muchachos (La Palma, Spain) selama 5 tahun terakhir akan menjadi sumber informasi sekaligus bahan uji coba berbagai skenario pembentukan planet yang ada saat ini.

Tak hanya itu, keberadaan exoplanet BD+20 1790b juga merupakan obyek yang dapat digunakan untuk menyelidiki tahap awal evolusi planet.

Penemuan Objek Masif: Planet atau Bintang Gagal?

Ditulis oleh ivie


Sebuah objek masif seukuran planet kembali ditemukan oleh COROT (Convection, Rotation and Planetary Transits) tengah mengorbit bintang induknya pada jarak yang sangat dekat. Tak seperti planet-planet yang telah dideteksi sebelumnya, planet yang satuu ini cukup unik sehingga para peneliti pun tak yakin apakah objek yang sangat eksotik ini merupakan planet ataukah bintang gagal.
Perbandingan relatif antara Jupiter dan COROT-exo-3b. Kredit : OAMP
Perbandingan relatif antara Jupiter dan COROT-exo-3b. Kredit : OAMP

Objek yang dinamai COROT-exo-3b ini seukuran Jupiter namun memiliki massa sekitar 20 massa Jupiter. Bagaimana dengan periodenya? COROT-exo-3b hanya membutuhkan waktu 4 hari + 6 jam untuk mengelilingi induknya yang sedikit lebih besar dari Matahari.

COROT-exo-3b ditemukan saat COROT melihat redupnya cahaya bintang setiap kali objek kecil (COROT-exo-3v) melintasi permukaan bintang.

Yang menarik, dalam sejarah pencarian exoplanet, planet dengan periode orbit kurang dari 10 hari dan mengorbit dekat dengan bintang induknya telah berlangsung hampir 15 tahun. Selama itu, para peneliti telah bertemu dengan planet yang massanya 12 massa Jupiter dan bintang yang 70 kali lebih masif dari Jupiter, namun tidak ada yang berada pada rentang antara. Inilah yang menyebabkan COROT-exo-3b yang bermassa 20 kali massa Jupiter mejadi unik. Apakah ia adalah planet ataukah sebuah bintang yang gagal terbentuk?

Apa itu bintang gagal? Bintang gagal yang sering diklasifikasi sebaga bintang katai coklat merupakan objek sub bintang yang gagal membangkitkan reaksi fusi di intinya, namun masih memiliki ciri-ciri sebagai sebuah bintang. Tapi bisa jadi si planet baru ini merupakan sebuah objek langka yang ditemukan karena sebuah keberuntungan.

Jadi COROT-exo-3b bukan planet? Belum tentu. Planet kecil ini bisa jadi merupakan anggota keluarga planet yang sangat masif yang mengelilingi bintang yang lebih masif dari Matahari. Sebuah asumsi baru dimunculkan yakni, semakin masif sebuah bintang, maka planet yang mengitarinya juga semakin masif.

Menurut Dr. Hans Deeg dari Instituto de Astrofisica de Canarias (IAC), penemuan objek baru ini sangat penting buat para pemburu planet karena keberadaannya akan dapat membantu dalam memberikan batasan antara planet dan bintang katai coklat.

Jika COROT-exo-3b adalah sebuah planet, maka ia adalah planet paling masif di antara exoplanet yang sudah ada, dengan kerapatan 2 kali dari kerapatan exoplanet paling rapat saat ini. Mempelajari si planet ini akan memberi gambaran bagaimana sebuah objek yang sangat masif bisa terbentuk sangat dekat dengan bintang induknya.

Sumber : LABEB on admin

Molekul Organik Ditemukan di Exoplanet

Ditulis oleh LABEB on admin


Jauh di luar Tata Surya, telah ditemukan sekitar 400 exoplanet. Pertanyaan menarik yang muncul, apakah mungkin ada planet yang bisa mendukung kehidupan? kalaupun ada apakah di sana ada kehidupan?Para peneliti NASA berhasil mendeteksi senyawa kimia organik di planet gas yang sangat panas. Namun demikian, planet gas ini bukanlah planet yang dapat dihuni meskipun ia memiliki komponen kimia yang jika ditemukan di planet batuan di masa depan, maka planet itu bisa mengindikasikan adanya kehidupan.


Menurut Mark Swain dari NASA JPL, Pasadena, Calif, “planet gas ini merupakan planet kedua di luar Tata Surya yang memiliki air, metana dan karbon dioksida dan memiliki potensi untuk terjadinya proses biologi di sebuah planet yang dapat dihuni.” Dengan dideteksinya komponen organik di dua exoplanet justru meningkatkan kemungkinan keberadaan senyawa organik di exoplanet lainnya. Bukan tak mungkin komponen organik menjadi hal umum yang bisa ditemukan di planet.

Hasil penelitian Swain dan rekan-rekannya didapat dari data Tleskp Hubble dan teleskop Spitzer yang mengamati HD 209458b, planet gas raksasa yang lebih besar dari jupiter dan mengorbit bintang serupa Matahari pada jarak 150 tahun cahaya di rasi Pegasus. Sebelumnya, di tahun 2008 mereka juga berhasil menemukan karbon dioksida di planet gas seukuran Jupiter lainnya, HD 189733b. Tak hanya itu, pengamatan awal yang dilakukan Hubble dan Spitzer di kedua planet juga mengungkap keberadaan uap air dan metana.

Pendeteksian dilakukan dengan pengamatan spektroskopi yang dapat memisahkan cahaya ke dalam komponen-komponennya untuk mengungkap tanda-tanda khusus dari setiap komponen kimia yang berbeda. Data dari kamera Hubble dan spektrometer multi obyek mengungkap keberadaan molekul, sedangkan data fotometer Spitzer dan spektrometer inframerah mengukur jumlah kandungannya.

Penelitian ini menunjukkan kalau pendeteksian molekul yang menjadi materi dalam proses kehidupan memang memungkinkan. Saat ini, dari data yang ada, para astronom sudah dapat memulai untuk membandingkan kedua planet tersebut khususnya untuk melihat perbedaan dan kemiripan yang ada di atmosfer. Contohnya, jumlah kelimpahan relatif air dan karbon dioksida di kedua planet memiliki kemiripan, namun HD 209458b memiliki kelimpahan metana yang lebih besar dibanding HD 189733b. Kelimpahan metana ini bisa jadi memiliki arti yang penting dalam pembentukan planet tersebut.

Hal lain yang penting, misi Kepler diperkirakan akan mulai menemukan planet batuan dan diyakini dalam 1 dekade ke depan kita akan bisa menemukan tanda-tanda dari kimia organik di planet batuan tersebut. Tapi yang perlu diingat juga, pendeteksian molekul kimia organik tidak selalu berarti akan ada kehidupan di planet batuan itu. Keberadaan molekul kimia organik tersebut justru dapat memberikan pemahaman yang lebih jauh untuk mengtahui bagaimana planet tersebut mengeliminasi proses yang bukan kehidupan yang dapat memimpin terbentuk molekul kimia organik untuk ada di planet itu.

Lumeria

Lemuria/Mu merupakan peradaban kuno yg muncul terlebih dahulu sebelum peradaban Atlantis.Para peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar periode 75000 SM - 11000 SM.Jika kita lihat dari periode itu,Bangsa Atlantis dan Lemuria seharusnya pernah hidup bersama selama ribuan tahun lamanya.
Gagasan Benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-1908),seorang peneliti dan penulis pada abad ke -19 yang mengadakan penelitian terhadap situs2 purbakala peninggalan Bangsa Maya di Yucatan.
Informasi tsb diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya.
Dari hasil terjemahan,diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka (Atlantis).Namun dikatakan juga,bahwa mereka pernah hidup dalam periode waktu yang sama, sebelum kemudian sebuah bencana gempa bumi dan air bah dasyat meluluh lantahkan dan menenggelamkan kedua peradaban maju masa silam tersebut.

Hingga saat ini,letak dari Benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi,namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti,kemungkinan besar peradaban tsb berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang).
Banyak arkeolog memepercayai bahwa Easter Island yang misterius itu merupakan bagian dari Benua Lemuria.Hal ini jika dipandang dari ratusan patung batu kolosal yang mengitari pulau dan beberapa catatan kuno yang terukir pada beberapa artifak yang mengacu pada bekas-bekas peninggalan peradaban maju pada masa silam.(artikel Easter Island juga dapat dibaca di blog ini)
Mitologi turun temurun para suku Maori dan Samoa yang menetap dipulau-pulau disekitar Samudera Pasifik juga menyebutkan bahwa dahlulu kala pernah ada sebuah daratan besar besar di Pasifik yang yang hancur diterjang oleh gelombang pasang air laut dasyat (tsunami),namun sebelumnya bangsa mereka telah hancur terlebih dahulu akibat peperangan.

Keadaan Lemuria sendiri digambarkan sangat mirip dengan peradaban Atlantis,memiliki tanah yang subur,masyarakat yang makmur dan penguasaan terhadap beberapa cabang ilmu pengetahuan yang mendalam.
faktor-faktor tersebut tentunya menjadi sebuah landasan pokok bagi Bangsa Lemuria untuk berkembang pesat menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak ahli/ilmuwan yang dapat menciptakan suatu trobosan baru dalam Ilmu pengetahuan dan Teknologi mereka.
Seperti banyak dikemukakan oleh beberapa pakar spiritual dan arkeologi ,bahwa bangsa Lemurian dan Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Edgar Cayce,Seorang spiritualis Amerika melalui channelingnya berkali2 mengungkapkan hal yang sama.
Kuil2 Lemuria dan Atlantis menempatkan sebuah crystal generator raksasa yang dikelilingi crystal2 lain, baik sebagai sumber tenaga maupun guna berbagai penyembuhan.
Banyak info mengenai atlantis dan lemurian diperoleh dengan men-channel crystal2 'old soul' yang pernah digunakan pada kedua jaman ini.

Namun, berbeda dengan bangsa Atlantis yang lebih mengandalkan fisik,teknologi dan gemar berperang,Bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi,sangat damai dan bermoral.
Menurut Edgar Cayce,munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat begitulah) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa didunia,diantaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik,invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan.
Karena sifat dari Lemurian yang menjunjung tinggi konsep perdamaian,mereka tidak dibekali dengan teknologi perang secanggih bangsa Atlantean,sehingga dalam sekejap,Lemuria pun jatuh ketangan Atlantis.
Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak,ahirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi,mungkin keberadaan mereka saat ini belum kita ketahui (ada yang mengatakan saat ini mereka tinggal di Planet Erra/Terra digugus bintang Pleiades,baca artikel Nordic Alien di Blog ini juga .
Mungkin kisah para Lemurian yang meninggalakan bumi untuk menetap diplanet lain ini sedikit tidak masuk akal,tapi perlu kita ketahui bahwa teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju,penguasaan teknologi penjelajahan luar angkasa mungkin telah dapat mereka realisasikan dijauh2 hari.Tentunya penguasaan teknologi yang sama pada era peradaban kita ini,belum bisa disandingkan dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan.(Baca artikel Piri Reis Map sebagai bahan pertimbangan).

Dari sekelumit kisah yang aq uraikan diatas,dapat ditarik kesimpulan bahwa para Lemurian tidak musnah oleh bencana gempa bumi dan air bah seperti yang dialami oleh para Atlantean,namun karena peranglah yang membuat sebagain dari mereka berguguran.
Sementara semenjak kekalahannya oleh bangsa Atlantis,otomatis wilayah Lemuria dikuasai oleh para Atlantean,sampai saat ahirnya daratan itu diterpa oleh bencana yang sangat dasyat yang kemudian menenggelamkannya bersama beberapa daratan lainnya,termasuk diantaranya Atlantis itu sendiri.

Atlantik

Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno:
Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus.

Pada buku Timaeus, Plato berkisah: Di hadapan “Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. negara besar yang mempunyai peradaban tinggi itupun lenyap dalam semalam.”

Satu bagian dalam dialog buku Critias, tercatat kisah Atlantis yang dikisahkan oleh adik sepupu Critias.
Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates , tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog.Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon ( 639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis. Catatan dalam dialog, secara garis besar seperti berikut ini:

“Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya: istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertakhtakan emas,cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.”

ATLANTIS digambarkan sebagai peradaban dengan tingkat kemajuan teknologi yang tinggi.Konon,Pesawat Terbang,Pendingin ruangan,batu baterai,dll telah ada pada masa itu

Penyelidikan Arkeolog
Menurut perhitungan versi Plato, waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benarnyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

*Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

*Awal tahun ‘70-an, sekelompok peneliti telah tiba di sekitar kepulauan Yasuel, Samudera Atlantik. Mereka telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

*Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia! Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

*Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.

Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah Piramida berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

*Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil,bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan: “Mutlak percaya, yang kami temukan adalah Benua Atlantik! Sama persis seperti yang dilukiskan Plato!” Benarkah itu?

Foto peninggalan bangunan kuno di dasar laut yang diambil tim ekspedisi Rusia, juga tidak dapat membuktikan di sana adalah bekas tempat kerajaan Atlantis. Setelah itu ada tim ekspedisi menyelam ke dasar samudera jalan batu di dasar lautan Atlantik Pulau Bimini, mengambil sampel “jalan batu” dan dilakukan penelitian laboratorium serta dianalisa.
Hasilnya menunjukkan, bahwa jalan batu ini umurnya belum mencapai 10.000 tahun. Jika jalan ini dibuat oleh bangsa kerajaan Atlantis, setidak-tidaknya tidak kurang dari 10.000 tahun. Mengenai foto yang ditunjukkan kedua kelasi Norwegia itu, hingga kini pun tidak dapat membuktikan apa-apa.

Satu-satunya kesimpulan tepat yang dapat diperoleh adalah benar ada sebuah daratan yang karam di dasar laut Atlantik. Jika memang benar di atas laut Atlantik pernah ada kerajaan Atlantis, dan kerajaan Atlantis memang benar tenggelam di dasar laut Atlantik, maka di dasar laut Atlantik pasti dapat ditemukan bekas-bekasnya. Hingga saat ini, kerajaan Atlantis tetap merupakan sebuah misteri sepanjang masa.
Pernah sekitar thn 2003 lalu, nonton acara di Metro TV yang judulnya Ultimate 10,pada saat itu membahas 10 Tempat Paling Misterius di Dunia,dan ternyata Atlantis duduk pada urutan pertama diatas Misteri Segitiga Bermuda dan Danau Loch.Dari situ aq baru tahu,klo Atlantis memang Tempat Misterius nomor satu yang membuat orang-orang di dunia penasaran setengah mati.Pada saat penayangan Atlantis,diputar sebuah film dokumenter mengenai pelacakan benua yang hilang tersebut oleh para tim arkeolog.Dan benar,dari kesaksian didasar laut perairan dangkal Karibia ditemukan semacam jalan setapak yang sangat panjang dengan struktur yang sangat modern.

Filed under: LABEB on admin

apa wehh

haha singruy ...
maaf saya masih amatiran dalam membuat dan mengelola blog