Selasa, 10 Agustus 2010

Apa itu Tsunami Matahari?

Beberapa hari yang lalu, ramai diberitakan di media mengenai adanya fenomena ‘tsunami Matahari’. Menghebohkan? Bagi masyarakat awam, tentunya cukup menyentak perhatian, terlebih lagi, dikarenakan trauma akan bencana alam, kata ‘tsunami’ tentu membuat kebanyakan kita menjadi khawatir.

Tetapi, seringkali penggunaan istilah yang berbeda pada khazanah yang berbeda bisa menyebabkan kesalahpahaman. Sudahlah menjadi kelumrahan alam, bahwa Matahari selalu menghasilkan fenomena yang sangat-sangat dahsyat, dengan lepasan energi yang sangat luar biasa, dalam istilah yang sudah sering didengar seperti: ledakan Matahari (solar flare), atau pelontaran massa korona (CME/Coronal Mass Ejection), adalah kata kunci yang dengan mudah kita temukan di internet. Tetapi, ‘tsunami Matahari’?

Kembali pada fenomena yang dahsyat di Matahari, fenomena ‘spektakular’ ini teramati semenjak pengamatan SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) mulai dilakukan di pertengahan tahun 90an, ketika terjadi pelontaran massa (CME), disertai adanya gelombang bergelora bagaikan tsunami. Tetapi apakah itu benar terjadi ‘tsunami’ di Matahari?

Tetapi, sebagaimana ilmu pengetahuan yang harus selalu mencari kepastian jawab, dibutuhkan pengamatan lebih baik, sampai dengan ketika pengamatan yang dilakukan oleh STEREO (Solar Terrestrial Relations Observatory), di tahun 2009 berhasil menunjukkan bahwa, menunjukkan bahwa benarlah itu terjadi ‘tsunami’ di Matahari.

Wahana STEREO adalah wahana kembar yang mengamati Matahari dari dua sisi berbeda, mendahului dan mengikuti Matahari, berbeda dengan SOHO yang berada di antara Bumi-Matahari (Gambar 1). Dengan demikian, maka pengamatan STEREO dapat menunjukkan bagaimana bila terjadi pelontaran massa di Matahari, dapat dikaji fisisnya dengan lebih baik.

Posisi si kembar STEREO, dibanding SOHO dapat menentukan keberadaan tsunami Matahari. Kredit : STEREO

Dengan melihat fenomena dari dua sisi, dapat diperlihatkan, ketika adanya gelombang yang muncul, ketika prominensa Matahari berosilasi akibat terkena hantaman gelombang, dan pada saat itu, kita dapat melihat bahwa ‘tsunami’ sedang terjadi dengan sangat kuat. DIkatakan sangat kuat, karena gelombang raksasa tersebut tersusun dari plasma panas dan bermedan magnet.

Kedua wahana tersebut terpisah sebesar 90 derajat pada saat fenomena tersebut terjadi. Gambar hijau diperoleh dari kamera SECCHI EUVI (Extreme Ultraviolet Imager), yang merekam atom besi yang terionisasi sebelas kali, dan berada pada panjang gelombang 195 ?, dengan temperatur mencapai 1,5 juta Kelvin. Sementar yang berwarna hijau adalah perekaman mempergunakan kamera SECCHI COR1, yang merekam cahaya permukaan Matahari yang terhamburkan oleh elektron bebas yang sangat-sangat terionisasi di wilayah korona Matahari.

Tsunami Matahari tidak memberikan dampak yang mengancam pada Bumi, tetapi dapat menjadi diagnosa pada kondisi pada Matahari. Selain itu, fenomena yang perlu diwaspadai adalah fenomena seperti ledakan (flare) dan CME, karena dengan mengetahui adanya tsunami, dapat memberi informasi pada ‘Cuaca Antariksa’. Dampak cuaca antariksa ini lebih dirasakan pada teknologi modern, seperti teknologi satelit, komunikasi dan navigasi. Di Indonesia, sudah ada lembaga yang menangani cuaca antariksa, yaitu LAPAN, sehingga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena itu semua adalah fenomena alam, disamping, ada fenomena-fenomena indah yang berkait dengan cuaca antariksa itu, seperti aurora (bagi mereka yang tinggal di lintang tinggi tentunya).

0 komentar: