Sabtu, 05 Maret 2011

Benarkah Ada Planet Raksasa Yang Bersembunyi di Awan Oort ?


Ada planet baru di Tata Surya dan ia berada jauh di bagian terluar Tata Surya di awan Oort. Itulah berita yang dicetuskan oleh duo ilmuwan yang berkecimpung dalam dunia keplanetan dari University of Lousiana-Lafayette.

Kandidat Planet ke-9?

Dewi Tyche.

Adalah John Matese dan Daniel Whitmire yang dalam penelitiannya melihat ada gangguan pada orbit komet-komet di awan Oort. Nah, dari apa yang mereka lihat inilah, disimpulkan bahwa ada sebuah obyek besar yang berupa sebuah planet di awan Oort yang gravitasinya mengganggu orbit komet yang berasal dari awan Oort. Analisa ini sudah dikemukakan sejak tahun 1999.

Analisa ini muncul setelah mereka melihat komet yang berasal dari awan Oort memiliki orbit yang janggal dan tidak sesuai dengan teori bagaimana seharusnya komet bergerak. Pada awalnya mereka mengemukakan ide bahwa gangguan itu disebabkan oleh bintang katai coklat atau katai merah redup yang merupakan bintang pasangan Matahari yang disebut Nemesis. Ide tentang Nemesis ini sendiri sudah dibantah secara luas.

Di tahun 2011, John dan Daniel kembali mengemukakan analisa mereka dengan sebuah analisa baru kalau si obyek besar di awan Oort itu adalah sebuah kandidat planet yang 4 kali lebih besar dari planet Jupiter dan berada 15000 kali jarak Bumi-Matahari dan 375 kali lebih jauh dari Pluto. Idenya, planet raksasa inilah yang menjadi jawaban mengapa komet periode panjang tampak mengelompok pada pita yang yang cenderung ellips dan bukannya datang dari arah yang acak. Tapi jaraknya yang sangat jauh itulah yang menyebabkan planet yang dinamakan Tyche ini belum terlihat.

Menurut Matese, “Apa yang baru adalah, polanya yang tetap sama dan ada kemungkinan bahwa ini suatu kebetulan statistik, namun kemungkinan itu semakin berkurang dengan adanya data yang dikumpulkan dalam 10 tahun terakhir.”

Menurut John Matese dan Daniel Whitmire, si planet Tyche tersebut sudah bisa dibuktikan keberadaannya, karena teleskop landas angkasa WISE milik NASA diperkirakan sudah melihatnya dan sudah siap untuk dianalisa. Dikatakan juga data pertama dari planet tersebut akan dirilis bulan April, dan setelah si kandidat planet Tyche bisa diketahui lokasinya maka semua teleskop akan mengarah kesana.

Di sisi lain, spektrum yang dilihat Matese juga masih tidak dapat dipastikan dan diperkirakan memiliki banyak sinyal yang serupa dengan yang diharapkan sebagai obyek yang mereka duga. Jadi untuk mengetahui kepastiannya, dibutuhkan waktu dan bisa jadi membutuhkan waktu selama 2 tahun sebelum sinyal dari Tyche – jika memang ada – bisa diketahui keberadaannya.

Nama Tyche sendiri merupakan nama dewi Yunani, Tyche yang bertanggungjawab atas nasib sebuah kota. Tyche dalam mitologi Yunani merupakan saudari Nemesis, yang selama ini dikaitkan sebagai bintang pasangan fiktif Matahari dan digadang-gadang akan muncul dan menyebabkan kiamat di tahun 2012.

Pertanyannya, benarkah ada penemuan kandidat planet baru oleh WISE saat ini?

Benarkah ada planet yang bersembunyi?
Setelah berita tersebut beredar selama beberapa hari, teleskop WISE pun secara resmi memberikan pernyataannya.

Dalam pernyataannya, WISE menyebutkan, “Ada banyak desas desus di berita tentang WISE menemukan planet baru. Tidak benar. Sepasang ilmuwan mempublikasikan makalah mereka dan menyatakan jika ada planet besar di area luar Tata Surya, maka WISE pasti sudah melihatnya. Ini benar. Tapi dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menganalisa dan menentukan jika WISE memang mendeteksi obyek tersebut atau tidak”

Berbagai tanggapan pun muncul dari para ilmuwan yang berkiprah dalam bidang keplanetan. Dan tidak semua orang cukup optmis dan yakin dengan dugaan keberadaan planet raksasa lebih besar dari Jupiter di awan oort tersebut.

Area Tata Surya. kredit : NASA

Matthew Holman, ilmuwan keplanetan dari Harvard Smithsonian Institute of Astrophysics mengatakan, “berdasar pada paper lama yang telah saya lihat, pada komet periode panjang yang datang dari langit, dan menemukan penanda adanya gangguan besar pada awan Oort, saya tidak terpengaruh oleh bukti tersebut”

Hal Levison, salah seorang pakar dalam sistem keplanetan dari Southwest Reasearch Institute di Boulder, Colo, yang juga menulis paper mengenai awan Oort di Majalah Science menyokong pendapat tersebut.

Levison yang melakukan riset mengenai dinamika obyek astronomi dengan fokus pada perilaku jangka panjang dari obyek-obyek di Tata Surya mengatakan, “Saya belum membaca versi terbaru dari paper tersebut yang disebut memiliki statistik lebih baik dari yang sebelumnya, dimana mereka juga menyatakan sudah melihat bukti keberadaan obyek tersebut. Tapi dari paper sebelumnya, saya pikir mereka melakukan perhitungan statistik yang salah. Klaim yang luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa dan saya meyakini dia tidak memahami bagaimana melakukan perhitungan statistik dengan benar.”

Matese mengklaim kalau ia melihat ekses kedatangan komet dari lokasi tertentu, yang ia katakan sebagai efek gravitasi planet besar di awan Oort. Ide ini tidak sepenuhnya salah namun menurut Levison, sinyal yang diklaim Matese sebagai planet itu hampir tidak kentara atau sinyalnya sangat lemah, dan secara statistik tidaklah signifikan.

Pendapat yang serupa juga datang dari Mike Brown, ahli keplanetan yang menemukan Eris, Haumea, Sedna dan Makemake. Kepada Universe Today, Mike mengemukakan kemungkinan keberadaan sebuah planet yang berada pada jarak 500 kali lebih jauh dari Neptunus itu memungkinkan dan merupakan ide yang membangkitkan keingintahuan yang bahkan sudah dispekulasikan selama bertahun-tahun.

Tapi benarkah ada bukti keberadaannya?

Menurut Mike, data yang dimiliki Matese dan Whitmere tidak cukup kuat dan itu bukan kesalahan mereka karena data tersebut hanya berupa rekam jejak asal kedatangan komet. Tidak setiap orang mampu memahami seluk beluk set data dengan sangat baik untuk bisa mengambil kesimpulan yang kuat. Tapi lagi menurut Mike, Matese dan Whitmere sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa lakukan untuk melihat bahwa data tersebut menunjuk pada sesuatu yang ada di luar sana.

Akan tetapi data yang ada tidak cukup untuk bisa meyakinkan Mike Brown untuk meyakini bahwa memang ada planet sebesar itu di awan Oort. Selain itu tidak ada bukti pendukung lain yang bisa menyatakan bahwa si planet itu memang ada.

Tapi para ilmuwan ini meyakini WISE memiliki kesemptan yang bagus untuk bisa mendeteksi obyek seperti itu di area terluar Tata Surya – jika ada. Dan tentunya ini akan menjadi data yang ditunggu jika memang kandidat planet seperti itu ada. WISE akan melihatnya bukan karena ada prediksi tentang planet ini melainkan karena memang area tersebut merupakan area tidak dikenal di Tata Surya yang harus dilihat.

Jadi tidak ada planet ke-9 atau planet baru bernama Tyche, karena kandidatnya pun belum diketahui keberadaannya. Yang ada hanya sebuah prediksi dengan data yang analisanya juga masih diragukan oleh para ilmuwan lainnya.

Berita penemuan planet ke-9 bernama Tyche dan berita IAU akan mengumumkan statusnya adalah HOAX.

Referensi : Universe Today, Space

Pembentukan Planet Baru di T Chamaeleon?

Dengan menggunakan Very Large Telescope milik ESO, tim peneliti internasional dari Max Planck Institute for Astronomy, Heidelberg, Germany berhasil mempelajari piringan materi yang memiliki waktu hidup pendek di sekitar bintang muda yang sedang berada pada tahap awal pembentukan sistem keplanetan.

Pasangan di Bintang T Chamaeleon

Ilustrasi piringan di sekitar bintang muda T Cha. kredit : ESO/L. Calçada

Apa yang menarik dari penemuan ini? Setelah bertahun-tahun, kini para peneliti exoplanet bisa mendeteksi obyek kecil yang menyebabkan terjadinya gap besar yang ditemukan dalam piringan. Apakah si obyek ini planet atau bintang katai coklat, para peneliti masih harus mempelajarinya lebih lanjut.

Planet terbentuk dari piringan material yang ada di sekitar bintang muda, tapi transisi dari piringan debu menjadi sistem keplanetan biasanya terjadi sangat cepat dan biasanya pada fase ini ada beberapa obyek yang tertangkap. Nah salah satu obyek tersebut adalah T Chamaeleontis (T Cha), sebuah bintang redup yang berada di konstelasi Chamaeleon. Bintang ini mirip Matahari tapi sedang berada pada tahap awal evolusinya aka masih sangat muda atau baru memulai kehidupannya.

T Cha berada pada jarak 350 tahun cahaya dari Bumi dan baru berusia 7 juta tahun. Yang membuatnya jadi unik adalah karena sampai saat ini belum ada pembentukan planet yang berhasil dideteksi dalam piringan transisi meskipun planet yang berada pada piringan debu yang lebih tua sudah pernah terlihat sebelumnya di Beta Pictoris.

Pengamatan T Cha
Studi awal yang dilakukan pada T Cha menunjukkan bahwa ia merupakan target yang tepat untuk mempelajari pembentukan sistem keplanetan. Yang menjadi masalah, bintang ini berada cukup jauh dan dibutuhkan kemampuan yang sangat tinggi dari Very Large Telescope Interferometer (VLTI) untuk bisa memperlihatkan dan memisahkan setiap detil dengan sangat baik untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi dalam piringan debu tersebut.

T Cha pertama kali diamati dengan menggunakan instrumen AMBER dan VLT Interferometer (VLTI). Dalam penglihatan instrumen tersebut, sebagian piringan materi membentuk cicin debu tipis yang hanya berjarak 20 juta km dari bintang.

Di luar piringan bagian dalam, ditemukan area tanpa debu dengan bagian terluar dari piringan merentang sampai 1,1 milyar km dari bintang.

Menurut Nuria Huélamo (Centro de Astrobiología, ESAC, Spanyol), peneliti lainnya dalam studi T Chamaeleon, gap yang ada dalam piingan debu di sekitar T Cha seperti senjata berasap yang memunculkan pertanyaan mungkinkah para peneliti ini sedang menjadi saksi dari pasangan yang membentuk gap di dalam piringan protoplanet?

Untuk bisa menemukan pasangan yang redup dan berada demikian dekat dengan bintang terang jelas memberikan tantangan tersendiri. Tim peneliti ini menggunakan instrumen NACO pada VLT untuk bisa mencapai tujuan mereka.

Hasil analisa menunjukkan kalau tim peneliti tersebut menemukan tanda keberdaan sebuah obyek di dalam gap piringan debu pada jarak 1 milyar km dari bintang atai sedikit lebih jauh dari jarak Matahari-Jupiter di Tata Surya dan si obyek ini berada dekat dengan tepi terluar gap.

Penemuan ini menandai pertama kalinya dideteksi sebuah obyek yang lebih kecil dari bintang dalam gap piringan debu pembentukan planet di sekeliling bintang muda. Bukti yang ada menunjukkan, obyek pasangan tersebut bukanlah bintang normal tapi bisa jadi ia merupakan bintang katai coklat yang dikelilingi debu ataukah yang lebih menarik lagi, sebuah planet yang baru terbentuk.

Dibutuhkan observasi lanjutan di masa depan untuk mengetahui apakah obyek yang baru ditemukan itu sekaligus untuk memahami apakah yang menjadi bahan bajar bagi bagian dalam piringan debu tersebut.

Sumber:ESO

Berpacu Dengan Waktu Mengkonfirmasi Asteroid

Teleskop Pan-STARRS PS1 di Haleakala, Maui berhasil menemukan 19 asteroid dekat Bumi pada malam tanggal 29 Januari. Istimewanya, inilah asteroid terbanyak yang ditemukan oleh 1 teleskop dalam 1 malam.
Tapi apa pentingnya mengkatalogkan asteroid tersebut?

Penemuan Asteroid

asteroid dekat Bumi.

Asteroid merupakan benda berukuran lebih kecil tapi lebih besar dari meteorit yang berada di area dalam Tata Surya. Astroid juga dikenal sebagai planet yang gagal terbentuk. Di Tata Surya, asteroid menempati area yang disebut Sabuk Utama asteroid di antara Mars dan Jupiter, namun ada juga asteroid yang berkeliaran di antara Mars dan Bumi. Dan asteroid yang ada dekat Bumi inilah yang memiliki potensi berpapasan sangat dekat dengan Bumi atau malah bisa menabrak Bumi.

Katalog asteroid dekat Bumi menjadi penting bagi para ilmuwan karena dari data yang ada mereka bisa menyusun skenario kemungkinan masa depan kehidupan di Bumi jika salah satu batuan ini menabrak Bumi. Dan juga bisa memberi informasi kapan si batuan ini berpapasan dengan Bumi.

Teleskop Pan-STARRS PS1 milik University of Hawaii di Haleakala. kredit: Rob Ratkowski

Dalam satu malam pengamatan tersebut, Larry Denneau di University of Hawaii di Manoa menerima 30 kandidat asteroid dekat Bumi untuk diproses.

Asteroid bisa ditemukan karena mereka tampak bergerak terhadap bintang-bintang latar belakang. Untuk mengkonfirmasi bahwa memang yang ditemukan itu asteroid, para ilmuwan harus melakukan pengamatan berulang-ulang dalam waktu 12 – 72 jam untuk menentukan orbitnya. Kalau tidak maka mereka akan segera menghilang.

Setelah ditemukan, Denneau mengirimkan data penemuannya ke Minor Planet Center di Cambridge, Mass, agar astronom lainnya dapat melakukan pengamatan ulang obyek-obyek yang mereka lihat tersebut.

Biasanya, ada beberapa observatorium yang akan membantu mengkonfirmasi penemuan tersebut. Namun sayangnya, badai salju yang terjadi membuat observatorium tersebut tutup dan para peneliti ini harus berpacu untuk mengkonfirmasi sebagian penemuannya.

Richard Wainscoat dari Institute for Astronomy, David Tholen dan mahasiswa pasca sarjana Marco Micheli menghabiskan 3 malam untuk mencari asteroid-asteroid tersebut menggunakan teleskop di Mauna Kea Observatories, Hawaii. Pada hari minggu malam, mereka berhasil mengkonfirmasi 2 asteroid dekat Bumi sebelum turun salju di Mauna Kea. Dan di hari senin, mereka berhasil menemukan 9 asteroid sebelum kabut menghalangi pengamatan.

Di hari selasa malam, mereka mencari 4 asteroid lagi namun hanya menemukan satu. Dan setelah selasa, asteroid lainnya tidak dapat dikonfirmasi karena mereka sudah bergerak terlalu jauh untuk bisa ditemukan.

Sumber : Institute for Astronomy University of Hawaii